• No se han encontrado resultados

Plounter Megazibe

N/A
N/A
rindaaul utamii

Academic year: 2022

Share "Plounter Megazibe"

Copied!
11
0
0

Texto completo

(1)

1 FORMULASI SEDIAAN GUMMY CANDIES EKSTRAK HERBA MENIRAN

(Phyllanthus niruri Linn)

GUMMY CANDIES OF MENIRAN (Phyllanthus niruri Linn) EXTRACT FORMULATION

Elliya Fitri Andriani, Sri Luliana, Desy Siska Anastasia

Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Untan Pontianak Email: [email protected]

ABSTRAK

Gummy candies merupakan suatu produk kembang gula yang mengandung komponen pembentuk gel seperti gelatin dan pektin untuk menghasilkan tekstur yang kenyal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi gelatin dan pektin terhadap karakteristik sifat fisik sediaan gummy candies ekstrak herba meniran (Phyllanthus niruri Linn.). Pembuatan sediaan gummy candies ekstrak herba meniran dibuat 5 formula dengan perbandingan konsentrasi gelatin dan pektin yang berbeda. Hasil penetapan kadar fenol total pada ekstrak etanol 80% herba meniran diperoleh 414,008 ± 4,645 mg AGE / g sampel.

Formula optimal yang terpilih pada penelitian ini adalah F3 dengan perbandingan konsentrasi gelatin dan pektin adalah 10% : 10% yang memiliki rerata nilai kekerasan 0,0813 Kg dan kekenyalan 0,523 mm. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi gelatin dan pektin tidak mempengaruhi karakteristik sifat fisik sediaan gummy candies.

Kata Kunci : Herba meniran (Phyllanthus niruri Linn), Gummy candies, Gelatin, Pektin, Analisis Tekstur, Sifat Fisik

ABSTRACT

Gummy candies are a confectionery product that contains gel-forming components such as gelatin and pectin to produce a chewy texture. This study aims to determine the effect of variations in the concentration of gelatin and pectin on the physical characteristics of the gummy candies meniran extract (Phyllanthus niruri Linn.). The preparation of gummy candies for meniran extract is made of 5 formulas with different ratio of gelatin and pectin concentrations. The result of determinant total phenolic content of meniran extract were 414, 008 ± 4,645 mg AGE / g sampel. The optimal formula chosen in this study is F3 with a ratio of gelatin and pectin concentrations 10% : 10% which has an average hardness value of 0.0813 kg and thickness of 0.523 mm. The conclusion of this study indicated that the differences in the concentration of gelatin and pectin did not affect the physical characteristics of the gummy candies preparation.

Keywords : Meniran (Phyllanthus niruri Linn), Gummy Candy, Gelatin, Pectin, Texture Analysis, Physical Properties..

PENDAHULUAN

Meniran merupakan Meniran (Phyllanthus niruri L.) merupakan salah satu tumbuhan obat yang telah lama digunakan secara turun-temurun di Indonesia untuk pengobatan berbagai penyakit. Meniran memiliki kandungan bioaktif antara lain lignan, filantin, hipofilantin, flavonoid glikosida dan tanin.(1) Salah satu efek farmakologis yang dimiliki oleh meniran ialah imunomodulator.(2) Khasiatnya sebagai imunomudulator telah terbukti dengan dipatenkannya meniran sebagai fitofarmaka Stimuno®.(3) Pemanfaatan tanaman meniran belum banyak dikembangkan menjadi berbagai bentuk sediaan. Saat ini pemanfaatan

(2)

2 tanaman meniran yang sudah beredar dipasaran hanya tersedia dalam bentuk teh celup, tablet, kapsul dan sirup.(4) Namun, untuk saat ini belum ada pemanfaatan tanaman meniran dalam bentuk sediaan gummy candies.

Gummy candies merupakan suatu sediaan yang memiliki tekstur kenyal dan rasa obat dapat ditutupi dengan baik karena menggunakan suatu pemanis dan perasa. Gummy candies dapat dibuat dalam berbagai bentuk yang menarik dengan metode cetak tuang.(5) Sediaan gummy candies memiliki karakteristik yang menyenangkan dengan bentuknya yang menarik, tekstur yang kenyal serta rasanya yang manis sehingga diharapkan pembuatan sediaan gummy candies ekstrak herba meniran ini lebih disukai oleh anak-anak.

Gummy candies memiliki karakteristik berupa sediaan dengan tekstur gel yang padat dan kenyal. Kekenyalan yang merupakan karakteristik yang paling penting dalam sediaan gummy candies. Kekenyalan ini dipengaruhi oleh bahan-bahan seperti basis gelatin dan gliserin dan bahan lainnya seperti pektin yang dapat meningkatkan kekenyalan pada sediaan.Pektin banyak dimanfaatkan terutama sebagai bahan pembentuk gel (gelling agent), pengental dan stabilizer dalam berbagai industri makanan, farmasi dan kosmetik.(6,7) Pektin dapat berperan sebagai zat pembentuk gel dalam larutan koloidal, serta sebagai thickener dan stabilizer,(8) sehingga dapat berfungsi sebagai gelling agent dan peningkat viskositas(9) pada sediaan gummy candies. Penelitian mengenai pembuatan sediaan herba meniran dalam bentuk sediaan gummy candies menggunakan basis gelatin dan pektin belum pernah dilakukan, sehingga berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian untuk melihat pengaruh perbandingan konsentrasi gelatin dan pektin terhadap karakteristik sifat fisik gummy candies seperti kekerasan dan kekenyalan sediaan.

METODE PENELITIAN Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah texture analyzer (T.A Plus Texture Analyzer), cetakan gummy candies, penangas air (Memmert WNB10), rotary evaporator (BUCHI R-100), oven listrik (Kirin), spektrofotometer UV-Vis, timbangan analitik (Ohaus tipe PA 2012), timbangan digital mini scale 100 g x 0,001 g (TN-series), pH meter (RoHS PH-009(I)A), wadah gummy candies, cawan penguap, sendok stainless steel, termometer dan alat-alat gelas (Iwaki; Pyrex®).

Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah simplisia herba meniran (CV.

Anugrah Herbal Alam), etanol 80%, gelatin, pektin, aquadest, propilen glikol, sirupus simpleks, sukralosa, asam sitrat, kalium sorbat, essens stroberi (Smelling Good®), pewarna makanan (CROSS®), NaCO3 10%, pereaksi Folin-Ciocalteu, aqua p.i dan gel silika.

Cara Kerja

Ekstraksi Herba Meniran

Ekstraksi herba meniran menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 80%.

Hasil ektraksi diperoleh ekstrak kental berwarna hitam, berbau khas dan rasa pahit. Nilai rendemen diperoleh dengan cara menimbang hasil berat akhir esktrak yang dihasilkan dibandingkan dengan berat awal serbuk simplisia sebelum ekstraksi. Rendemen ekstrak yang diperoleh pada penelitian ini yaitu sebesar 10,5% (B/B).

Penetapan Kadar Fenol Total

Penetapan kadar fenol total dengan metode Folin Ciocalteu dengan beberapa meodifikasi dan dengan asam galat (AGE) sebagai standar. Dibuat dan diambil sebanyak 1 mL larutan ekstrak herba meniran 100 μg/mL. Kemudian larutan uji ekstrak direaksikan

(3)

3 dengan Na2CO3 10% sebanyak 2 mL dan reagen folin ciocalteu yang telah diencerkan dengan aquadest 1:1 sebanyak 0,2 mL, lalu ditambahkan aqua p.i hingga tepat tanda batas labu ukur 5 mL dan dihomogenkan. Selanjutnya dilakukan pengukuran absorbansi menggunakan panjang gelombang maksimum 750,4 nm. Hasil pengukuran dinyatakan sebagai massa ekivalen asam galat tiap gram sampel (mg AGE/ g).(10)

Pembuatan Sediaan Gummy Candies Ekstrak Herba Meniran

Tabel 1. Formulasi Sediaan Gummy Candies Ekstrak Herba Meniran

Pembuatan sediaan gummy candies mengacu pada penelitian sebelumnya oleh Firdaus (2014) dengan modifikasi jenis basis yang digunakan.(11) Pembuatan dilakukan dengan cara yaitu, dikembangkan gelatin dalam aquadest hangat suhu ± 40°C, dan pektin pada aquadest (suhu ruang) dengan perbandingan gelatin atau pektin dan air 1:2, didiamkan selama ± 10 menit hingga gelatin dan pektin mengembang membentuk gel. Kemudian dilarutkan ekstrak meniran ke dalam propilen glikol (larutan A). Dilarutkan sukralosa, asam sitrat dan kalium sorbat ke dalam sirupus simpleks (larutan B). Setelah itu dicampurkan larutan A dan B, diaduk hingga homogen (larutan C). Dipanaskan gelatin dan pektin diatas penangas air dalam cawan penguap dengan suhu ± 40 – 50°C selama 5 menit sampai gel mencair. Dimasukkan larutan C ke dalam cawan penguap, terakhir tambahkan essens stroberi dan pewarna sambil terus diaduk hingga homogen. Formula diangkat dari penangas air dan dituang ke dalam cetakan gummy candies dengan ukuran cetakan ± 2 g untuk satu gummy. Kemudian didiamkan formula selama 2 x 24 jam pada suhu ruang (15-30°C) hingga formula membeku dan dapat dikeluarkan dari cetakan.

Evaluasi Sediaan Gummy Candies Ekstrak Herba Meniran Uji Organoleptis dan pH

Evaluasi organoleptis dilakukan dengan diamati gummy candies secara visual meliputi warna, bentuk, tekstur permukaan, aroma dan rasa keseluruhan gummy candies. Uji penetapan pH dilakukan dengan cara dicelupkan pH meter kedalam kedalam massa gel dari sediaan gummy candies sesaat sebelum formula diangkat dari penangas air dan dituang kedalam cetakan. Nilai pH sediaan diukur dengan melihat nilai pH yang tertera pada pH meter.

Bahan F1 F2 F3 F4 F5

Ekstrak herba meniran (%) 0,15 0,15 0,15 0,15 0,15

Gelatin (%) 20 15 10 5 0

Pektin (%) 0 5 10 15 20

Propilen glikol (%) 10 10 10 10 10

Sirupus simpleks(%) 25 25 25 25 25

Sukralosa (%) 0,075 0,075 0,075 0,075 0,075

Asam sitrat (%) 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3

Kalium sorbat(%) 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1

Essens stroberi 0,55 0,55 0,55 0,55 0,55

Pewarna 0,31 0,31 0,31 0,31 0,31

Aquadest (g) Add 50 g Add 50 g Add 50 g Add 50 g Add 50 g

(4)

4 Uji Keseragaman Bobot

Evaluasi keseragaman bobot ini dilakukan dengan cara sebanyak 20 gummy candies ditimbang, kemudian ditimbang satu per satu dengan neraca digital. Setelah itu dihitung nilai rata-rata, CV, Standar Deviasi (SD) dan persen penyimpangan bobot. Syarat dari evaluasi ini harus sesuai dengan tabel keseragaman bobot seperti yang tertera pada tabel persyaratan keseragaman bobot Farmakope Indonesia.(12)

Uji Kadar Air

Evaluasi kadar air dilakukan dengan cara dipanaskan cawan dalam oven suhu 100°C selama ± 1 jam dan didinginkan dalam desikator selama 20-30 menit, lalu cawan ditimbang (W0). Setelah itu dimasukkan 5 g gummy candies ke dalam cawan dan ditimbang (W1).

Cawan tersebut kemudian dipanaskan kembali di dalam oven suhu 100°C selama ± 1 jam dengan keadaan tutup terbuka selama 3 jam. Cawan didinginkan kembali dalam desikator selama 30 menit dan ditimbang. Lakukan pemanasan kembali selama 1 jam dan ulangi sampai perubahan berat antara pemanasan selama 1 jam mempunyai interval ≤ 2 mg (W2).

Kemudian dihitung persen kadar air. Hasil yang diperoleh harus sesuai dengan persyaratan SNI (2008) yaitu kadar air tidak lebih dari 20%. Kadar air dihitung secara gravimetrik menggunakan rumus perhitungan sebagai berikut: (13)

Kadar air = W1−W2

W1−W0x 100 %

Keterangan :

W0= Bobot cawan kosong dan tutupnya (g)

W1= Bobot cawan, tutupnya dan sampel sebelum dikeringkan (g) W2= Bobot cawan, tutupnya dan sampel setelah dikeringkan (g)

Uji Texture Profile Analysis (TPA)

Karakteristik tekstur sediaan dievaluasi menggunakan penganalisis tekstur model T.A Plus Texture Analyzer. Diambil satu gummy dari masing-masing formula secara random sampling kemudian diukur menggunakan texture analyzer. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan probe yang berbeda untuk analisis profil tekstur yang meliputi kekerasan (needle probes) dan kekenyalan produk (compression platens). Hasil dari pengukuran akan diperoleh dalam bentuk nilai angka dengan satuan kekerasan (hardness) adalah force Kg dan kekenyalan (elasticity) yaitu distance mm.(14). Data hasil pengukuran tersebut kemudian akan dibandingkan diantara formulasi dan produk pembanding dipasaran Fitkom Gummy®

terhadap kualitas dan sifat fisik yang dihasilkan.(15) HASIL PENELITIAN

Penetapan Kadar Fenol Total

Kadar fenol total dalam ekstrak dinyatakan sebagai massa ekivalen asam galat tiap gram sampel. Nilai kadar fenol total diperoleh melalui perhitungan dengan substitusi suatu regresi linear y = bx + a berdasarkan data absorbansi dan konsentrasi dari larutan standar. Hasil penetapan diperoleh rerata kandungan fenol total ekstrak herba meniran 80% adalah 414,008

± 4,645 mg AGE/ g.

Evaluasi Sediaan Gummy Candies Ekstrak Herba Meniran Uji Organoleptis

Organoleptis merupakan salah satu faktor yang sangat penting yang menggambarkan mutu produk secara langsung. Gummy candies yang dihasilkan sebaiknya warna homogen, bentuk dan permukaan tidak cacat, serta bau dan rasa yang menyenangkan. Uji organoleptis juga dilakukan untuk menilai karakteristik sediaan yang dihasilkan. Hasil evaluasi organoleptis yang diperoleh dapat dilihat pada Gambar 2 dan Tabel 2.

(5)

5

a) b) c)

d) e)

Gambar 2. Hasil Gummy Candies Ekstrak Herba Meniran

Keterangan : a) F1 = Gelatin 20% : Pektin 0%; b) F2 = Gelatin 15% : Pektin 5%; c) F3 = Gelatin 10% : Pektin 10%; d) F4 = Gelatin 5% : Pektin 15%; e) F5 = Gelatin 0% : Pektin 20%

Tabel 2. Hasil Uji Organoleptis Gummy Candies Esktrak Herba Meniran

No. Pemeriksaan Formula

organoleptis 1 2 3 4 5

1. Warna Merah Merah Merah Merah Merah

2. Bentuk Gummy bear Gummy bear Gummy bear Gummy bear Gummy bear 3. Aroma Stroberi lemah Stroberi lemah Stroberi lemah Stoberi lemah Stroberi lemah 4. Rasa Manis sedikit

asam

Manis sedikit asam

Manis sedikit asam

Manis sedikit asam

Manis sedikit asam 5. Tekstur Sangat kenyal Kenyal Cukup kenyal Agak kenyal Kurang kenyal

Keterangan : F1 = Gelatin 20% : Pektin 0%; F2 = Gelatin 15% : Pektin 5%; F3 = Gelatin 10% : Pektin 10%; F4 = Gelatin 5% : Pektin 15%; F5 = Gelatin 0% : Pektin 20%.

Uji pH

Gambar 1. Hasil Uji pH Gummy Candies Ekstrak Herba Meniran

Uji pH menununjukkan bahwa nilai pH sediaan gummy candies ekstrak herba meniran berada pada rentang pH 5,1-5,3. Data keseluruhan hasil uji pH gummy candies ekstrak herba meniran kemudian di analisis menggunakan software SPSS. Uji normalitas dan homogenitas data menunjukkan hasil bahwa data terdistribusi normal dan homogen (p-value

> 0,05). Selanjutnya dilakukan analisis parametrik menggunakan One-Way ANOVA diperoleh hasil p-value 0,520 > 0,05 pada taraf signifikasi 95%, yang artinya tidak terdapat perbedaan bermakna pH sediaan gummy candies eskstrak herba meniran antara F1 hingga F5.

Hal ini dapat disebabkan karena nilai pH gummy candies banyak ditentukan oleh ekstrak

5.3 5.1 5.3 5.2 5.1

0 2 4 6

1 2 3 4 5

Nilai pH

Formula

Grafik Formula vs Nilai pH

(6)

6 herba meniran dan asam sitrat yang digunakan. Kedua bahan ini digunakan dalam konsentrasi yang sama besar untuk tiap formula, sehingga pH pada sediaan gummy candies yang diperoleh tidak berbeda signifikan antara F1 hingga F5.

Uji Keseragaman Bobot

Sediaan gummy candies ekstrak herba meniran diperoleh bobot ± 1 gram untuk setiap satu gummy. Hasil uji keseragaman bobot gummy candies didapatkan hasil rata-rata untuk F1 hingga F5 memenuhi persyaratan keseragaman bobot dengan tidak ada satupun yang menyimpang dari rentang kolom A (5%) dan kolom B (10%). Persen koefisien variasi yang diberikan dari masing-masing formula juga masih memenuhi syarat persen koefisien variasi keseragaman bobot yang diberikan menurut Farmakope Indonesia V yaitu CV ≤ 5%.(16) Uji Kadar Air

Hasil pengamatan uji kadar air pada gummy candies ekstrak herba meniran diperoleh nilai persentase kadar air yang cukup tinggi. Hasil ini masih kurang memenuhi persyaratan terhadap kadar air maksimal produk jelly yang diperbolehkan oleh SNI yaitu maksimal 20%.

Kadar air yang tinggi ini diduga karena gelatin dan pektin merupakan hidrokoloid yang mempunyai kemampuan menyerap air dalam jumlah besar. Menurut Tranggono (1990) menyatakan bahwa gelatin merupakan agen pembentuk gel dengan sistem dispersi koloid yang mudah menyerap air dalam jumlah yang besar.(17) Adanya gelatin yang ditambahkan pada pembuatan permen jelly membuat molekul-molekul saling bertaut sehingga air yang berada dalam molekul gelatin jumlahnya lebih banyak daripada air yang menguap pada saat pemasakan.(18) Saat proses pembentukan gel, pektin akan menggumpal membentuk serabut halus yang mampu memerangkap air dan menahan cairan.(19) Saat proses pembentukan gel, penggabungan jala atau jaringan tiga dimensi bersambung oleh pengikatan silang rantai- rantai polimer yang bersifat hidrofil (hidrokoloid) oleh gelatin dan pektin memerangkap atau mengimobilisasikan sejumlah air di dalamnya, terjadi proses hidrasi molekul air melalui ikatan hidrogen, membuat molekul – molekul air akan terjebak,(20) sehingga mempengaruhi kadar air dari gummy candies dan mengakibatkan kadar air gummy candies F1 hingga F5 menjadi tinggi.

Gambar 3. Hasil Uji Kadar Air Gummy Candies Ekstrak Herba Meniran

Keterangan : F1 = Gelatin 20% : Pektin 0%; F2 = Gelatin 15% : Pektin 5%; F3 = Gelatin 10% : Pektin 10%; F4 = Gelatin 5% : Pektin 15%; F5 = Gelatin 0% : Pektin 20%.

Keseluruhan data yang diperoleh dari hasil uji kadar air selanjutnya dianalisis secara parametrik menggunakan ANOVA diperoleh hasil p-value 0,000 < 0,05 pada taraf signifikasi 95%, kemudian dilanjutkan analisis dengan Post Hoc Tests LSD (Least Significant Different), diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedan bermakna kadar air gummy candies ekstrak

33.70 35.61 33.83 34.71 32.14

16.18

0 10 20 30 40 50

F1 F2 F3 F4 F5 Komersil

Kadar Air (% B/B)

Formula

Grafik Formula vs Kadar Air (% B/B)

(7)

7 herba meniran antara formula F1 hingga F5, namun setiap formula F1 hingga F5 berbeda bermakna dengan kadar air produk komersil. Hal ini dapat disebabkan karena kombinasi gelatin dan pektin serta gelatin dan pektin tunggal yang digunakan pada F1 sampai F5 memiliki total jumlah konsentrasi yang sama yaitu 20%, sehingga kadar air yang dihasilkan tidak berbeda signifikan, karena jumlah total air yang terdapat pada tiap formula juga sama.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa kadar air gummy candies ekstrak herba meniran pada penelitian ini masih belum memenuhi persyaratan kadar air maksimal produk jelly menurut SNI (tidak lebih dari 20%) dan tidak sama dengan produk gummy candies komersil yang telah ada di pasaran.

Uji Texture Profile Analysis (TPA) Kekerasan

Kekerasan atau hardness merupakan gaya maksimum yang dibutuhkan untuk menekan sampel hingga ketebalan tertentu.(21) Data keseluruhan hasil uji kekerasan kemudian dianalisis menggunakan software SPSS. Hasil analisis ANOVA menunjukkan hasil bahwa p- value 0,006 < 0,05 pada taraf signifikasi 95%, yang artinya terdapat perbedaan bermakna kekerasan gummy candies eskstrak herba meniran antara F1 hingga F5 dan produk komersil.

Selanjutnya dilanjutkan analisis dengan Post Hoc Tests LSD (Least Significant Different) untuk melihat formula mana yang memiliki perbedaan bermakna dengan formula lain. Hasil pengujian menunjukkan bahwa F5 berbeda signifikan dengan F1 hingga F4 dan produk komersil.

Pada F5 merupakan formula yang berbeda signifikan dibandingkan dengan F1 hingga F4 dan produk komersil, serta merupakan formula yang memiliki nilai kekerasan yang paling tinggi. Hal ini diduga dapat disebabkan karena perbedaan komponen dasar dan sumber bahan pembentuk dari gelatin dan pektin, sehingga menyebabkan pembentukan tekstur dan karakteristik gel yang yang dihasilkan juga berbeda meskipun sama-sama merupakan suatu bahan pembentuk gel. Seperti pada F1 dan F5 yang merupakan gummy candies dengan formulasi gelatin tunggal dan pektin tunggal.

Gambar 4. Hasil Uji Kekerasan Gummy Candies Ekstrak Herba Meniran

Keterangan : F1 = Gelatin 20% : Pektin 0%; F2 = Gelatin 15% : Pektin 5%; F3 = Gelatin 10% : Pektin 10%; F4 = Gelatin 5% : Pektin 15%; F5 = Gelatin 0% : Pektin 20%

Gelatin diperoleh dari hidrolisis kolagen yang mengandung asam amino seperti glisin yang mampu mengikat air dengan baik sehingga gerakan molekul air akan menurun dan terperangkap dalam struktur, sehingga terjadi pembentukan gel yang sempurna.(22) Permen jelly atau gummy yang terbuat dari gelatin yang bersumber dari kolagen umumnya lebih elastis dan rubbery dibandingkan dengan pektin yang merupakan suatu hidrokolid poliskarida berupa serat. Pada pektin, jelly yang dihasilkan kurang kenyal dan tidak elastis.(23) Adanya serat pada pektin menyebabkan kandungan air bebas dalam bahan menjadi sedikit.(24) Hal

0.0812 0.0939

0.0813 0.0975

0.1312

0.0499

0.00 0.05 0.10 0.15

1 2 3 4 5 Komersil

Kekerasan (Kg)

Formula

Grafik Formula vs Kekerasan (Kg)

(8)

8 inilah yang mungkin dapat menyebabkan kekerasan pada pektin tunggal pada F5 lebih tinggi dan berbeda signifikan dibandingkan formula lainnya. Selain itu, titik leleh pada pektin juga lebih tinggi dibandingkan dengan gelatin. Gelatin memiliki karakteristik ‘melth-in-mouth’, yaitu meleleh di dalam mulut pada suhu tubuh manusia.(25) Gelatin dapat meleleh pada suhu yang cenderung rendah (29-37ºC), karena zona persimpangannya (junction zone) hanya terikat oleh ikatan hidrogen yang lemah. Sedangkan titik leleh pektin berada pada suhu 142- 144ºC.(26) Hal ini menjelaskan mengapa gummy pektin lebih shorter-bite dan keras saat digigit serta kurangnya karakter meleleh di mulut.

Analisis kekerasan gummy candies ekstrak herba meniran terhadap produk komersil menunjukkan hasil bahwa terdapat perbedaan signifikan kekerasan gummy candies F2, F4, dan F5 dengan produk komersil, namun tidak berbeda signifikan dengan F1 dan F3. Hal ini menunjukkan bahwa gummy candies dengan gelatin tunggal (gelatin 20%) dan campuran gelatin-pektin dengan rasio yang sama besar (gelatin 10% : pektin 10%) merupakan formula yang kekerasannya paling mendekati produk komersil yang memiliki nilai rerata kekerasan yaitu 0,0499 Kg. Menurut penelitian sebelumnya oleh Liu (2007) dan Claudia (2018) dijelaskan bahwa interaksi gelatin-pektin, kekompakan serta kerapuhan gel tergantung pada rasio pektin terhadap gelatin. Pektin jika didispersikan kedalam air membentuk koloid hidrofilik bermuatan negatif oleh gugus karboksil. Sedangkan gelatin bermuatan positif saat didispersikan kedalam air. Kombinasi gelatin dan pektin dalam konsentrasi yang sama dapat membentuk suatu ikatan elektrostatik yang kuat, menyebabkan penurunan interaksi elektrostatik yang tidak stabil, mengarahkan pada penguatan jaringan pektin-gelatin sehingga dapat membuat struktur gel yang baik,(26) dan menghasilkan kekerasan yang baik pula dibandingkan dengan F2 dan F4. Perbandingan rasio pektin terhadap gelatin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah seperti pada F2 (gelatin 15% : pektin 5%) dan F4 (gelatin 5% : pektin 15%) dapat membentuk gaya tolak di junction zone (zona persimpangan) yang dapat mengurangi pembentukan keterkaitan antar agregat heliks, menyebabkan jaringan sistem campuran polimer antar gelatin-pektin terganggu, sehingga struktur gel melemah dan tidak terbentuk suatu gel yang optimal.(27)

Berdasarkan hasil yang telah dijelaskan sebelumnya, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa F1 dan F3 merupakan gummy yang nilai kekerasannya mendekati pada produk komersil, hal ini menunjukkan bahwa gummy dengan gelatin tunggal dan kombinasi gelatin-pektin dengan rasio konsentrasi yang sama menghasilkan gummy dengan kekerasan yang paling baik yaitu mendekati produk komersil yang telah beredar di pasaran, dibandingkan dengan gelatin-pektin dengan rasio konsentrasi yang berbeda pada F2 dan F4 serta pektin tunggal pada F5. Hasil perolehan nilai kekerasan pada penelitian ini juga mengacu pada penelitian sebelumnya oleh Wijana (2014), yaitu jelly yang terpilih berdasarkan tingkat kesukaan tertinggi pada penelitian tersebut, dengan nilai kekerasan 45,00 g atau sama dengan 0,045 Kg.(25) Hasil yang mendekati pada penelitian ini juga terdapat pada F1 dan F3 dengan rerata nilai kekerasannya adalah 0,0812 dan 0,0813 Kg. Sehingga dapat disimpulkan bahwa F1 dan F3 merupakan formula dengan kekerasan yang paling optimal.

Kekenyalan

Kekenyalan atau elastisitas adalah sifat rheologi produk pangan plastis terhadap daya tahan untuk pecah akibat gaya tekan yang bersifat dapat berubah bentuk atau deformasi.(21) Uji kekenyalan pada gummy candies ekstrak herba meniran diperoleh nilai rerata kekenyalan tertinggi terdapat pada F3 dengan nilai distance 0,667 mm. Sedangkan rerata kekenyalan terendah terdapat pada F1 dengan nilai distance 0,134 mm. Mengacu pada penelitian oleh Hasani (2016), nilai kekenyalan terpilih pada penelitian tersebut terdapat pada formula dengan nilai elastisity 5,23 cm atau sama dengan 0,523 mm. Jelly yang terpilih merupakan jelly yang memiliki tingkat kesukaan tertinggi pada penelitian tersebut.(28) Hasil perolehan

(9)

9 yang mendekati pada penelitian ini terdapat F3 dengan nilai kekenyalan rata-rata 0,667 mm.

Gambar 5. Hasil Uji Kekenyalan Gummy Candies Ekstrak Herba Meniran

Keterangan : F1 = Gelatin 20% : Pektin 0%; F2 = Gelatin 15% : Pektin 5%; F3 = Gelatin 10% : Pektin 10%; F4 = Gelatin 5% : Pektin 15%; F5 = Gelatin 0% : Pektin 20%.

Data hasil keseluruhan uji kekenyalan kemudian dianalisis menggunakan software SPSS. Uji normalitas data menggunakan Saphiro Wilk menunjukkan hasil bahwa data tidak terdistribusi normal dengan p-value < 0,05. Uji homogenitas data menunjukkan hasil bahwa data homogen dengan p-value 0,334 > 0,05 sehingga dilakukan analisis non paramterik Kruskal Wallis karena tidak memenuhi syarat kenormalan data. Hasil analisis menunjukkan bahwa p-value 0,398 > 0,05 pada taraf signifikasi 95%, yang artinya tidak terdapat perbedaan bermakna kekenyalan gummy candies eskstrak herba meniran antara F1 hingga F5. Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi gelatin dan pektin tidak mempengaruhi kekenyalan pada gummy candies ekstrak herba meniran.

Formula Terpilih

Berdasarkan seluruh hasil data yang diperoleh formula optimal yang terpilih adalah F3 dengan perbandingan konsentrasi gelatin dan pektin 10% : 10%, dengan nilai kekerasan 0,0813 Kg dan kekenyalan 0,667 mm, yang berdasarkan pada nilai kekerasan dan kekenyalan yang paling mendekati penelitian sebelumnya yang memiliki tingkat kesukaan tertinggi dan juga merupakan formula yang tidak berbeda dengan produk komersil yang berdasarkan pada analisis SPSS. Penelitian sebelumnya oleh Wijana (2014) memperoleh hasil formula dengan perlakuan terbaik berdasarkan uji kesukaan panelis yaitu permen jelly nanas dengan formulasi penambahan karagenan 3,5% dan gelatin 14% sebagai basis dengan nilai kekerasan 0,045 Kg dan penelitian oleh Hasani (2016), hasil analisa penelitian didapatkan formula terbaik sediaan gummy candies ekstrak daun kelor dengan variasi kadar manitol-gelatin 25%:75% yang paling disukai anak-anak dengan nilai elastisity atau kekenyalan sebesar 0,523 mm.(25,28) Penelitian sebelumnya dan produk komersil sebagai acuan bahwa pada nilai kekerasan dan kekenyalan tersebut, formula disukai dan dapat diterima oleh konsumen.

Secara keseluruhan, dari hasil data uji pH, kadar air dan kekenyalan yang dilakukan dan dianalisis statistik, menunjukkan bahwa variasi konsentrasi gelatin dan pektin tidak menyebabkan perbedaan pH, kadar air, dan kekenyalan secara bermakna. Hasil yang diperoleh dari variasi konsentrasi gelatin dan pektin menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan secara bermakna pada kekerasan gummy candies ekstrak herba meniran antara formula F1, F2, F3 dan F4 (gelatin tunggal dan variasi gelatin-pektin), namun berbeda bermakna dengan formula F5 (pektin tunggal). Hal ini dapat disebabkan karena adanya pengaruh interaksi elektrostatik pada kombinasi pektin-gelatin yang dapat berpengaruh

0.134

0.415

0.667

0.234 0.364

0.840

0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0

F1 F2 F3 F4 F5 Komersil

Kekenyalan (mm)

Formula

Grafik Formula vs Kekenyalan (mm)

(10)

10 terhadap kekerasan gummy candies, berbeda dengan F5 yang merupakan formula dengan pektin tunggal. Selain itu, pada F5 merupakan formula yang memiliki nilai kekerasan yang paling tinggi dibanding formula lainnya yang dipengaruhi oleh komponen bahan pembentuk sumber utama dari gelatin (kolagen) dan pektin (diet fber) sehingga kekerasan gummy candies F5 berbeda nyata dibandingkan dengan formula F1 hingga F4.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian diperoleh bahwa Perbedaan konsentrasi gelatin dan pektin tidak menyebabkan perbedaan pH, kadar air, dan kekenyalan gummy candies ekstrak herba meniran secara bermakna, namun menyebabkan perbedaan kekerasan secara bermakna khususnya pada formula gummy candies pektin tunggal. Formula optimal yang terpilih adalah F3 yang memiliki rerata nilai kekerasan 0,0813 Kg dan kekenyalan 0,523 mm. Hasil penetapan kadar fenol total pada ekstrak etanol 80% herba meniran diperoleh kadar fenolat total sebesar 414, 008 mg AGE / g sampel.

SARAN

Saran pada penelitian ini adalah :

1. Perlu dilakukan pengujian dan optimasi pengaruh suhu pengeringan terhadap kadar air gummy candies ekstrak herba meniran agar diperoleh kadar air gummy candies yang memenuhi persyaratan menurut SNI yaitu < 20%.

2. Perlu dilakukan pembuatan dan evaluasi terhadap gummy candies ekstrak herba meniran dengan konsentrasi ekstrak yang lebih besar agar menghasilkan gummy candies yang dapat dikonsumsi lebih sedikit untuk sekali pakai menyesuaikan dosis dari ekstrak herba meniran sebagai immunomodulator.

3. Perlu dilakukan uji tingkat kesukaan (hedonic test) terhadap gummy candies ekstrak herba meniran agar dapat mengetahui tingkat penerimaan konsumen terhadap produk gummy candies yang dihasilkan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Rajeshkumar N, Joy K, Kuttan G, Ramsewak RS, Nair MG, Kuttan R. Antitumour and Anticarcinogenic Activity of Phyllanthus amarus Extract. Journal Ethnopharmacology. 2002;81(1):17–22.

2. Taylor L. Herbal Secrets of the Rainforest. Edisi 2. Austin: Sage Press, Inc; 2003.

3. Sulaksana J, Jayusman D. Meniran: Budidaya dan Pemanfaatan untuk Obat. Jakarta:

Penebar Swadaya; 2004.

4. Rivai H, Septika R, Boestari A. Karakterisasi Ekstrak Herba Meniran (Phyllanthus niruri Linn) dengan Analisa Fluoresensi. Jurnal Farmasi Higea. 2013;5(2):15–23.

5. Faridah A, Pada KS, Yulastri A, Yusuf L. Patiseri. Jilid 3. Jakarta; 2008.

6. Putra I. Optimasi Proses Ekstraksi Pektin Dami Buah Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk). Agritech. 2010;30(3):158–163.

7. Kurniasari L, Riwayati I. Pektin Sebagai Alternatif Bahan Baku Biosorben Logam Berat. Momentum. 2012;8(1):1–5.

8. Handayani NF, Elya B, Puspitasari N. Cyclea barbata Leaf Extract: Lipoxygenase Inhibitory Activity and Phytochemical Screening. International Journal of Applied Pharmacy. 2018;10(1):106–109.

9. Menteri Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 33 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan. 2012.

10. Ayu SI. Optimasi Formula Solid Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System Ekstrak N-heksan Daun Senggani (Melastoma malabathricum L.) menggunakan Metode

(11)

11 Mixture D-Optimal [Skripsi]. Pontianak: Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Pontianak; 2020.

11. Firdaus F, Islamaya W, Fajriyanto F. Formulasi Nutraseutikal Sediaan Gummy Candies Sari Buah Belimbing Manis (Averrhoa Carambola L) Dengan Variasi Kadar Manitol Dan Corn Syrup Sebagai Basis. Teknoin. 2014;20(1):1–11.

12. Ditjen POM. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 1979.

13. Badan Standarisasi Nasional. SNI 3547.2-2008 Kembang Gula- Bagian 2 : Lunak.

Jakarta: Badan Standardisasi Nasional; 2008.

14. Charoen R, Savedboworn W, Phuditcharnchnakun S, Khuntaweetap T. Development of Antioxidant Gummy Jelly Candy Supplemented with Psidium guajava Leaf Extract.

KMUTNB International Journal Applied Science Technology. 2015;8(2):1–7.

15. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Herbal Indonesia. Edisi 1.

Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2008.

16. Ditjen POM. Farmakope Indonesia. Edisi V. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2014.

17. Suhardi T, Haryadi, Suparmo, Murdiati A, Sutarmadji S, Rahayu K, et al. Bahan Tambahan Pangan (Food Additivies). Yogyakarta: PAU Pangan dan Gizi UGM; 1990.

18. Rahmi SL, Tafzi F, Anggraini S. Pengaruh Penambahan Gelatin terhadap Pembuatan Permen Jelly dari Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa Linn). Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains. 2012;14(1):37–44.

19. Isnanda D, Novita M, Rohaya S, Studi P, Hasil T, Pertanian F, et al. Pengaruh Konsentrasi Pektin dan Karagenan terhadap Permen Jelly Nanas (Ananas comosus L.

Merr). Jurnal Ilmu Pertanian Unsyiah. 2016;1(1):912–923.

20. Fardiaz D. Hidrokoloid. Bogor: Laboratorium Kimia dan Biokimia Pangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi - IPB; 1989.

21. Soekarto ST. Dasar-Dasar Pengawasan dan Standarisasi Mutu Pangan. Bogor: PAU Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor; 1990.

22. Aziza IN, Darmanto YS, Kurniasih RA. Pengaruh Gelatin dari Kulit Ikan yang Berbeda terhadap karakteristik Fisik dan Sensori Produk Marshmallow. Jurnal Perikanan UGM. 2019;21(1):17–23.

23. Murtiningsih, Sudaryati, Mayagita. Pembuatan Permen Jelly Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Kajian Konsentrasi Sukrosa dan Gelatin). Reka Pangan.

2018;12(1):67–77.

24. Suptijah P, Suseno SH, Anwar C. Analisis Kekuatan Gel (Gel Strength) Produk Permen Jelly dari Gelatin Kulit Ikan Cucut dengan Penambahan Karaginan dan Rumput Laut. JPHPI. 2013;16(2):183–191.

25. Wijana S, Mulyadi, Arie F, Septivirta, Theresia D. Pembuatan Permen Jelly dari Buah Nanas (Ananas comosus) Subgrade (Kajian Konsentrasi Karagenan dan Gelatin).

Teknologi Industri Pertanian. 2014;1(1):1–15.

26. Lara-Espinoza C, Carvajal-Millán E, Balandrán-Quintana R, López-Franco Y, Rascón- Chu A. Pectin and Pectin-Based Composite Materials: Beyond Food Texture.

Molecules. 2018;23(4):1–35.

27. Liu H, Zhu DS, Xu XM, Guo SD, Jin ZY. Rheological, Textural and Microstructure Analysis of the High-Methoxy Pectin/Gelatin Mixed Systems. Journal of Texture Studies. 2007;38(5):577–600.

28. Hasani AM El. Formulasi Nutraseutikal Sediaan Gummy Candies Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk.) dengan Variasi Kadar Manitol-Gelatin [Skripsi].

Surakarta : Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi Surakarta; 2016.

Referencias

Documento similar

Konsep dasar informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan penting bagi yang menerimanya (Jogiyanto 2005 : 8), dapat disimpulkan juga bahwa informasi

Secara keseluruhan visual karya ini adalah sebuah instalasi sumur tradisional yang disatukan dengan video dengan cara diproyeksikan menggunakan alat optik

Melalui pendekatan Tema Arsitektur Metabolisme secara Arsitektural pada objek Bukit Inspirasai Convention Center dapat menghadirkan bangunan yang memiliki nilai yang

Komunikasi belajar yang terjadi secara multi arah merupakan bentuk keberhasilan pembelajaran yang disebabkan oleh beberapa hal, antara lain (1) mahasiswa memahami

Alat penetas telur ini merupakan modifikasi dari alat yang sudah dibuat sebelumnya yang dilengkapi dengan sensor SHT 11 sebagai pendeteksi suhu sekaligus pendeteksi kelembaban

Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya didapatkan bahwa pada kriteria kenyamanan, subkriteria keselamatan saat menggunakan layanan

Proses enkripsi merupakan proses untuk mengubah data sumber menjadi file cipher citra dengan menggunakan nilai-nilai kunci publik yang dihasilkan dari proses generate

yang mengambil data atau informasi yang telah disediakan. Metode Double Exponential Smoothing Holt Algoritma merupakan alur berjalannya suatu proses pada sistem