Vol. 4 No. 3. Hal 202-207 ISSN: 2087-7706
INDUKSI TUNAS GADUNG (
Diocorea hispida
Dennst)
SECARA IN VITRO
In vitro Induction of Yam Shoots (
Dioscorea hispida
Dennst)
NORMA ARIF*), AZHAR ANSI, TEGUH WIJAYANTOJurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo, Kendari
ABSTRACT
Yam (Dioscorea hispidaDennst) is a tuber crop that belonges to food sources and has not been widely recognized by the public. Aside from being a food ingredient, it can also be used as a natural pesticide. Until now, efforts to use the potential of yam have not been handled well. This research was conducted at the In vitro Laboratory of the Faculty of agriculture, Haluoleo University, from May to July 2014. The purpose of the study was to obtain the proper concentration of BAP to induce yam plant shoots in vitro. The research design used was a completely randomized design with 5 replications. One segment of the stem explants were grown on MS basic medium with different concentrations of BAP (0.5-4 ppm), with 5 replications and each replication consisted of 1 bottle containing 2 explants. Data were analyzed using Duncan's Multiple Range Test (DMRT). The research results showed that the addition of various concentrations of BAP affected the span of the emergence of the first shoots but did not affect the percentage of explants alive and growing shoots. BAP concentration of 2 mg / L was the optimal concentration to induce shoots of yam (Dioscorea hispida) with a span began to shoot appearance at week 4 after planting.
Keyw or ds:Dioscorea hispida, shoot induction, in vitr o cultur e, hor mone BAP
1
PENDAHULUAN
Tanaman gadung (Dioscorea hispida)
mer upakan salah satu jenis dioscor ea yang ser ing dimanfaatkan umbinya sebagai pangan alter natif, kar ena kandungan kar bohidr atnya sama seper ti umbi-umbian lain yang didominasi oleh pati sekitar 23-38 %, dan lebih r endah dibanding sumber kar bohidr at lain seper ti ber as, jagung maupun ubi kayu (Kunia, 2002). Disamping sebagai bahan pangan alter natif, umbi gadung mengandung r acun ber upa alkoloida dioscor ine yang dapat digunakan sebagai bahan pestisida alami. Mengingat potensi gadung yang tinggi maka sangat penting untuk dijaga kelestar iannya, Oleh kar ena itu per lu pengelolaan agar budidaya dan pemanfaatannya dapat ber kesinambungan.
Tanaman gadung diper banyak dengan menggunakan umbi atau biji. Per banyakan menggunakan umbi yang mempunyai mata
*)Alamat kor espondensi:
Email : nor ma.ar [email protected]
tunas. Namun, umbi bar u akan ber tunas 3-4 bulan setelah dipanen sehingga per banyakannya sangat lambat, per masalahan lain yang dihadapi dalam pengembangan tanaman gadung adalah keter sediaan bibit ber mutu masih sangat ter batas.
Penggunaan metode konvensional dalam budidaya tanaman gadung, pada dasar nya tidak efisien dan tidak efektif lagi untuk mengimbangi tuntutan akan keter sediaan bibit sebagai bahan tanam tanaman gadung. Oleh kar enanya dipilih metode bar u untuk mendapatkan alter natif pemecahan masalah dalam upaya mengatasi keter sedi aan bibit dan masalah per tumbuhan tunas yang lambat yaitu metode kultur jar ingan. Kultur jar ingan adalah suatu metode per banyakan tanaman yang dapat menghasilkan bibit tanaman dalam jumlah besar dengan w aktu yang r elatif singkat dan ber kesinambungan. selain itu bibit tanaman yang dihasilkan lebih sehat dan mutu bibit lebih ter jamin kar ena bebas patogen (Hendar yono dan Wijayani, 2007; Yunita, 2003).
Untuk memacu induksi tunas secar a kultur jar ingan ter gantung pada beber apa faktor , diantar anya sumber eksplan dan zat pengatur tumbuh. Sumber eksplan menjadi syar at utama keber hasilan inisiasi dan r egener asi budidaya jar ingan. Bagian tanaman yang dapat dijadikan sebagai sumber eksplan adalah pucuk muda, batang muda, daun muda, kotiledon, dan hipokotil (Gunaw an, 1995; Uzun et al., 2014). Selanjutnya dikatakan bahw a zat pengatur tumbuh juga memegang per anan penting dalam keber hasilan induksi tunas diantar anya dar i golongan sitokinin adalah BAP (Benzil Amino Purin)/ BA (Benziladenin) kinetin dan zeatin. Penambahan sitokinin pada media kultur dihar apkan dapat mengatasi masalah r endahnya laju pembelahan sel pada mer istem tunas tanaman (Rejthar et al., 2014; Yunita, 2004). BAP (6-Benzyl Amino Purine) mer upakan golongan sitokinin sintetik yang dapat digunakan dalam per banyakan tanaman secar a kultur in vitro. Hal ini kar ena BAP mempunyai efektifitas yang cukup tinggi untuk per banyakan tunas, mudah didapat dan r elatif lebih mur ah dibandingkan dengan kinetin (Kr ikor ian, 1995; Yusnita, 2003).
Penggunaan sitokinin dalam memacu per tumbuhan tunas gadung pada media dasar MS (1/ 2 MS) yang dimodifikasi dengan penambahan 0,5 mg/ L BAP dan 1 mg/ L NAA memacu per tumbuhan tunas yang ber asal dar i eksplan stek nodus ber hasil memper baiki teknik in vitr o tanaman D. alata(Fotsoet al,.
2013). Ber dasar kan ur aian di atas per lu dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mendapatkan konsentr asi BAP yang tepat untuk menginduksi tunas tanaman gadung secar ain vitro.
BAHAN DAN METODE
Lokasi dan Waktu Penelitian. Penelitian dilaksanakan di Labor ator ium Agr oteknologi Unit in Vitr o Fakultas Per tanian Univer sitas Halu Oleo Kampus Bumi Tr idhar ma Kendar i yang dilaksanakan pada bulan Apr il sampai dengan bulan September 2014.
Bahan. Bahan yang digunakan adalah media Mur ashige dan Skoog (MS), agar -agar , sukr osa, BAP, NAA, HCl, NaOH, alkohol 96% dan 70%, bahan ster ilan, tissu, plastik tahan panas, kar et gelang dan aquades.
Rancangan Penelitian. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang ter dir i dar i 8 per lakuan dengan tiga kali ulangan sehingga ter dapat 24 unit per cobaan.
Per lakuan yang diuji sebagai media per tumbuhan adalah B1(MS + BAP 0,5 ppm). B2 (MS + BAP 1 ppm). B3 (MS + BAP 1,5 ppm). B4 (MS + BAP 2 ppm. B5 (MS + BAP 2,5 ppm). B6 (MS + BAP 3 ppm ). B7 (MS + BAP 3,5 ppm) dan B8 (MS + BAP 4 ppm ).
Pelaksananan Penelitian
Sumber dan Sterilisasi eksplan. Eksplan yang digunakan adalah nodus ke 2 atau ke 3 pada batang muda, dipotong dengan 1 nodus. Eksplan diber sihkan dengan air mengalir selama 1 jam dan dister ilkan dengan fungisida (Dithane-M) 2g / L dan agr ept 2g/ L masing-masing 15 menit lalu dibilas dengan aguades 3 kali. Kemudian dilanjutkan ster ilisasi di dalam LAF dengan ster lisasi 1% sodium hipoklor it selama 35 menit dan kemudian dibilas empat kali (masing-masing 10 menit) dengan air suling ster il.
Penanaman untuk induksi tunas.
Eksplan nodus yang telah ster il dengan 1 nodus kemudian ditumbuhkan ke dalam media dasar MS (MS+0,5 mg/ l NAA) dengan 30 g/ L sukr osa dan 7 gr agar dengan penambahan zat pengatur tumbuh sesuai per lakuan. Tingkat pH medium 5,8 sebelum dister ilisasi. Ster ilisasi dengan autoklaf pada suhu 121oC dengan tekanan 1 kg/ cm2 selama 20 menit. Eksplan ditanam pada media inisiasi tunas dengan 2 nodus pada setiap botolnya, kemudian inkubasi pada suhu 24-25°C dengan cahaya lampu TL 40 w att.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian diaw ali dengan mengkultur kan eksplan nodus batang tanaman gadung (D. hispida.) dalam media MS dengan ber bagai konsentr asi BAP secar a aseptik. Per tumbuhan nodus batang secar a in vitro mulai ter lihat pada 4 minggu setelah ditanam pada media per tunasan yang ditandai dengan munculnya bakal tunas pada ujung eksplan yang sebelumnya telah mengalami pembengkakan.
Presentase Eksplan Hidup. Pr esentase
eksplan hidup tanaman gadung
dengan baik dan tidak ter kontaminasi baik jamur maupun bakter i. Pengamatan dapat diamati pada umur 4 dan 16 minggu setelah tanaman. Hasil anova menunjukkan bahw a BAP tidak ber pengar uh ter hadap per sentase eksplan hidup sebagaimana disajikan pada Tabel 1.
Per sentase eksplan hidup ber beda-beda pada setiap per lakuan. Pr esentase eksplan hidup ter tinggi 43% diper oleh pada per lakuan MS + BAP (0,5-2 ppm), namun, pr esentase eksplan hidup mengalami penur unan sampai 41% dengan meningkatnya konsentr asi BAP hingga 4 ppm yang ditambahkan ke dalam media tumbuh.
Beber apa masalah utama yang menyebabkan r endahnya per sentase eksplan hidup pada saat inisiasi aw al adalah kontaminasi, mati fisiologis, browning dan masalah dor mansi alami pada eksplan. Rendahnya per sentase hidup eksplan disebabkan eksplan nodus batang yang digunakan dalam penelitian ini diambil dar i lapang (r umah kasa) kemungkinan bahan tanam ter sebut lebih banyak mengandung ber bagai kotor an dan ber bagai kontaminan hidup pada eksplan sangat ber agam dan dapat dijumpai baik pada per mukaan maupun dalam jar ingan, sehingga kontaminasi jamur dan bakter i pada eksplan ter sebut belum ber hasil dieliminasi sepenuhnya.
Dalam penelitian ini kematian eksplan sebagian besar disebabkan kar ena ter jadi kontaminasi. Kontaminasi ter jadi pada umumnya saat aw al penanaman eksplan yaitu satu minggu setelah tanam. Banyaknya eksplan yang mengalami kontaminasi dan kematian fisiologis antar a lain dapat disebabkan ster ilisasi media kur ang sempur na, faktor eksplan dan lingkungan inkubasi yang tidak mendukung per tumbuhan eksplan. Sedangkan mati fisiologis dapat disebabkan oleh bahan eksplan yang tidak mer ismatik, bahan ster ilan yang ber lebihan, media yang tidak cocok atau pun lingkungan inkubasi yang tidak mendukung (Santoso dan Nur sandi, 2003; Lestar i, 2011). Kematian eksplan juga dapat disebabkan kar ena peningkatan konsentr asi BAP diduga dapat memicu ter bentuknya toksi sehingga eksplan dapat menghasilkan senyaw a fenol sebagai mekanisme per tahanan dir i sehingga eksplan mulai mengalami browningdan akhir nya mati. Disamping itu browning pada eksplan dapat
disebabkan oleh faktor endogen eksplan yaitu adanya pengar uh enzim per oksidase dan oksidase yang dapat mengkalisis ter jadinya oksidasi senyaw a fenol pada bagian jar ingan tanaman yang ter luka sebagai akibat kegiatan pengambilan eksplan pada saat penanaman (Fitr iani, 2003dalamNisa dan Rodima, 2005). Senyaw a fenol dapat menghambat per tumbuhan eksplan kar ena ter jadinya ketidakmampuan eksplan menyer ap nutr isi dalam media sangat r endah, sehingga dapat menyebabkan kematian eksplan. Hal ini sejalan dengan per nyataan Widiastoety dan Santi (1994): Fitr iani (2003) dalam Mar lin (2008), menyatakan bahw a enzim per oksidase dan oksidase dapat mengkalisis senyaw a fenol pada jar ingan tanaman yang ter luka yang mengakibatkan ter gangunya pengambilan nutr isi pada media.
Rendahnya pr esentase hidup eksplan selain disebabkan kontaminasi oleh jamur , bakter i dan browningpada eksplan juga dapat disebabkan kar ena eksplan mengalami dor mansi alami. Dor mansi alami mempengar uhi tingkat r esponsifitas sel atau jar ingan ter hadap induksi mor fogenesis yang diber ikan. Per tumbuhan eksplan umumnya ter henti untuk sementar a, dan dapat ber ubah w ar na menjadi kecoklatan sehingga per tumbuhan ter hambat dan selanjutnya mati (Romano and Loucao (1992) dalam Indr ioko (2010).
Tabel 1. Respon eksplan nodus batang pada kultur in vitr o gadung (D. hispida) pada beber apa komposisi media tanam (16 mst)
Per lakuan Pr esentase
Eksplan hidup
Rentang w aktu muncul tunas per tama (minggu) Per sent ase tumbuh tunas (%) 4 mst 16 mst MS +BAP 0,5 ppm 90,0 43 5.33 abc 41 MS +BAP 1 ppm 90,1 43 4.66 abc 41 MS +BAP 1,5 ppm 90,1 43 4.33 ab 41 MS +BAP 2 ppm 90,0 43 4.00 a 41 MS +BAP 2,5 ppm 89,8 41 5 33 abc 40 MS +BAP 3 ppm 89,8 42 5. 66 bc 40 MS +BAP 3,5 ppm 89,8 41 6.00 bc 40 MS +BAP 4 ppm 89,7 41 6.00 b 40
Ket er angan: Angka yang diikuti oleh hur uf yang sama ber ar ti tidak ber beda signifikan pada uji jar ak ber ganda Duncan α=0,05
Rentang Waktu Muncul Tunas Pertama.
ber pengar uh ter hadap r entang w aktu muncul tunas per tama, ar tinya, semua kombinasi per lakuan member i hasil saat kemunculan tunas yang tidak sama. Hal ini disebabkan per lakuan konsentr asi BAP yang digunakan
dapat memacu per cepatan kemunculan tunas gadung dan tidak ber pengar uh ter hadap per sentase tumbuh tunas disajikan pada Tabel 1 dan Gambar 1
Gambar 1. Induksi tunas dar i nodus batang gadung pada media MS + BAP 1,5 ppm (a dan b umur 6 MST) dan MS + BAP 2 ppm (c dan d umur 6 MST)
Ber dasar kan uji Duncan r entang w aktu muncul tunas ber var iasi pada setiap per lakuan, r entang w aktu muncul tunas ter cepat pada per lakuan MS + BAP 2 ppm yaitu 4 minggu setelah tanaman dan tidak ber beda dengan per lakuan MS + BAP (0,5-1,5 ppm), dan lebih cepat dibandingkan dengan per lakuan MS+BAP (2,5-4 ppm) tunas bar u muncul setelah umur 5 dan 6 minggu setelah tanam. Semakin meningkat konsentr asi BAP pada medium, saat muncul tunas semakin lama. Hal ini menunjukkan bahw a pember ian BAP yang lebih r endah telah memenuhi kebutuhan eksplan gadung. Hoesen (1998)
dalam Yunus (2007) menyatakan bahw a ter bentuknya tunas ter jadi lebih aw al ter utama pada kultur yang diber i tambahan sitokinin. Per tumbuhan tunas sebagai akibat r espon ter hadap zat tumbuh yang diber ikan dan hor mon yang ter dapat dalam eksplan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahw a BAP sangat ber per an dalam ter bentuknya tunas yang lebih cepat. Menur ut Wattimena (1992) per an fisiologis sitokinin adalah mendor ong pembelahan sel, mor fogenesis, per tunasan, dan pembentukan klor oplas. Hal senada dikemukakan oleh Smith 1992) dalam
Mar lin et al. (2008) dan Sar doei (2014), pember ian sitokinin seper ti BA, BAP, kinetin atau zeatin ke dalam media akan ber pengar uh ter hadap per tumbuhan eksplan, yaitu menghilangkan dominasi apikal dan dapat menginduksi tunas secar ain vitro.
Pember ian BAP 2 ppm dapat memacu indukasi tunas kar ena BAP adalah salah satu jenis sitokinin yang ber per an aktif dalam pembelahan sel. Pr oses pembelahan sel
dipengar uhi oleh Cyclin-dependent kinase, enzim yang ber per an pada pembelahan sel. CDK mempengar uhi per alihan fase dar i G1 ke S dan G2 ke M. Siklus pembelahan sel membutuhkan ker jasama antar a CDK dengan beber apa jeniscyclin. Per alihan dar i fase G1-S diatur oleh cyclin-D (CYCD). Ker ja CYCD dipengar uhi oleh faktor ekster nal seper ti hor mon dan sukr osa. Adanya sukr osa dan hor mon akan membentuk kompleks aktif CYCD dan CDKA. Kompleks ter sebut akan mengaktifkan pr omoter E2F sehingga mengaktifkan gen-gen tr anskr ipsi yang ter libat pada fase S. Per alihan fase G2-M dipengar uhi oleh aktivitas CDK-CYC. Peningkatan aktifitas kompleks CDK-CYC selama fase G2 memper cepat per alihan dar i fase G2 ke M (Dewitte and Mur r ay, 2003; Inze and De Veylder , 2006; Per eir a et al., 2012; Khoir iyahet al.,2013).
Rentang w aktu ter cepat diper oleh pada konsentr asi BAP 2 ppm tidak ber beda dengan per lakuan MS + BAP (0,5-1,5 ppm), hasil penelitian ini didukung oleh Mar iska et al.
(1989) dalam Sar i (2006) yang mengemukakan bahwa penggunaan BAP 1,5 mg/ l dapat mendor ong ter bentuknya tunas ter banyak dar i eksplan batang satu buku pada tanaman D. composita. Hal ini menunjukkan bahw a tanaman gadung (D. hispida) membutuhkan konsentr asi BAP yang lebih r endah untuk menginduksi tunas, kar ena BAP 2,5-4 ppm member ikan r entang w aktu yang lebih lama untuk menginduksi tunas, ini menunjukkan eksplan sudah tidak r esponsif ter hadap konsentr asi zat pengatur tumbuh yang diber ikan. Widyastuti (2001)
menyatakan bahwa per tumbuhan tunas akan ter hambat apabila eksplan sudah tidak r esponsif ter hadap penambahan konsentr asi BAP ter tentu.
Selain BAP, adanya NAA 0,5 ppm dalam media dasar MS diduga dapat ber siner gi dengan BAP menstimulasi memacu kecepatan muncul tunas kar ena auksin endogen diduga tidak mencukupi dalam pr oses pembentangan sel yang menyebabkan pember ian auksin eksogen ber pengar uh. Auksin dan sitokinin ber per an ber sama dalam pembelahan sel dengan mengontr ol aktivitas dar i CDK, enzim yang menyebabkan pembelahan sel pada sel-sel eukar iot (Taiz dan Zeiger , 2002). Selain itu dilapor kan bahwa auksin dapat mengur angi pembentukan inhibitor CDK (Rechenmann, 2010).
BAP mer upakan sitokinin menyebabkan sel-sel kor teks nodus ber sifat mer ismatik dan aktif membelah. Sel-sel kor tek nodus yang ber sifat mer istematik membentuk beber apa kumpulan titik tumbuh tunas. Sel-sel mer istematik kor teks bagian super fisial kemudian membelah membentuk tunica-cor pus, sedangkan sel-sel mer istematik bagian basal membentuk jar ingan pr okambium. Jar ingan pr okambium kemudian menyatu dengan jar ingan pembuluh angkut pada eksplan (Negi et al.,2011 dalamKhoir iyah et. al.,2013 ).
Pember ian ber bagai konsentr asi BAP tidak ber pengar uh ter hadap pr esentase tumbuh tunas gadung (Tabel 1), per sentase tumbuh tunas mencapai 40-41%. Rendahnya per sentase tumbuh tunas diduga kar ena eksplan nodus batang gadung ter gantung dengan faktor endogen eksplan itu sendir i, selain itu ber per annya zat pengatur tumbuh bila kondisi fisiologis eksplan dalam keadaan pr ima (Mar lin, 2008). Secar a umum semakin tinggi konsentr asi BAP yang ditambahkam dalam media semakin r endah kemampuan tumbuh tunas.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan. Ber dasar kan hasil dan ur aian pembahasan, dapat ditar ik simpulan bahw a konsentr asi BAP, ber pengar uh nyata ter hadap r entang w aktu muncul tunas, tetapi tidak ber pengar uh ter hadap per sentase eksplan hidup dan tumbuh tunas. Konsentr asi BAP 2 mg/ L paling optimal untuk menginduksi tunas
gadung (Dioscorea hispida) dengan r entang w aktu mulai muncul tunas pada minggu ke-4 setelah tanam.
Saran. Per lu penelitian lanjutan dengan menggunakan ber bagai jenis eksplan mengingat per tumbuhan tunas gadung dar i eksplan nodus batang secar a in vitr o sangat lambat, sehingga membutuhkan w aktu yang r elatif panjang untuk menginduksi umbi mikr o.
DAFTAR PUSTAKA
Dew itt e W, Mur r ay JAH. 2003. The Plant Cell Cycle. Annu. Rev. Plant. Biol. 54(2): 35-64.
Fotso N, Sandr ine MF, Désir é MH, . Fr ançois DP, Denis ON. 2013. Micr opr opagation ofDioscorea alataL. fr om micr otuber s inducedin vitro Afr i. J. of Biot ech. 12 (10): 1057-1067.
Gunaw an LW. 1995.Teknik Kultur In Vitro dalam Hortikultura. Jakar ta: Penebar Sw adaya.
Hendar yono DPS, Wijayani A. 2007.Teknik Kultur Jaringan, Pengenalan dan Petunjuk perbanyakan Tanaman secara vegetatif Modern. Kanisius. Yogyakar ta.
Indr ioko S, Suyono EA, Widiyatno. 2010. St r ategi Rehabilitasi Hutan Tr opis: Pr opagasi Shore leprosul Unggul untuk Peningkatan Ser apan CO2. Lapor an Hibah Penelitian Str ategi Nasional
Tahun Anggar an 2010. 60p.
Inze D, De Veylder L. 2006. Cell cycle r egulation in plant development. Annu. Rev.Genet. 40: 77-10. Khoir iyah N, Rahayu ES, Her lina L. 2013. Induksi per banyakan t unas rosa damascena mill. dengan penambahan auksin dan sitokinin; Unnes Jour nal of Life Science. 2 (1):67-73. Kr ikor ian AD. 1995. Hor mones in tissue cultur e
and micr opr opagation.In Davies PJ (ed) Plant Hormones “Physiology, Biochemistry and Molecular Biology”. Kluw er Academic Publisher s, London. (5): 774-796.
Kunia K. 2002. Car a Aman Mengkomsumsi Gadu ng. ht tp:/ / kabelankunia.blogspot.com/ 2008/ 11 / car a-aman mengkonsumsi gadung. html. Diakses tanggal 5 Desember 2008.
Lestar i EG. 2011. Role of gr ow th hor mones in Plant Pr opagation thr ouh tissue cultur e. Resear ch and Development Cent er for Biotechnology & Genetic Resour ces. Agr o Biogen J. 7(1):63-68.
Mar lin, Muhktasar , Har tal. 2008. Upaya Penyediaan Bibit Pisang Ambon Cur up’ Unggulan Pr opinsi
Bengkulu Dengan Pembent ukan Planlet Secar a
In Vitro.Lapor an Hasil Penelit ian Hibah Ber saing. Tahun Anggar an 2008. 73p.
Per eir a PA, Sousa FV, Becker JD. 2012. Decision-making in the plant cell cycle. Canal BQ 9: 48-62.
Rechenmann CP. 2010. Cellular r esponce to auxin: division ver sus expansion. cold spring harb.
Per spect Biol. 2: 1-15
Rejthar J, Viehmannova I, Cepkova PH, Fer nandez E, Milella L. 2014. In vitr o pr opagation of
Drosera intermediaas influenced bu cytokinins, pH, sucr ose, and nut r ient concentr ation. Emir . J. Food Agr ic. 26(6):558-564.
Santoso U, Nur sandi F. 2003. Kultur Jaringan Tanaman. UMM Pr ess. Malang.
Sar doei AS. 2014. Response of application of GA3 and BA to Dizigotheeca plants. Int. J. Of Advanced Biol. And Biomed. Res. 2(3):615-621 Sar i YP. 2006. Pengar uh NAA dan BAP t er hadap
inisiasi tunas pada eksplan nodus tanaman zodia (Evodia suaveolensScheff) secar aIn Vitro.
Biopr ospek, 6 (1): 1-11.
Taiz L, Zeiger E. 2002. Plant Physiology. Edisi Ketiga. Massachusetts: Sinauer Associat es Ink.
Uzun S, Ilbas AI, Ipek A, Ar slan N, Bar pete S. 2014. Efficient in vitr o plant r egener ation fr om immatur e embr yos of endemic Iris sari and I. schachtii. Tur k. J. Agr ic. For . 38: 348-353. Wattimena GA. 1992. Zat Pengatur Tumbuh
Tanaman. Pusat Antar Univer sitas Bioteknologi. Institut Per tanian Bogor . Bogor . Widyastuti ET. 2001. ”Pengar uh BAP dan NAA
ter hadap Per tumbuhan dan Per kembangan Tunas ser ta Jenis Media t er hadap Pengakar an Tunas Kaspea (Limonium caspium) Secar a In Vitr o. Jur usan Budidaya Per t anian. Fakultas Per tanian. Institute Per tanian Bogor . Bogor . Widiastoety D, Santi A. 1994. Pengar uh air kelapa
ter hadap pembentukan pr otocor m like bodies (plbs) dar i anggr ek Vanda dalam medium cair . Jur nal Hor t ikultur a. 4 (2):71-73.
Yunita R. 2004. Multiplikasi tunas melinjo (Gnetum gnemon)secar ain vitro. Jur nal Sagu 3(1): 1-8. Yunus, Ahmad. 2007. Pengar uh IAA dan kinetin
ter had per tumbuhan eksplan baw ang mer ah (Allium ascalonicumL.) secar a in vitr o. Jur nal Akta Agr osia Edisi Khusus 1: 53-58.
Yusnita. 2003. Kultur Jaringan: Cara Memperbanyak Tanaman secara Efisien.: Agr omedia Pustaka. Jakar ta.