PENYUSUNAN DAN PENGEMBANGAN INSTRUMEN NON TES Oleh
Sehar Trihatun (16709251043) Desy Dwi Frimadani (16709251050) A. Instrumen Non Tes
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat laporan daripada melakukan penelitian.
Namun demikian dalam skala yang paling rendah laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk penelitian. Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Jadi instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 2009: 147).
Pada dasarnya terdapat dua macam instrumen, yaitu instrumen yang berbentuk tes untuk mengukur prestasi belajar dan instrumen nontes untuk mengukur sikap. Instrumen yang berupa tes jawabannya adalah salah atau benar, sedangkan instrumen sikap atau nontes jawabannya tidak ada yang salah atau benar tetapi bersifat positif dan negatif (Sugiyono, 2009: 174).
Instrumen non tes digunakan untuk mengukur kepribadian, perilaku, sikap atau respon seseorang terhadap suatu hal. Setiap waktu kita terikat dengan kegiatan menilai perilaku dan sikap seseorang meskipun terkadang kita tidak menyadarinya. Ketika kita mengatakan bahwa Joni anak yang baik, Tomi anak yang nakal, Susi anak yang tidak pandai bergaul, sebenarnya kita sedang membuat penilaian terhadap kepribadian. Kita menggunakan evaluasi informal tersebut untuk memutuskan dengan siapa kita ingin bekerjasama dan siapa yang harus kita hindari, atau dapat juga membantu kita dalam menerapkan strategi-strategi yang sesuai dengan kepribadian seseorang (Cecil, 2010: 372). Dalam konteks pendidikan, tentunya mengetahui kepribadian siswa akan sangat berguna dalam menerapkan praktek pembelajaran yang
dilakukan. Tetapi kenyataannya, penilaian dengan teknik non tes ini kurang mendapat perhatian dari para guru maupun praktisi pendidikan tidak terkecuali dalam pendidikan matematika.
Tidak dapat dipungkiri sampai saat ini penilaian pendidikan matematika lebih banyak menggunakan instrumen berupa tes. Selama ini teknik non tes kurang digunakan dibandingkan teknis tes karena penilaian lebih mengutamakan teknik tes. Hal ini tentu tidaklah cukup, Robert dan David (1991: 242) mengungkapkan bahwa selain nilai-nilai yang didapatkan siswa dari instrumen tes, masih banyak bidang dalam kurikulum yangmana teknik tes ini menjadi tidak tepat atau kurang tepat daripada teknik non tes. Sebagai contoh, pembelajaran yang menggunakan kemampuan berbicara dalam pelajaran bahasa. Atau kemampuan-kemampuan aplikatif dalam bidang fisika, teknik industri, dan pertunjukkan seni yang akan lebih sering menggunakan demonstrasi serta berorientasi pada proses dan hasil. Objek penilaian pembelajaran matematika terlalu kompleks jika hanya mengandalkan tes saja.
Berbagai objek penilaian pembelajaran matematika memerlukan instrumen non tes untuk memperoleh informasinya (Ekawati dan Sumaryanta 2011: 33).
Proses pengumpulan informasi atau pengumpulan data merupakan suatu hal yang sangat penting. Data yang dikumpulkan sangat terkait dengan fenomena, yang menjadi fokus penelitian. Selain itu, jenis data yang akan dihasilkan juga berdampak pada pelaksanaan pengukuran dalam penelitian.
Jenis data tersebut meliputi data nominal, data ordinal, data interval dan data rasio (Retnawati, 2016: 1-2).
1. Data nominal merupakan ukuran diskrit (terpisah antar data), tidak ada hubungan antara skala yang satu dengan skala yang lain. Contoh data nominal misalnya agama, warna pakaian atau kendaraan, jenis kelamin, hobi, dan lain-lain.
2. Data ordinal merupakan ukuran yang menunjukkan posisi suatu objek, dengan ukuran tersebut dapat diurutkan dari urutan paling rendah sampai yang paling tinggi, namun belum ada jarak atau interval antara posisi ukuran
yang satu dengan yang lain. Contoh data ini misalnya skala Likert (Sangat Setuju, Setuju, Ragu-ragu, Tidak Setuju, Sangat Tidak Setuju), dimana belum ada jarak yang jelas antara tidak setuju dengan sangat tidak setuju, dan juga skala lainnya.
3. Data interval merupakan ukuran yang menunjukkan posisi suatu objek dalam suatu urutan paling rendah sampai yang paling tinggi, dan ada jarak atau interval antara posisi ukuran yang satu dengan yang lain. Contoh data ini adalah nilai/skor dalam pendidikan. Pada data interval, nilai nol juga bukan nilai yang mutlak, yang berarti bahwa seorang peserta didik memeroleh skor nol, belum tentu peserta didik tersebut sama sekali tidak menguasai komptetensi dalam pembelajaran, namun bisa jadi karena alasan lain.
4. Pada data rasio, ukuran menunjukkan posisi suatu objek dalam suatu skala paling rendah sampai skala yang paling tinggi, ada jarak atau interval antara posisi ukuran yang satu dengan yang lain, dan adanya besaran absolute/mutlak. Sebagai contoh pada data rasio adalah ukuran volume air.
Volume air dalam suatu wadah sama dengan nol berarti air dalam wadah tersebut memang telah kosong, atau tidak ada air sedikitpun dalam wadah tersebut.
Jenis data tersebut berdampak pada pelaksanaan pengukuran dalam penelitian. Sebagai contoh seorang peneliti ingin mengetahui kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking) siswa SMP di kabupaten Subur Makmur. Fokus permasalahan yang menjadi kata kunci penelitian ini adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi. Ini berarti data yang harus dikumpulkan peneliti tersebut adalah data kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa SMP.
Karena kemampuan berfikir tingkat tinggi merupakan kemampuan yang abstrak, diperlukan suatu tes untuk mengukurnya. Kemampuan ini dapat diukur dengan teknik tes, dan data yang kita peroleh berupa data interval. Pada kasus lain, seorang peneliti ingin mengetahui motivasi kerja karyawan.
Permasalahan yang menjadi fokus penelitian adalah motivasi, yang dapat
diukur dengan angket/kuisioner motivasi. Untuk pengumpulan data ini, perlu digunakan teknik nontes.
B. Jenis-jenis Instrumen Nontes
Instrumen non tes dapat dikategorikan menjadi angket, wawancara, observasi, dan dokumentasi (Sukmadinata, 2011: 216-222) .
1. Angket
Angket berupa sekumpulan pertanyaan yang biasanya dalam bentuk tertulis kemudian diberikan kepada responden. Pertanyaan-pertanyaan dalam angket atau disebut pula dengan kuisioner bermacam-macam, diantaranya pertanyaan dikotomi, pertanyaan pilihan ganda, urutan bertingkat (rank ordering),rating scale, dan pertanyaan terbuka.
a. Angket dengan pertanyaan dikotomi
Pertanyaan dikotomi dalam angket hanya memuat 2 pilihan jawaban jawaban saja. Pertanyaan ini digunakan jika peneliti ingin menanyakan kepada responden terkait dengan variabel yang hanya memuat dua jawaban saja. Sebagai contoh jenis kelamin (laki-laki atau perempuan, ya atau tidak, benar atau salah, dan lain-lainnya.
b. Pertanyaan terbuka
Pada angket dengan pertanyaan terbuka, angket berisi pertanyaan- pertanyaan atau pernyataan-pernyataan pokok yang bisa dijawab atau direspon oleh responden secara bebas. Tidak ada anak pertanyaan ataupun rincian yang memberikan arah dalam pemberian jawaban atau respon. Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan persepsinya.
c. Pertanyaan berstruktur
Pada angket berstruktur, pertanyaan atau pernyataan sudah disusun secara berstruktur di samping ada pertanyaan pokok atau pertanyaan utama, juga ada anak pertanyaan atau subpertanyaan.
d. Pertanyaan tertutup
Dalam angket tertutup, pertanyaan atau pernyataan-pernyataan telah memiliki alternatif jawaban (option) yang tinggal dipilih oleh responden. Responden tidak bisa memberikan jawaban atau respon lain kecuali yang telah tersedia sebagai alternatif jawaban.
Penulisan angket yang baik perlu memperhatikan beberapa prinsip.
Sugiyono(2010 : 142-144) menyatakan ada 10 prinsip yang perlu diperhatikan.
1. Isi dan tujuan pertanyaan.
Isi dan tujuan pertanyaan memberi makna apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk pengukuran atau bukan? Kalau berbentuk pengukuran, maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus ada skala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variabel yang akan diteliti.
2. Bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunkan dalam penulisan angket harus sesuai dengan kemampuan bahasa responden. Kalau sekiranya responden tidak dapat berbahasa indonesia, maka angket jangan disusun dengan bahasa indonesia.
3. Tipe dan bentuk pertanyaan
Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka maupun tertutup dan bentuknya dapat menggunakan kalimat positif dan negatif.
4. Pertanyaan tidak mendua
Setiap pertanyaan dalam angket jangan mendua(double – barreled) sehingga mengulitkan responden untuk memberikan jawaban.
5. Tidak menyakan yang sudah lupa.
Setiap pertanyaan dalam intrument angket, sebaiknya juga tidak menanyakan hal-hal yang sekiranya reponden sudah lupa atau pertanyaan yang memerlukan jawaban dengan berfikir berat.
6. Pertanyan tidak menggiring.
Pertanyaan dalam angket sebaiknya juga tidak menggiring ke jawaban yang baik saja atau ke yang jelek saja.
7. Panjang pertanyaan
Pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak teralu panjang, sehingga akan membuat jenuh responden dalam mengisi.
8. Urutan pertanyaan
Urutan pertanyan dalam angket dimulai dari yang umum menuju ke hal spesifik, atau dari yang mudah menuju ke hal yang sulit, atau diacak.
9. Prinsip pengukuran
Angket yang diberikan kepada responden adalah merupakan intrument penelitian yang digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti.
10. Penampilan fisik angket.
Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpulan data akan mempengaruhi respon atau keseriusan responden dalam mengisi angket. Angket yang dibuat di kertas buram akan mendapat respon kurang menarik bagi responden, bila dibandingkan angket yang dicetak dalam kertas yang bagus dan berwarna.
Kuesioner atau angket merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Selain itu, kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas (Syaodih, 2. Bila penelitian dilakukan pada lingkup yang tidak terlalu luas, sehingga angket dapat dapat diantarkan langsung dalam waktu tidak terlalu lama, maka pengiriman angket kepada responden tidak perlu melalui pos.
Dengan adanya kontak langsung antara peneliti dan responden akan
menciptakan suatu kondisi yang cukup baik, sehingga responden dengan sukarela akan memberikan data obyektif dan cepat.
2. Wawancara
Wawancara (Moleong:2012:186) adalah percakapan dngan maksud tertentu, percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Wawancara atau interview merupakan salah satu bentuk teknik pengumpulan data yang banyak digunakan dalam penelitian deskriptif kualitatif dan deskripsi kuantitatif. Wawancara dilaksanakan secara lisan dalam pertemuan tatap muka secara individual. Adakalanya juga wawancara dilakukan secara kelompok kalau memang tujuannya untuk menghimpun data dari kelompok seperti wawancara dengan suatu keluarga, pengurus yayasan, pembina pramuka, dll.
Sebelum melakukan wawancara para peneliti menyiapkan instrumen wawancara yang disebut pedoman wawancara. Pedoman ini berisi sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang meminta untuk dijawab atau direspon oleh responden. Isi pertanyaan atau pernyataan bisa mencakup fakta, data, pengetahuan, konsep, pendapat, persepsi atau evaluasi responden berkenaan dengan fokus masalah atau variabel-variabel yang dikaji dalam penelitian. Bentuk pertanyaan atau pernyataan bisa sangat terbuka, sehingga responden mempunyai keleluasaan untuk memberikan jawaban atau penjelasan. Pertanyaan atau pernyataan dalam pedoman wawancara juga bisa berstruktur, suatu pertanyaan atau pernyataan umum diikuti dengan pertanyaan atau pernyataan yang lebih khusus atau lebih terurai, sehingga jawaban atau penjelasan dari responden menjadi lebih dibatasi dan diarahkan. Untuk tujuan-tujuan tertentu sub pertanyaan atau pernyataan-pernyataan tersebut bisa sangat berstruktur, sehingga jawabannya menjadi singkat-singkat atau pendek-pendek, bahkan membentuk instrumen berbentuk ceklist
Dalam persiapan wawancara selain penyusunan pedoman , yang sangat penting adalah membina hubungan baik (rapport) dengan responden. Keterbukaan responden unutk memberikan jawaban atau respon secara objektif sangat ditentukan oleh hubungan baik yang tercipta antara pewawancara dengan responden. Sebelum memulai berwawancara, pewawancara harus membina persahabatan, keakraban dengan responden, menumbuhkan apresiasi dan kepercayaan responden kepada pewawancara.
Selama berlangsungnya wawancara, hal-hal di atas harus terus dipelihara.
Rusaknya kepercayaan dan hubungan baik dengan responden dapat mengakibatkan kegagalan wawancara. Kegagalan wawancara dalam arti pewawancara tidak mendapatkan data seperti yang diharapkan, baik objektivitas maupun kelengkapannya.
3. Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Kegiatan tersebut bisa berkenaan dengan cara guru mengajar, siswa belajar, kepala sekolah yang sedang memberikan pengarahan, dsb. Observasi dapat dilakukan secara partisipatif atau nonpartisipatif. Dalam observasi partisipatif, pengamat ikut serta dalam kegiatan yaang sedang berlangsung, pengamat ikut sebagai peserta rapat atau peserta pelatihan. Dalam observasi non partisipatif, pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan, dia hanya berperan mengamati kegiatan.
Seperti halnya dalam wawancara, sebelum melakukan pengamatan sebaiknya peneliti atau pengamat menyiapkan pedoman observasi. Dalam penelitian kualitatif, pedoman observasi ini hanya berupa garis-garis besar atau butir-butir umum kegiatan yang akan diobservasi. Rincian dari aspek- aspek yang diobservasi dikembangkan di lapangan dalam proses pelaksanaan observasi. Dalam penelitian kuantitatif, pedoman observasi dibuat lebih rinci, bahkan untuk penelitian-penelitian tertentu dapat
berbentuk ceklis. Terkait dengan hal itu, minimal ada dua macam bentuk atau format pedoman observasi untuk penelitian kuantitatif. Pertama, berisi butir-butir pokok kegiatan yang akan diobservasi. Dalam pelaksanaan pencatatan observasi, pengamat membuat deskripsi singkat berkenaan dengan perilaku yang diamati. Kedua, berisi butir-butir kegiatan yang mungkin diperlihatkan oleh individu-individu yang diamati. Dalam pencatatan observasi pengamat hanya tinggal membubuhkan tanda cek terhadap perilaku atau kegiatan yang diperlihatkan oleh individu-individu yang diamati. Pedoman observasi dapat juga disusun dalam bentuk skala.
Untuk tiap butir kegiatan atau perilaku yang diamati telah disiapkan rentang skala. Skala ini dapat berbentuk skala deskriptif seperti: baik sekali-baik-cukup-kurang-kurang sekali atau sering sekali-sering-kadang- kadang-jarang-jarang sekali.
4. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Dokumen-dokumen dihimpun dipilih sesuai dengan tujuan dan fokus masalah. Kalau fokus penelitiannya berkenaan dengan kebijakan pendidikan, dan tujuannya mengkaji kebijakan- kebijakan pendidikan untuk pengembangan karakter bangsa, maka yang dicari adalah dokumen-dokumen undang-undang, Kepres, PP, Kepmen, Kurikulum, pedoman-pedoman yang berkenaan dengan kebijakan pengembangan karakter bangsa.
Dokumen-dokumen tersebut diurutkan sesuai dengan sejarah kelahiran, kekuatan dan kesesuaian isinya dengan tujuan pengkajian.
Isinya dianalisis (diurai), dibandingkan, dan dipadukan (sintesis) membentuk satu hasil kajian yang sistematis, padu dan utuh. Jadi studi dokumenter tidak sekadar mengumpulkan dan menuliskan atau melaporkan dalam bentuk kutipan-kutipan tentang sejumlah dokumen.
Yang dilaporkan dalam penelitian adalah hasil analisis terhadap dokumen-
dokumen tersebut, bukan dokumen-dokumen mentah (dilaporkan tanpa analisis). Untuk bagian-bagian tertentu yang dipandang kunci dapat disajikan dalam bentuk kutipan utuh, tetapi yang lainnya disajikan pokok- pokoknya dalam rangkaian uraian hasil analisis kritis dari peneliti.
C. Skala Pengukuran
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif (Sugiyono, 2009: 133). Dengan skala pengukuran ini, maka nilai variabel yang akan diukur dengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga akan lebih akurat, efisien dan komunkatif. Misalnya berat emas 19 gram, berat besi 100 kg, suhu badan orang yang sehat 37o Celcius, IQ seseorang 150 dll. Selanjutnya dalam pengukuran sikap, sikap sekelompok orang akan diketahui termasuk gradasi mana dari suatu skala sikap.
Berbagai skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian bidang pendidikan dan sosial antara lain adalah;
1. Skala Likert
Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peniliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.
Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabakan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan titik tolak untuk menyusun item- item instrumen yang daoat berupa pertanyaan atau pernyataab.
Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain:
a. Sangat setuju a. Selalu
b. Setuju b. Sering
c. Ragu-ragu c. Kadang-kadang
d. Tidak setuju d.Tidak pernah e. Sangat Tidak Setuju
a. Sangat positif a. Sangat baik
b. Positif b. Baik
c. Negatif c. Tidak Baik
d. Sangat Negatif d. Sangat tidak baik
Untuk keperluan analisis kualitatif maka jawaban itu dapat diberi skor misalnya:
1) Setuju/ Selalu / Sangat Positif diberi skor (5) 2) Setuju / Sering / Positif diberi skor (4) 3) Ragu-ragu/ kadang-kadang / netral diberi skor (3) 4) Tidak setuju / hampir tidak pernah / negatif diberi skor (2) 5) Sangat tidak setuju / tidak pernah / diberi skor (1)
Instrumen penelitian yang menggunakan skala likert dapat dibuat dalam bentuk checklist maupun pilihan ganda.
a. Contoh bentuk checklist
Berilah jawaban pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat anda, dengan cara memberi tanda (√) pada kolom yang tersedia
N o
Pertanyaan Jawaban
SS ST RG TS STS
1.
2.
Sekolah ini akan menggunakan teknologi
informasi dalam pelayanan
adminstraasi dan akademik
...
√
SS = Sangat Setuju diberi skor (5)
ST = Setuju diberi skor (4)
RG = Ragu-ragu diberi skor (3) TS = Tidak Setuju diberi skor (2) STS = Sangat Tidak Setuju diberi skor (1)
Kemudian dengan teknik pengumpulan data angket maka instrumen tersebut misalnya diberi kepada 100 orang karyawan yang diambil random.
Dari 100 orang pegawai setelah dilakka analisis misalnya 25 Orang menjawab SS
40 0rang menjawab ST 5 Orang menjawab RG 20 Orang menjawab TS 10 Orang menjawab STS
Berdasarkan data tersebut 65 orang (40+25) atau 65% stakeholder menjawab setuju. Jadi kesimpulannya mayoritas stakeholder setuju dengan sekolah yang akan menggunakanteknologi informasi dalam pelayanan adiministrasi dan akademik.
Data interval tersebut juga dapat diaalisis dengan menghitung rata- rata jawaban berdasarkan skoring setiap jawaban dari responden. Berdasarkan skor yang telah ditetapkan dapat dihitung sebagai berikut:
Jumlah skor untuk 25 orang yang menjawab SS = 25 x 5= 125 Jumlah skor untuk 40 orang yang menjawab ST = 40 x 4 =160 Jumlah skor untuk 5 orang yang menjawab RG = 5 x 3 = 15 Jumlah skor untuk 20 orang yang menjawab TS = 20 x 2 = 80 Jumlah skor untuk 10 orang yang menjawab STS = 10 x 1 = 10 Jumlah skor yang didapat 350
Jumlah skor ideal (kriterium) untuk seluruh item = 5 x100 = 500 (seandainya semua menjawab SS). Jumlah skor yang diperoleh dari penelitian
= 350. Jadi berdasarkan data itu maka tingkat perstujuan stakeholder terhadap penggunaan teknologi informasi dalam pelayanan adminstrasi dan akademi sekolah = (350 :500) x 100% = 70% dari yang diharapkan atau 100%.
100 200 300 350 400 500
Jadi berdasarkan data yang diperoleh dari 100 respondern maka rata-rata 350 terletak pada daerah mendekati setuju.
b. Contoh bentuk pilihan ganda
Berilah salah satu jawaban terhadap pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat anda, dengan cara membagi tanda lingkaran pada nomor jawaban yang tersedia.
Kurikulum baru itu akan diterapkan dilembaga pendidikan anda?
a. Sangat tidak setuju b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu / NETRAL d. Setuju
e. Sangat setuju
Dengan bentuk pilihan ganda itu, maka jawbn dapat diletakan pada tempat yang berbeda-beda. Untuk jawaban diatas “sangat tidak setuju” diletakkan pada jawaban nomor pertama. Untuk item selanjutnya jawaban “sangat tidak setuju” dapat diletakkan pada jawaban nomor terakhir.
Dalam penyusunan instrumen untuk variabel tertentu, sebaiknya butir- butir pertanyaan dibuat dalam bentuk kalimat positif,netral atau negatif, sehingga responden dapat menjawab dengan serius dan konsisten. Contoh:
1) Saya setuju dengan ujian nasional untuk mengukur kompetensi lulusan sekolah di Indonesia (positif).
2) Ujian Nasional telah banyak diterapkan dinegara-negara maju. (netral)
3) Saya tidak setuju dengan Ujian Nasioanl untuk mengukur kompetensi lulusan sekolah di Indonesia (negatif).
Dengan cara demikian maka kecenderungan responden untuk menjawab pada kolom tertentu dari bentuk checklist dapat dikurangi dengan model ini juga responden akan selalu membaca pertanyaan setiap item instrumen dan jawabannya. Pada bentuk checklist, sering jawaban tidak dibaca, karena letak jawaban sudah menentu. Tetapi dengan bentuk checklist akan didapat keuntungan dalam hal ini singkat dalam pembuatannya, hermat kertas, mudah
mentabulasikan data, dan secara visual lebih menarik. Data yang diperoleh dari skala tersebut berupada data interval.
2. Skala Guttman
Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban yang tegas, yaitu
“ya – tidak”, “benar – salah”, “pernah-tidak pernah”, “positif – negatif”, dan lain- lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikhotomi (dua alternatif) Jadi kalau pada skala Likert terdapat 3,4,5,6,7 interval, dari kata
“sangat setuju” sampai “sangat tidak setuju”, maka pada dalam skala Guttman ada dua interval yaitu “setuju” atau “tidak setuju”. Penelitian menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.
Contoh:
1. Bagaimana pendapat anda, bila orang itu menjabat kepala sekolah disini?
a. Setuju b. Tidak Setuju
2. Pernahkan pemilik sekolah melakukan pemeriksaan diruang kelas anda?
a. Tidak pernah b. Pernah
Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda, juga dapat dibuat dalam bentuk chekclist. Jawaban dapat dibuat skor tertinggi 1 dan terendah 0. Misalnya untuk jawaban setuju diberi skor 1 dan jawaban tidak setuju diberi 0. Analisa dilakukan seperti pada skala Likert.
Pernyataan yang berkenaan dengan fakta benda bukan termasuk dalam skala pengukuran interval dikotomi.
Contoh:
1) Apakah sekolah anda dekat jalan protokol?
a. Ya b. Tidak
2) Apakah anda punya ijazah sarjana?
a. Punya b. Tidak
3. Semantic Defferensial
Skala pengukuran yang berbentuk semantic defferensial dikembangkan oleh Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun cheklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban “sangat partisipatif”
terletak di bagian kanan garis, atau sebaliknya. Biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang.
Contoh:
MOHON DIBERI NILAI GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH
Bersahabat 5 4 3 2 1 Tidak bersahabat
Tepat janji 5 4 3 2 1 Tepat janji
Bersaudara 5 4 3 2 1 Memusuhi
Memberi pujian 5 4 3 2 1 Mencela
Responden dapat memberi jawaban, pada rentang jawaban yang positif sampai dengan negatif. Hal ini pada persepsi responden kepada yang dinilai. Responden yang memberi penilaian dengan angka 5, berarti persepsi responden terhadap kepala sekolah itu sangat positif, sedangkan bila memberi jawaban pada angka 3, berarti netral, dan bila memberi
jawaban pada angka 1, maka persepsi responden terhadap kepala sekolah sangat negatif.
4. Rating Scale
Dari ketiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan rating-scale data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.
Responden menjawab, senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju, pernah atau tidak pernah adalah merupakan data kualitatif. Dalam skala model rating scale, responden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif yang telah disediakan, tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Oleh karena itu, rating scale ini lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja, tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan dan lain-lain.
Yang penting bagi penyusun instrumen dengan rating scale adalah harus dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item instrumen. Orang tertentu memilih jawaban angka 2, tetapi angka 2 oleh orang tertentu belum tentu sama maknanya dengan orang lain yang juga memilih jawaban dengan angka 2.
Contoh:
Seberapa tinggi pengetahuan anda terhadap mata pelajaran berikut sebelum dan sesudah mengikuti pendidikan dan latihan. Arti setiap angka adalah sebagai berikut.
0 = bila sama sekali belum tahu
1 = telah mengetahui sampai dengan 25%
2 = telah mengetahui sampai dengan 50%
3 = telah mengetahui sampai dengan 75%
4 = telah mengetahui sampai dengan 100% (semuanya)
Mohon dijawab dengan cara melingkari nomor sebelum dan sesudah latihan
Pengetahuan sebelum
mengikuti diklat Mata pelajaran Pengetahuan setelah mengikuti diklat 0 1 2 3 4 Komunikasi 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 Tata ruang kantor 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 Pengambilan
keputusan
0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 Sistem pembuatan
laporan 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 Pemasaran 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 Akuntansi 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 Statistik 0 1 2 3 4
D. Pengembangan Instrumen Non Tes
Untuk mengembangkan instrumen yang baik, ada langkah-langkah yang perlu diperhatikan. Langkah-langkah mengembangkan instrumen baik tes maupun non tes sebagai berikut (Retnawati, 2016: 3-6).
1. Menentukan tujuan penyusunan instrumen
Pada awal menyusun instrumen, perlu ditetapkan tujuan penyusunan instrumen. Tujuan penyusunan ini memandu teori untuk mengonstruk instrumen, bentuk instrumen, penyekoran, sekaligus pemaknaan hasil penyekoran pada instrumen yang akan dikembangkan. Tujuan penyusunan instrumen ini perlu disesuaikan dengan tujuan penelitian.
2. Mencari teori yang relevan atau cakupan materi
Setelah tujuan penyusunan instrumen ditetapkan, selanjutnya perlu dicari teori atau cakupan materi yang relevan. Teori yang relevan digunakan untuk membuat konstruk, apa saja indikator suatu variabel yang akan
diukur. Kaitannya dengan tes, perlu dibatasi juga cakupan materi apa saja yang akan menjadi bahan menyusun tes.
3. Menyusun indikator butir instrumen/soal
Indikator soal ini ditentukan berdasarkan kajian teori yang relevan pada instrument nontes. Adapun pada instrumen tes, selain mempertimbangkan kajian teori, perlu dipertimbangkan cakupan dan kedalaman materi.
Indikator ini telah bersifat khusus, sehingga dengan menggunakan indikator dapat disusun menjadi butir instrumen. Biasanya aspek yang akan diukur dengan indikatornya disusun menjadi suatu tabel. Tabel tersebut kemudian disebut dengan kisi-kisi. Penyusunan kisi-kisi ini mempermudah peneliti menyusun butir soal.
4. Menyusun butir instrumen
Langkah selanjutnya adalah menyusun butir-butir instrumen.
Penyusunan butir ini dilakukan dengan melihat indikator yang sudah disusun pada kisi-kisi. Pada penyusunan butir ini, peneliti perlu mempertimbangkan bentuknya. Misal untuk nontes akan menggunakan angket, angket jenis yang mana, menggunakan berapa skala, penskorannya, dan analisisnya. Jika peneliti akan menggunakan isntrumen berupa tes, perlu dipikirkan apakah akan menggunakan bentuk objektif atau menggunakan bentuk uaraian. Pada penyusunan butir ini, peneliti telah mempertimbangkan penskoran untuk tiap butir, sehingga memudahkan analisis.
5. Validasi isi
Setelah butir-butir soal tersusun, langkah selanjutnya adalah validasi.
Validasi ini dilakukan dengan menyampaikan kisi-kisi, butir instrumen, dan lembar diberikan kepada ahli untuk ditelaah secara kuantitatif dan kualitatif.
6. Revisi berdasarkan masukan validator
Biasanya validator memberikan masukan. Masukan-masukan ini kemudian digunakan peneliti untuk merevisinya. Jika perlu, peneliti
mengkonsultasikannya lagi hasil perbaikan tersebut, sehingga diperoleh instrumen yang benar-benar valid.
7. Melakukan ujicoba kepada responden yang bersesuaian untuk memperoleh data respons peserta
Setelah direvisi, butir-butir instrumen kemudian disusun lengkap (dirakit) dan siap diujicobakan. Ujicoba ini dilakukan dalam rangka memperoleh bukti empiris. Ujicoba ini dilakukan kepada responden yang bersesuaian dengan subjek penelitian. Peneliti dapat pula menggunakan anggota populasi yang tidak menjadi anggota sampel.
8. Melakukan analisis (reliabilitas, tingkat kesulitan, dan daya pembeda) Setelah melakukan ujicoba, peneliti memperoleh data respons peserta ujicoba. Dengan menggunakan respons peserta, peneliti kemudian melakukan penskoran tiap butir. Selanjutnya hasil penskoran ini digunakan untuk melakukan analisis reliabilitas skor perangkat tes dan juga analisis karakteristik butir. Analisis karakteristik butir dapat dilakukan dengan pendekatan teori tes klasik maupun teori respons butir.
9. Merakit instrumen
Setelah karakteristik butir diketahui, peneliti dapat merakit ulang perangkat instrumen. Pemilihan butir-butir dalam merakit perangkat ini mempertimbangkan karakteristik tertentu yang dikehendaki peneliti, misalnya tingkat kesulitan butir. Setelah diberi instruksi pengerjaan, peneliti kemudian dapat mempergunakan instrumen tersebut untuk mengumpulkan data penelitian.
Contoh Pengembangan Instrumen Nontes (Pengembangan Self Regulated Learning) (Retnawati, 2016: 12-15)
Menentukan Tujuan Penyusunan Instrumen Tujuan penyusunan instrumen ini adalah mengembangkan instrumen self regulated learning (SRL).
Menentukan teori yang relevan
Untuk keperluan ini, peneliti dapat mencari teori yang relevan dari buku referensi, jurnal-jurnal ataupun penelitian yang telah terdahulu.
Contohnya adalah ketika mengembangkan instrumen SRL, dicari teori- teori yang relevan. Misalnya, menurut Zumbrunn, dkk mengungkapkan bahwa self regulated learning mencakup 3 fase, meliputi forethought and planningphase, performance monitoring phase, dan reflection on performance phase (Retnawati, 2016: 13). Pada fase pemikiran, ada dua hal yang sangat terkait yakni analisis tugas dan keyakinan dan motivasi diri. Fase control kehendak atau kinerja meliputi pengendalian diri dan pengamatan yang khusus. Fase Refleksi diri terdiri dari perkembangan diri, dan reaksi diri.
Pada fase pemikiran, dapat diklasifikasikan menjadi dua hal yakni analisis tugas (meliputi tujuan pengaturan diri, perencanaan strategis) dan keyakinan motivasi diri (keyakinan diri dan orientasi tugas). Fase kontrol kinerja meliputi pengendalian diri (instruksi diri, fokus perhatian, strategi penyelesaian tugas). Refleksi diri terdiri dari pertimbangan diri (evaluasi diri dan atribusi) dan juga reaksi diri (kepuasan diri dan adaptivitas).
Ketiga hal dalam Self Regulated Learning ini perlu diukur dalam konteks akademik.
Menyusun indikator butir instrumen Dari teori-teori yang relevan, dikonstruk indikator-indikator untuk SRL. Untuk memperjelas tiap indikator, peneliti dapat mengembangkan subindikator. Subindikator ini digunakan untuk menyusun butir instrumen. Contohnya sebagai berikut.
Komponen dan Indikator SRL (dikembangkan dari Zimmerman (2000))
Komponen Indikator Sub Indikator No.
Butir
Pemikiran Analisis Tugas Pengaturan tujuan 1
Perencanaan strategis 2
Keyakinan Diri Kemampuan diri 3
Orientasi tugas 4
Kontrol Kinerja Pengendalian Diri
Instruksi diri 5
Usaha untuk fokus belajar 6 Strategi penyelesaian tugas
7 Pengamatan Pemantauan metakognitif 8
Catatan diri 9
yang Cukup Eksperimentasi diri 10 Refleksi Diri Pertimbangan
diri
Evaluasi diri 11
Atribusi kausal 12
Reaksi diri Kepuasan diri (hadiah) 13 Kepuasan diri (hukuman) 14
Adaptif/defensif 15
Menyusun butir-butir Instrumen
Butir-butir instrumen kemudian disusun berdasarkan subindikator tersebut. Contohnya sebagai berikut. Bentuk yang sesuai dengan kasus ini adalah angket dengan skala Likert, dengan 4 pilihan TP (tidak pernah), J (jarang), S (Sering), SL (Selalu).
Butir untuk mengukur SRL dengan Likert N
o
Pernyataan TP J S SL
1 Saya merumuskan tujuan-tujuan kuliah/belajar saya, sebelum kegiatan dimulai
2 Saya merencanakan strategi untuk mencapai tujuan kuliah/belajar saya
3 Saya mempercayai kemampuan diri saya untuk berhasil dalam kuliah/belajar
4 Saya menitikberatkan usaha mencapai tujuan kuliah/belajar saya dibandingkan dengan kegiatan lain
5 Saya membuat jadwal untuk diri sendiri terkait dengan pencapaian tujuan belajar saya
6 Saya mengupayakan diri untuk fokus belajar 7 Saya menyusun strategi paling tepat untuk
penyelesaian tugas kuliah/belajar
8 Saya membuat peta aktivitas/kegiatan yang telah saya lakukan
9 Saya membuat catatan apa yang telah saya lakukan baik yang berhasil ataupun yang belum 10 Jika ada hal yanng membuat saya gagal, saya
akan berusaha lagi dengan strategi lain
11 Setelah selesai melakukan kegiatan dan melihat
hasilnya (misal akhir semester) saya melakukan evaluasi
12 Saya mencermati penyebab keberhasilan atau kegagalan usaha saya
13 Setelah mencapai hal sesuai target kuliah/belajar, saya memberi hadiah untuk diri sendiri
14 Saya menghukum diri sendiri jika ada hal dari diri sendiri yang menyebabkan saya gagal mencapai target kuliah/belajar
15 Jika suatu strategi kuliah/belajar yang saya gunakan berhasil, saya akan menggunakannya lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Cecil, R Reynolds,dkk. 2010. Measurement and Assesment in Education.
New Jersey: Pearson Education, Inc.
Ekawati, Istina dan Sumaryanta. 2011. Pengembangan Instrumen Penilaian Pembelajaran Matematika SD/SMP. Yogyakarta: PPPPTK Matematika Mansyur , dkk. 2015. Asesmen Pembelajaran Di Sekolah. Yogyakarta.
Pustaka Pelajar
Moleong, 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.
Retnawati, Heri. 2016. Analisis Kuantitatif Instrumen Penelitian : Panduan peneliti, mahasiswa dan psikometrian. Yogyakarta: Parama Publishing Robert, L Ebel and David, A Frisbie. 1991. Essentials of Educational
Measurement. New Delhi: Prentice Hall
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
Sugiyono. 2010. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, N.S. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
E. Penskoran Penilaian
Penskoran penilaian afektif terbagi menjadi dua yaitu penskoran untuk hasil pengamatan, dan penskoran untuk hasil angket. Penskoran untuk hasil pengamatan akan bergantung pada tujuan yang ingin dicapai misalnya pada angket dibawah ini:
Laporan Sikap Peserta Didik Selama Pembelajaran (Satu KD) Nama Peserta Didik : Alimuddin
Mata Pelajaran : Matematika Kompetensi Dasar : 2.1
Indikator Sikap Pertemuan Total
1 2 3 4 5 6
Kehadiran tepat waktu √ √ √ √ √ √ 6
Bertanya √ √ √ √ √ √ 6
Sopan √ √ √ √ √ √ 6
Percaya Diri √ √ √ √ √ √ 6
Kerjasama √ √ √ √ √ √ 6
Fokus √ √ √ √ √ √ 6
Total 36
Tabel diatas berlaku untuk 6 indikator sikap pada satu kompetensi dasar.
Nilai minimal untuk seorang peserta didik jika tidak pernah sama sekali menunjukkan indikator sikap selama 6 kali pertemuan yaitu 0 dan nilai maksimalnya 36. Jika setiap pertemuan menunjukkan keenam indikator sikap tersebut. Kita membuat empat kriteria sikap yaitu sangat baik, baik, kurang baik, dan tidak baik. Sebaran skor untuk keempat kriteria tersebut diperoleh dengan membagi sama besar interval dari 0 sampai 36 dan diperoleh;
0 ≤ skor ≤ 9 : Kriteria Tidak Baik 10 ≤ skor ≤ 18 : Kriteria Kurang Baik 19 ≤ skor ≤ 27 : Kriteria Baik
28 ≤ skor ≤ 36 : Kriteria Sangat Baik
Jadi untuk peserta didik yang bernama Alimuddin pada tabel diatas dengan skor total 36 memiliki sikap yang sangat baik untuk kompetensi dasar nomor 2.1.
Kalau seorang peserta didik lain memiliki total skor untuk enam indikator sikap hasil pengamatan selama pembeljaran satu kompetensi dasar sebesar 23 maka anak tersebut memiliki sikap yang baik. Prinsip seperti ini dapat diperluas untuk menentukan kriteria sikap selama pembelajaran dalam satu semester.
Kemudian untuk penskoran penilaian afektif, misalnya sikap dalam bentuk angket dapat dilakukan dengan menggunakan kondisi ideal dan menghitung rata- rata ideal (Ri) dan Standar Deviasi (Sdi) dengan rumus:
(Ri) = ½ (Jumlah skor maks.yang dicapai instrumen – Jumlah skor min.yang dicapai instrumen)
(Sdi) = (Jumlah skor maks. yang dicapai instrumen – Jumlah skor min.yang dicapai instrumen)
Kemudian, menentukan kriteria kecenderungan sikap, misalnya kita tetapkan 4 kriteria yaitu sangat baik, baik, kurang baik, dan tidak baik menggunakan rumus berikut:
Kriteria Sangat Baik : Ri + 1.5 Sdi < skor ≤ Jumlah skor maksimum
Baik : Ri < skor ≤ Ri + 1.5 Sdi Kurang Baik : Ri - 1.5 Sdi < skor ≤ Ri
Tidak Baik : Jumlah Skor Minimum ≤ skor ≤ Ri + 1.5 Sdi
Untuk memudahkan pemahaman dalam penskoran penilian afektif perhatikan tabel sebagai berikut:
Angket Sikap Terhadap Matematika N
o
Pernyataan SS S N TS STS
1 Matematika pelajaran yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari
2 Matematika pelajaran yang kurang menarik 3 Saya lebih banyak mengerjakan matematika
dibandingkan pelajaran yang lain
4 Matematika bermanfaat untuk kehidupan saya yang akan datang
5 Saya merasa biasa saja jika tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru matematika
6 Saya berusaha lebih giat belajar matematika 7 Saya merasa senang bila tidak dapat
menjawab pertanyaan guru tentang matematika
8 Belajar matematika sangat membosankan 9 Jika menemukan kesulitan dalam belajar
matematika saya bertanya pada teman.
10 Saya membeli buku-buku yang berkaitan dengan matematika
11 Saya percaya akan memperoleh nilai terbaik dalam matematika
12 Matematika penting dipelajari oleh semua peserta didik
13 Matematika membuat perasaan saya putus
asa
14 Konsep matematika tidak ada kaitan dengan persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari 15 Jika ada konsep yang belum jelas maka saya
tanyakan langsung pada guru matematika 16 Pelajaran matematika sulit bagi saya
17 Matematika membantu saya berpikir secara logika
18 Saya merasa ada peningkatan dalam belajar matematika
19 Saya tidak mengerjakan soal-soal matematika yang ada dibuku pelajaran
20 Saya ingin memperoleh nilai matematika yang tinggi
21 Belajar matematika harus bertahap dan terus menerus
22 Saya mempelajari dahulu materi yang akan diajarkan guru matematika berikutnya
23 Konsep matematika tidak terstruktur dan terarah sehingga sulit dipahami
24 Belajar matematika lebih banyak meghafal rumus
25 Matematika kurang penting dalam kehidupan 26 Mengerjakan soal matematika butuh waktu
lama
27 Saya suka pelajaran yang banyak menggunakan rumus matematika
Dari contoh diatas dengan jumlah butir 27, skor maksimal untuks setiap butir 5 dan skor minimum untuk setiap butir 1. Dengan demikian,jumlah skor maksimum yang dicapai = 5 x 27 =135 dan jumlah skor minimum 1x27 = 27 sehingga didapat hitung rata-rata ideal dan standar deviasi idealnya yaitu :
Ri = ½ (135+27) = 81 Sdi = (135-27) = 18 Kemudian kita menghitung:
Ri + Sdi = 81 + (1.5) (8) = 93
Ri - Sdi = 81 - (1.5) (8) = 69
Jadi kriteria kecenderungan sikap terhadap matematika didapat tabel sebagai berikut:
Interval Skor Kriteria
93 < skor ≤ 135 Sangat Baik
81 < skor ≤ 93 Baik
69 < skor ≤ 81 Kurang Baik
18 < skor ≤ 69 Tidak Baik
Jadi, jika seorang peserta didik tidak memperoleh jumlah skor dari hasil angket sikap tergadap matematika sebesar 70 maka peserta didik tersebut cenderung memiliki sikap yang kurang baik terhadap matematika.