• No se han encontrado resultados

31.13.1. Stringers

1) The scantlings of bilge stringers and the number of stringers on each side of the hull shall be determined from Tabel K.9. 2) Stringers may be laminated. Each lam-

ination should be not less than 12 mm in thickness and end joints in lamina- tions shall be at least 9 frame spaces apart.

3) Stringers, if not in one length, may be scarphed or lapped. Where a scarph is fitted, its length shall be not less than 6 times the dimension of the face or edge scarphed and it shall be through bolted. (Refer to 31.15.4(2)). Where a lapped stringer arrangement is used, the length of overlap, side by side. shall be not less than 9 frame spaces (10 frames). 4) In ‘wet well’ vessels stringer details shall

be specially considered. 31.13.2. Sheer clamps

1) The recommended scantlings for sheer clamps are given in Table K.10. How- ever, the siding should be not less than 1.5 times hull plank thickness and mould- ing generally not less than 2 times tabular moulding of deck beam ends given on Table K.12.

2) Sheer clamps, if not in one length, may be scarphed and such scarphs shall be not less in length than 6 times the moulding of the sheer clamp fitted, and be edge bolted.

31.13.3. Beam shelf

The beam shelf scantlings are given in Table K..10

31.13.4. Fitting Longitudinal Section

1) Beyond 0.6 L amidships the scantlings of stringers, sheer clamps and beam shelves may be reduced by a uniform taper of both moulding and siding by up to 20 per cent of the. cross sectional area shown in the tables.

2) Scarphs in stringers, sheer clamps, beam shelves etc., may not be closer than three times the length of the scarph. measured between the closest extremities of the scarphs considered. Scarphs are not per- mitted in way of bulkheads, web frames or masts, or in line with keel scarphs. The scarph in a sheer clamp shall not be closer to the butt in a sheer strake than 6 times frame spacing used.

3) Sheer clamps and beam shelves in way of raised forecastle decks shall have similar scantlings to those given in Table K.10

4) Bilge stringers and sheer clamps shall be connected to the stem and transom by a grown knee, suitable chock or bracket. 5) Breasthooks of grown timber, chocks of

straight grain or brackets. are to be fitted at the forward end of the hull between the stern and:

dipasang pada ujung bagian depan lam- bung antara balok haluan dan :

a. Galar jepit sisi atas; dan

b. Setiap galar balok samping.

6) Lutut besar, chock pejal atau breket harus

dipasang diantara transom dan:

a. Galar jepit sisi atas;

b. Setiap galar balok samping

dan

c. Hog.

7) Lebar breasthooks. chocks dan lutut yang

disyaratkan pada klausul 31.15.4 (5) dan 31.15.4 (6) tidak boleh kurang dari uku- ran terkecil bagian yang disambungkan. Panjang lengan tidak boleh kurang dari 6 kali tebal lutut atau sambungan yang digunakan. Ukuran breket harus dijelas- kan dalam rencana yang diajukan untuk persetujuan.

31.14. Papan lambung kapal

31.14.1. Kayu

1) Ukuran papan lambung harus seperti

yang ditunjukkan dalam tabel K.11 dan catatan terkait. Papan pada sistem gading lengkung tidak boleh memiliki panjang (dalam meter) kurang dari jarak antara gading aktual (dalam milimeter) dibagi dengan 80, kecuali dari transom sampai sambungan datar bagian depan berikutnya bila panjang papan dapat dikurangi atas persetujuan Otoritas yang berwenang.

2) Pada sistem gading besar dengan papan

membujur, panjang minimal tiap papan harus ditentukan menggunakan metode yang diberikan dalam klausul 31.14.1 (1) dan dengan mengasumsikan jarak gad- ing yang dibutuhkan untuk kapal gading lengkung dengan panjang yang sama.

3) Sambungan datar tidak boleh kurang

dari 1500 mm satu sama lain kecuali di- antaranya terdapat lajur papan sehingga jarak 1200 mm diperbolehkan.

4) Sambungan datar tidak boleh berada pada

bidang melintang yang sama kecuali ter- dapat tiga lajur papan diantaranya.

5) Sambungan datar pada lajur pengapit lu-

nas tidak boleh ditempatkan pada posisi yang sama dengan skrap lunas dan skrap

hog (Lihat klausul 31.14.4 (2) galar pen-

jepit atas).

6) Kapal dengan papan membujur harus

memiliki kotak sambungan datar di- pasang di antara gading-gading ber- batasan dengan sambungan datar, memi- liki tebal sama dengan papan lambung dan lebar melewati pada lajur terdekat pada papan dengan jumlah yang sama dengan setengah tebal kotak sambungan datar. Urat kayu kotak sambungan datar berada dalam arah membujur.

7) Sambungan datar papan lambung kapal

tidak boleh ditempatkan pada gading- gading kecuali bila Otoritas yang ber- wenang mengijinkan yaitu dengan tebal dan jarak antara gading sebagai pertim- bangan jumlah pengencang yang terkait dengan penentuan ukuran gading.

8) Setiap bukaan yang dibuat pada papan

lambung memiliki diameter lebih besar dari sepertiga lebar papan harus dipasang penggandaan bagian dalam atau lajur tam-

a. Sheer clamp; and b. Every stringers.

6) Grown knees, solid chocks or brackets are required to be fitted between the tran- som and:

a. Sheer clamp; b. Every stringers, and c. Hog.

7) The siding of the breasthooks. chocks and knees required for 31.15.4 (5) and 31.15.4 (6) shall be not less than the least dimension of the section of the members being connected. The length of the arms should be not less than 6 x the siding of the knee or connection being used. Bracket scantlings should be specified on plans submitted for approval.

31.14. Hull planking

31.14.1. Timber

1) The scantling of the hull planking shall be as shown in Table K.11 and associated notes. No plank in a bent frame system shall have a length in metres less than the actual frame spacing in millimetres divided by 80. except from the transom to the next butt forward when the plank length may be reduced subject to approv- al by the Authority.

2) In longitudinally planked web frame sys- tems the minimum length of any plank shall be determined using the method given in clause 31.14.1(1) and by assum- ing the frame spacing required for a bent frame vessel of the same length. 3) No butts are to be nearer than 1500 mm to

each other unless there is a passing strake between when a distance of 1200 mm will be allowed.

4) No butts shall be in the same transverse plane unless there are three passing strakes between.

5) Butts in garboard strakes shall be clear of keel and hog scarphs (See clause 31.14.4 (2) re sheer clamp).

6) Longitudinally planked vessels shall have butt blocks fitted close between frames adjacent to the butt, having a thickness equal to that of the hull planking and a width of overlap on the adjacent strakes of planking by an amount equal to half the thickness of the bun block. The grain of the butt blocks shall run in the longitu- dinal direction.

7) The butts in hull planking shall not be po- sitioned on frames except where the Au- thority is satisfied that by virtue of frame siding and spacing. and in consideration of the number of fastenings related to the frame scantlings. butts on frames may be permitted.

8) Any opening made in the hull planking having a diameter greater than one third of the plank width shall be fitted with an internal doubling or compensator strake in the same manner described in clause

bahan dengan cara yang sama seperti pada bagian klausul 31.14.4.(2). Bila lebih dari satu papan dipotong, pertimbangan khusus harus diambil oleh Otoritas yang berwenang

9) Lebar dari setiap lajur papan lambung ka-

pal tidak boleh kurang dari dua kali tebal papan sesuai tabel. Juga tidak boleh lebih besar 4 kali dari tebal papan sesuai tabel untuk 3 lajur di sekitar belokan bilga pada bagian tengah kapal, kecuali bagian ujungnya direkatkan atau dibentuk secara cetak dingin di mana lebar papan tersebut telah disetujui Otoritas yang berwenang. 31.14.2. Geladak

1) Ukuran balok geladak biasa tidak boleh

kurang dari yang ditentukan pada Tabel K12, dan catatan terkait

2) Tabel ukuran untuk balok geladak meng-

indikasikan ukuran balok pada garis ten- gah lambung kapal. Tinggi ujung balok boleh 50 persen dari yang ada di garis tengah kapal tapi dalam hal ini tidak boleh kurang dari tebal balok.

3) Balok ujung lubang palka dan carling

lebarnya lebih dari 30 persen dari tabel tebal balok geladak biasa dimana dua atau lebih balok geladak biasa terpotong.

4) Carling harus memiliki tebal sama den-

gan balok geladak pada bagian ujung bu- kaan geladak, sedangkan tingginya harus sama dengan balok geladak di posisi car- ling tautkan.

5) Diameter baut pengencang ditentukan se-

suai Tabel K26 harus dipasang pada sisi geladak diantara carling dan galar pen- jepit atas dimana:

a. panjang bukaan geladak me-

lebihi 1,80 meter;

b. lebar bukaan tersebut mele-

wati balok;

c. memotong 3 atau lebih balok

geladak normal; atau

d. selain yang disyaratkan oleh

Otoritas yang berwenang

6) Bila balok dipasang dengan anggapan

bahwa penataan yang sesuai dari pilar dan balok penopang bagian depan dan belakang kapal panjang balok harus menggunakan Tabel K12 serta harus merupakan jarak antara balok penopang atau balok penopang dan sisi kapal

7) Balok yang kuat, atau dengan penguatan

lain yang setara, harus dipasang di bawah winches, tiang utama dan di tempat lain- nya untuk geladak yang diperlukan me- nahan beban yang terkonsentrasi atau diatas beban normal. Lutut penahan atas atau breket harus dipasang di ujung setiap balok.

8) Lodging knees atau breket harus dipasang di

bagian ujung semua balok geladak utama atau balok yang di berikan penguatan seperti yang dijelaskan dalam klausul 31.14.1.(7) dan juga pada sudut bukaaan geladak di antara carling dan balok utama di mana bukaan tersebut ada di dalam klausul 31.14.1(5)

9) Tidak dibolehkan adanya takik atau bangunan

di atas balok geladak melebihi ukuran kete- balan balok geladak dari plywood diambil dari Tabel K13.

31.14.4.(2). Where more than one plank is cut special consideration will be re- quired by the Authority.

9) The width of any strake of hull plank- ing shall not be less than 2 times tabu- lar plank thickness. nor greater than 4 times tabular plank thickness for the 3 strakes in way of the turn of the bilge at amidships, except in edge glued or cold moulded construction in which case the plank widths shall be subject to the ap- proval of the Authority.

31.14.2. Decks

1) Scantlings of ordinary deck beams are

not to be less than those determined from Table K12, and associated notes.

2) The scantling tables for deck beams indi-

cate the size of the beam at the centreline of the hull. The moulding at beam ends may be 50 per cent of that at the cen- treline but in any case shall be not less than the siding of the beam.

3) Hatch end beams and carlings are to be

sided 30 per cent in excess of the tabu- lar siding for ordinary deck beams where two or more ordinary deck beams are cut.

4) Carlings shall have sidings equivalent to

deck beams at the ends of deck openings, whilst the moulding shall be equal to that of the deck beam to which the carling is attached.

5) Tie bolts of diameters determined from

Table K26 shall be fitted at side decks between the carlings and sheer clamp where:

a. the length of deck opening ex-

ceeds 1.80 metres;

b. the width of such opening

exceeds beam;

c. 3 or more normal deck beams

are cut; or

d. otherwise as required by the

Authority

6) Where beams are fitted in association

with a suitable arrangement of pillars and fore and aft girders the length of beam to be used for Table K12 shall be the dis- tance between girders or the girder and the side of the vessel.

7) Strong beams. or equivalent strengthen-

ing, shall be fitted in way of winches, masts and other places where the deck is required to withstand concentrated or above normal loadings. Hanging knees or brackets shall be fitted at the ends of all such beams.

8) Lodging knees or brackets shall be fitted at the ends of all main deck beams or beams providing stiffening as described in clause 31.14.1.(7) and also at the corners of deck openings between the carlings and main beams where such openings come within the scope of clause 31.14.1 (5).

9) In no case should a notch or housing on the

upper side of a deck beam exceed the scant- ling thickness of plywood decking when de- rived from Table K13.

10) In no case should a notch on the under side at the end of deck beams exceed 1/5

10) Tidak dibolehkan adanya takik di bagian sisi bawah ujung balok geladak melebihi 1/5 dari tinggi balok (atau kedalaman) pada bagian ujungnya

31.14.3. Papan geladak

1) Tebal papan geladak diperoleh dari Tabel

K13 dan secara umum memiliki lebarnya tidak lebih dari dua kali tebalnya. Papan penutup dan papan utama mempunyai lebar setidaknya 1,5 kali lebar papan, sedangkan ujung geladak harus dibentuk senta pada papan penutup.

2) Pergiliran sambungan datar (butt) yang

sama seperti yang disyaratkan untuk pa- pan lambung kapal pada klausul clause 31.14.1(3) dan 31.14.1(4) harus dilakukan.

3) Dalam hal dimana bukaan geladak seperti

pada klausul 31.14.2(5) (a) dan (b), Otori- tas yang berwenang dapat mensyaratkan tambahan penegar dan/atau penambahan ukuran balok geladak.

31.14.4. Lutut penahan atas dan lodging knees

1) Lutut penahan atas harus dipasang den-

gan posisi seperti berikut:

a. Pada bagian ujung semua ba-

lok geladak dibukaan geladak seperti yang dijelaskan dalam klausul 31.14.1(5),;

b. Pada bagian ujung balok

besar seperti yang dijelaskan dalam klausul 31.14.1(7), dan

c. Pada bagian ujung balok lain

seperti yang disyaratkan oleh Otoritas yang berwenang.

2) Lutut penahan atas bisa berupa kayu pa-

dat atau kayu laminasi, atau breket yang difabrikasi, dan panjang lengannya tidak boleh kurang dari 3 kali tinggi di bagian tengah balok yang ditunjukkan dalam Ta- bel K12. Tebal leher pada siku kayu padat harus 40 persen dari panjang lengannya.

3) Lengan lutut penahan atas harus diken-

cangkan ke balok geladak dan gading sisi kapal dengan setidaknya 3 baut berdiam- eter sesuai pada Tabel K26 di tiap lengan. Pengencangan seperti itu tidak perlu me- nembus geladak atau papan.

4) Lodging knees disyaratkan dipasang pada

tempat berikut :

a. Pada bagian ujung semua

balok geladak di bukaan ge- ladak seperti dijelaskan dalam klausul 31.14.1(3) dan (5); dan

b. Pada bagian ujung carling di

bukaan geladak seperti dijelas- kan pada 31.14.1(8)

5) Proporsi dan pengencangan lodging knees harus seperti pada lutut pena- han atas yang dijelaskan dalam klausul 31.14.3(2) dan (3)) dan Tabel K26.

31.15. Sekat kedap air

31.15.1. Umum

1) Setiap kapal harus dilengkapi dengan

sekat kedap air seperti yang disyaratkan di Seksi 6 dan 9 dari standar ini.

2) Sekat kedap air dapat dibuat dari kayu

atau besi. Bahan-bahan lain harus mendapat persetujuan Otoritas yang ber- wenang.

of the beam moulding (or depth) at the ends.

31.14.3. Deck planking

1) Deck planking thickness shall be as ob-

tained from Table K13 and generally hav- ing a siding of not more than twice this thickness. Cover boards and king planks shall be sided at least 1.5 times plank sid- ing, while deck ends are to be jogged into cover boards.

2) A shift of butts similar to that required for

hull planking in clause 31.14.1 (3) and 31.14.1 (4) should be obtained.

3) In the case of deck openings referred to in

clause 31.14.2(5) (a) and (b) the Author- ity may require additional stiffening and/ or increased deck frame scantlings to be incorporated.

31.14.4. Hanging and lodging knees

1) Hanging knees are to be fitted in the fol-

lowing positions:

a. at the ends of all deck beams in

way of the deck openings de- scribed in clause 31.14.1(5);

b. at the ends of strong beams as

described in clause 31.14.1(7), and

c. at the ends of other beams as

may be required by the Au- thority.

2) Hanging knees may be of grown or lami-

nated timber, or fabricated brackets, and the arms shall be not less in length than 3 times the centreline depth of the beam shown in Table K12. The throat mould- ing of grown timber knees shall be 40 per cent of the arm length.

3) The arms of hanging knees are to be fas-

tened to the deck beams and hull frames with at least 3 bolts of the diameter shown on Table K26 in each arm. Such fastenings need not pass through decking or planking.

4) Lodging knees are required to be fitted in

the following positions:

a. at the ends of all deck beams

in way of the deck openings described in clause 31.14.1 (3) and (5); and

b. at the ends of carlings in way

of deck openings described in clause 31.14.1 (8)

5) The proportions and fastening of lodging

knees shall be as for hanging knees and described in clause 31.14.3(2) and (3) and Table K26. respectively.

31.15. Watertight bulkheads

31.15.1. General

1) Every vessel shall be provided with wa-

tertight bulkheads as required by Sections 6 and 9 of this standard.

2) Watertight bulkheads may be constructed

of timber or steel. Other materials shall be subject to special consideration by the Authority.

3) Watertight bulkheads shall be pierced to

3) Sekat kedap air harus dilubangi dengan kedalaman seminimum mungkin, dan saat dinding dilubangi, harus dilaku- kan langkah yang tepat untuk menjaga kekedapairannya.

4) Semua bukaan akses pada sekat kedap air

yang diperbolehkan oleh Otoritas yang berwenang harus memenuhi persyaratan klausul 7.5, 9.7 dan 9.8 dari Bab ini. Bila penegar terpotong pintu kedap air, bukaannya harus dibingkai dan dibreket untuk menjaga kekuatan penuh sekat tersebut.

31.15.2. Sekat kayu

1) Sekat kayu harus dikonstruksikan dengan

ukuran sesuai Tabel K25. Sekat tersebut harus memiliki penegar vertikal yang dikencangkan pada dasar dan pada balok geladak.

2) Sekat harus dipasang pada kayu padat,

atau sesuai dengan yang diperbolehkan di klausul 31.22. Dasar kayu harus dileta- kan pada non-setting mastic atau bahan lain yang disetujui untuk tujuan ini dan dikencangkan menerus ke papan lam- bung.

3) Papan pada sekat kayu boleh dipasang

baik pada alur atau di atas permukaan dasar sekat. Papan juga bisa dikencang- kan ke permukaan gading tinggi atau gad- ing besar dimana gading-gading dipasang dan dikencangkan ke papan lambung dan ukurannya tidak kurang dari ukuran gad- ing besar yang ditunjukkan di Tabel K7.

4) Sekat papan harus dipasang dengan dua

penguat diagonal yang mempunyai kete- balan sama dan terbuat dari bahan yang disetujui oleh Otoritas yang berwenang untuk lapisan tersebut.

31.15.3. Sekat baja

1) Ukuran sekat baja ditentukan dengan

menggunakan Seksi 20 dari bab ini.

2) Sekat baja bisa dipasang ke dudukan

dasar lambung dan balok geladak pada bidang vertikal yang sama dengan cara ditekuk atau diberi dudukan pada setiap sisinya atau dikencangkan langsung se- cara rata pada permukaan vertikal. Mas-

tic sealant harus digunakan antara sekat

dengan dasar dan balok geladak.

3) Jika sekat baja dipasang pada dudukan

dasar lambung dan balok geladak atau dengan tekukan sisi, maka lebar dari dasar harus 2 kali dari panjang flens dari tekukan sisi dan tingginya sama untuk sekat kayu dengan tinggi yang sama.

31.16. Pilar atau tiang penyangga

31.16.1. Beban pilar

Beban pilar diperoleh dari rumus berikut ini: w = 0,715 b h s ton

di mana:

w = beban dalam ton

b = lebar dari daerah yang ditumpu dalam meter s = jarak pilar dalam meter

h = tinggi dalam meter di atas geladak yang ditu- mpu, seperti yang dijelaskan di bawah ini:

1) h untuk pilar di bawah geladak terbuka di

mana muatan diangkut adalah jarak dari

are pierced proper steps shall be taken to maintain their watertight integrity.

4) Any access openings in watertight bulk-

heads that may be permitted by the Au- thority shall comply with the require- ments of clauses 7.5, 9.7 and 9.8 of this Chapter. Where stiffeners are cut in way of watertight doors. the openings are to be framed and bracketed to maintain the full strength of the bulkhead.

31.15.2. Timber bulkheads

1) Timber bulkheads shall be constructed to

Documento similar