• No se han encontrado resultados

Budidaya rumput laut

N/A
N/A
rindaaul utamii

Academic year: 2022

Share "Budidaya rumput laut"

Copied!
76
0
0

Texto completo

(1)

DI KELOMPOK KUDA LAU T DESA PADA KECAMATAN NUBATUKAN KABUPATEN LEMBATA

ANDREAS ATAKEBELEN

PROGRAM STUDI DILUAR DOMISILI

PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)

PERNYATAAN MENGENAI LAPORAN AKHIR DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan laporan akhir Budidaya Rumput Laut Eucheuma cottonii di Kelompok Kuda Laut Desa Pada Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata adalah karya saya dengan arahan dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir laporan ini.

Lembata, Juli 2015 Andreas Atakebelen

NIM J2H413039

(3)

ANDREAS ATAKEBELEN. Budidaya Rumput Laut Eucheuma cottonii di Kelompok Kuda Laut Desa Pada Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata.

Dibimbing oleh CECILIA ENY INDRIASTUTI dan MIAN PANJAITAN.

Praktik Kerja Lapangan yang dilakukan di Kelompok Kuda Laut bertujuan untuk mengetahui Budidaya Rumput laut terutama penanganan hama dan penyakit rumput laut secara langsung di lokasi PKL, serta mengetahui permasalahan dan solusi dalam kegiatan budidaya rumput laut di lokasi PKL.

Praktik Kerja Lapangan ini dilaksanakan dengan beberapa metode antara lain terlibat langsung dalam kegiatan budidaya dan melakukan wawancara atau proses tanya jawab dengan anggota kelompok Kuda Laut serta pengambilan data tentang teknik budidaya rumput laut mulai dari persiapan wadah, pembibitan, pencegahan hama dan penyakit serta pemanenan. Selain itu pengambilan data dilakukan juga dengan cara mengisi formulir dan catatan yang berkaitan dengan berbagai aspek dalam budidaya rumput laut khususnya teknik budidaya serta pengendalian hama dan penyakit dalam budidaya rumput laut.

Fasilitas utama yang terdapat di Kelompok Kuda Laut adalah lahan untuk budidaya, bibit rumput laut, tali ris, tali pengikat bibit, jangkar, pelampung dari jerigen, wadah budidaya/kandang jaring. Sedangkan fasilitas pendukungnya adalah sarana transportasi berupa “ban dalam” sebagai pengganti sampan, pisau dan parang, gobah, timbangan, terpal, para-para penjemuran, gudang, tempat seleksi dan tempat pengikatan bibit, alat pengukur kualitas air, serok/seser untuk pengendalian hama, dan tenaga kerja.

Dalam pelaksanaan kegiatan PKL di kelompok Kuda Laut, metode yang dipakai adalah metode longline dan metode kandang jaring. Dari kedua metode yang dipakai, frekuensi hama yang menyerang lebih banyak terdapat pada metode longline sedangkan pada metode kandang jaring, hama jarang menyerang atau kurang karena wadah budidaya dikelilingi oleh jaring. Namun demikian, penyakit untuk kedua metode ini mempunyai frekuensi penyerangan yang sama karena sumber utama dari datangnya penyakit tersebut adalah kualitas air yang kurang baik atau tidak sesuai dengan ketentuan, serta pemilihan bibit yang kurang cermat sehingga ada bibit yang sudah terserang penyakit ditanam dengan bibit yang baik.

Jenis hama yang menyerang rumput laut di Kelompok Kuda laut selama kegiatan PKL adalah hama mikro micro grazer dan juga hama makro macro grazer.

(4)

melekat pada thallus tanaman rumput laut, seperti larva bulu babi Tripneustes dan larva teripang Holoturia sp. Larva bulu babi akan menyebabkan tanaman rumput laut menjadi berwarna kuning sementara larva teripang akan menetap pada thallus dan tumbuh membesar dan akan menjadi hama makro. Hama makro adalah hama yang berukuran lebih besar dari dua cm. Hama makro yang paling ganas dan dapat menghancurkan tanaman rumput laut adalah ikan baronang Siganus spp dan penyu hijau Chelonia midas. Hama lainnya yaitu bulu babi Diadema spp, teripang Holothuria sp, dan bintang laut Protoneostes.

Penyakit yang biasa menyerang tanaman rumput laut adalah ice-ice. Gejala penyakit ini dapat dilihat dari thallus rumput laut yang pucat dan memutih kemudian terputus. Penyakit lain yang menyerang adalah whitespoot. Gejala timbulnya penyakit ini dilihat dari warna sebagian thallus yang memutih kemudian menyebar keseluruh thallus.

Dengan mengetahui hama dan penyakit yang menyerang pada rumput laut maka dalam kegiatan membudidayaan komoditas tersebut pembudidaya dapat meminimalisir hama dan penyakit yang menyerang, agar mencapai hasil produksi yang sesuai dengan keinginan pembudidaya. Kegiatan meminimalisir hama yang menyerang adalah dengan cara memasang jaring pada wadah budidaya dan memodifikasi wadah budidaya dengan metode yang tidak memudahkan hama menyerang seperti metode kandang; sedangkan untuk meminimalisir penyakit, cara yang dilakukan adalah dengan menguji dan mempertahankan kualitas air dan memperhatikan aspek-aspek teknis dalam pemilihan lokasi budidaya dan juga dengan memodifikasi metode budidaya yang digunakan.

Kata kunci : budiaya rumput laut Eucheuma cottonii, hama dan penyakit

(5)

DI KELOMPOK KUDA LAU T DESA PADA KECAMATAN NUBATUKAN KABUPATEN LEMBATA

ANDREAS ATAKEBELEN

Laporan Tugas Akhir

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Muda pada Program Keahlian Teknologi Produksi dan

Manajemen Perikanan Budidaya Persiapan AKN Kabupaten Lembata

PROGRAM STUDI DILUAR DOMISILI

PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(6)

2015

Judul Tugas Akhir :Budidaya Rumput Laut Eucheuma cottonii di Kelompok Kuda LautDesa Pada Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata.

Nama : Andreas Atakebelen

NIM : J2H413039

Disetujui oleh

Ir Cecilia Eny Indriastuti, MSi Pembimbing I

Mian Panjaitan,SPi,MSi Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr D Iwan Riswandi, SE, MSi Koordinator PDD IPB

Ir Irzal Effendi, Msi

Koordinator Program Keahlian

Dr Ir Bagus Priyo Purwanto , M Agr Direktur

(7)

PRAKATA

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dengan judul Budidaya Rumput Laut Eucheuma cottonii di Kelompok Kuda Laut Desa Pada Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata. Tujuan pelaksanaan kegiatan PKL ini adalah sebagai salah satu syarat untuk Memperoleh gelar Ahli Muda pada Program Keahlian Teknologi Produksi dan Manajemen Perikanan Budidaya dan juga untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan pengalaman kerja serta wawasan bagi mahasiswa sesuai dengan bidang kajian masing-masing.

Kegiatan PKL dan Penulisan Laporan Akhir ini tidak akan selesai dengan baik tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Lembata yang telah menyetujui berdirinya Akademi Komunitas di Kabupaten Lembata dengan Institut Pertanian Bogor sebagai Perguruan Tinggi Pembina; Rektor Institut Pertanian Bogor, Direktur Program Diploma, Koordinator Program Keahlian Teknologi Produksi dan Manajemen Perikanan Budidaya beserta Civitas Akademika Institut Pertanian Bogor, Bapak/Ibu dosen Program Keahlian Teknologi Produksi dan Manajemen Perikanan Budidaya Program Diluar Domisili Institut Pertanian Bogor Akademi Komunitas Lembata, yang dengan sabar telah memberi bekal ilmu pengetahuan dan bimbingan selama masa perkuliahan.

Terima kasih juga kepada Ibu Ir Cecilia Eny Indriastuti, MSi selaku dosen pembimbing I dan Ibu Mian Panjaitan, SPi, MSi selaku dosen pembimbing II yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan laporan ini; Bapak Kepala Dinas dan staf Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata yang telah menerima penulis untuk melaksanakan PKL di kelompok binaan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata; dan juga Bapak Mathias Idamontanus Tao Banin, SST.Pi. selaku pembimbing lapangan yang telah membantu penulis selama menjalankan PKL ini; Bapak Aleks Witak selaku ketua kelompok serta anggota kelompok Kuda Laut Desa Pada Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata yang telah membantu penulis selama menjalankan Kegiatan PKL.

Terima kasih kepada orang tua dan keluarga besar penulis yang senantiasa memberikan doa serta dukungan dalam menyelesaikan Laporan PKL ini; Fidelis Kia Sura sahabat yang selalu memberi masukan dan kritik dalam penulisan laporan ini;

rekan-rekan mahasiswa Program Keahlian Teknologi Produksi dan Manajemen

(8)

Akademi Komunitas Lembata, serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian laporan PKL ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Tak ada gading yang tak retak, oleh karenanya penulis mohon maaf atas segala kekurangan dan kelemahan dalam penulisan laporan akhir ini.

Semoga laporan Tugas Akhir ini bermanfaat bagi penulis secara khusus dan pembaca pada umumya.

Lembata, Juli 2015 Andreas Atakebelen

(9)
(10)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI x

DAFTAR TABEL xi

DAFTAR LAMPIRAN xi

DAFTAR GAMBAR xi

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Tujuan 3

1.3 Batasan Masalah 4

2. METODE KAJIAN

2.1 Waktu dan Tempat 5

2.2 Komoditas 5

2.2.1 Taksonomi Rumput Laut 5

2.2.2 Siklus hidup dan reproduksi 6

2.2.3 Teknik Budidaya 6

2.3 Metode Pelaksanaan PKL 9

3. KEADAAN LOKASI PRAKTIK

3.1 Letak Geografis 11

3.2 Sejarah 11

3.3 Organisasi dan Ketenagakerjaan 13

4. INFRASTRUKTUR DAN SARANA PRODUKSI 4.1 Kegiatan Pembibitan Rumput Laut

4.1.1 Fasilitas Utama 15

4.1.2 Fasilitas Pendukung 15

4.2 Kegiatan Pembesaran Rumput Laut 15

4.2.1 Fasilitas Utama 15

4.2.2 Fasilitas Pendukung 16

5. KEGIATAN PRAKTIK KERJA LAPANG

5.1 Kegiatan Pembibitan Rumput Laut 17

5.1.1 Persiapan Lokasi Pembibitan 17

5.1.2 Ketersediaan Bibit 19

5.1.3 Penentuan Metode Budidaya dan Penanaman 19

5.1.4 Pemeliharaan Rumput Laut 21

5.1.5 Hama dan Penyakit 21

5.1.6 Pemanenan Rumput Laut 23

5.2 Kegiatan Pembesaran Rumput Laut 24

5.2.1 Persiapan Lokasi Pembesaran 24

5.2.2 Ketersediaan Bibit 24

5.2.3 Pemilihan Metode Budidaya dan Penanaman 25

5.2.4 Pemeliharaan Rumput Laut 29

5.2.5 Pengendalian Hama dan Penyakit 29

5.2.6 Panen dan Pasca Panen Rumput Laut 40

6. SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan 44

6.2 Saran 44

Daftar pustaka 46

Lampiran 47

(11)

DAFTAR TABEL

1 Jumlah karyawan berdasarkan tingkat pendidikan 14

2 Kisaran parameter kualitas air di lokasi kelompok kuda laut 18 3 Hasil pengamatan jenis dan jumlah hama yang menyerang 36

4 Standar mutu beberapa jenis rumput laut kering 43

DAFTAR LAMPIRAN

1 Peta lokasi Kelompok Kuda Laut Desa Pada 48

2 Daftar bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan 49

3 Kegiatan pencegahan hama dan penyakit 50

4 Fasilitas pencegahan hama dan penyakit 51

5 Kegiatan dalam gambar 52

DAFTAR GAMBAR

1 Rumput Laut Eucheuma cottonii 5

2 Struktur Organisasi kelompok kuda laut 12

3 Lokasi budidaya kelompok kuda laut 17

4 Penanaman dengaan metode longline 20

5 Penanaman dengan metode kandang jaring 21

6 Lokasi pembesaran rumput laut 24

7 Seleksi bibit 25

8 Design konstruksi longline 26

9 Kegiatan seleksi bibit 26

(12)

11 Design konstruksi rakit kandang jaring 28

12 Pengikatan bibit pada metode kandang jaring 28

13 Penyu Hijau 30

14 Rumput laut yang terserang penyu hijau 31

15 Hama Ikan Baronang 32

16 Rumput laut yang dimakan baronang 32

17 Hama berupa ikan-ikan kecil 33

18 Rumput laut yang terserang ikan-ikan kecil 34

19 Sargasum 34

20 Rumput laut yang terserang Ballanus sp 35

21 Gelidium 35

22 Rumput laut yang terserang Ballanus sp 36

23 Rumput laut yang terserang ice-ice 38

24 Rumput laut yang tererang penyakit bakterial 39

25 Rumput laut yang terserang penyakit whitespoot 40

26 Teknik pemanenan 42

27 Teknik penjemuran 44

xii

(13)
(14)

1.1 Latar Belakang

Suatu karunia Tuhan Yang Maha Kuasa yang patut disyukuri bahwa dua per tiga dari wilayah Indonesia berupa perairan laut dengan berbagai potensi biota laut terkandung didalamnya, diantaranya ganggang laut algae. Dari berbagai jenis ganggang laut yang ada, rumput laut adalah salah satu anggota alga yang yang termasuk tumbuhan berklorofil, dan dilihat dari ukurannya, rumput laut terdiri dari jenis mikroskopik dan makroskopik. Jenis makroskopik inilah yang kita kenal sebagai rumput laut .

Kabupaten Lembata memiliki perairan seluas 3.353,895 km2 (72,59 %) dengan garis pantai 492,80 km2 (Anonymous, 2012) dan berpotensi besar untuk pengembangan industri perikanan berbasis rumput laut. Pada saat ini pengembangan industri rumput laut masih menjadi salah satu program revitalisasi Kementrian Kelautan dan Perikanan, karena komoditas rumput laut memberikan kontribusi dan penyumbang terbesar untuk daerah ini. Pengembangan industri rumput laut di Lembata memiliki prospek yang cerah. Hal ini disebabkan karena teknik pembudidayaan rumput laut yang relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, sehingga usaha tersebut dapat dilakukan secara masal. Disamping itu permintaan terhadap rumput laut dan produk olahannya baik di pasar domestik maupun internasional selalu menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.

Budidaya rumput laut merupakan salah satu jenis budidaya dibidang perikanan yang mempunyai peluang untuk dikembangkan di wilayah perairan Lembata, karena kegiatan ini memiliki peranan penting dalam usaha meningkatkan produksi perikanan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi serta memenuhi kebutuhan pasar dalam dan luar negeri, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir pantai serta menjaga kelestarian sumber hayati perairan.

Dengan semakin meningkatnya permintaan dunia akan rumput laut, menyebabkan usaha budidaya rumput laut semakin diminati dan berkembang pesat sebagai komoditas ekspor. Pemanfaatan rumput laut untuk industri disebabkan oleh senyawa kimia yang terkandung didalamnya, khususnya Carrageenan, Agar dan Algin. Carrageenan merupakan bahan kimia yang dapat diperoleh dari berbagai jenis alga merah seperti Eucheuma, Gelidium, Gracilaria dan Hypnea, sedangkan algin adalah bahan yang terkandung dalam alga coklat seperti Sargassum. Algin banyak digunakan sebagai industri kosmetika sebagai bahan pembuat sabun, cream, lotion, shampho, dan dalam industri farmasi digunakan untuk membuat emulsifier, stabilizer, tablet, salep, kapsul dan filter.

(15)

Selain itu Algin juga dipakai dalam industri tekstil, keramik, fotografi dan pestisida sebagai bahan aditif. Untuk agar-agar merupakan bahan baku pokok pembuatan tepung agar-agar, baik untuk industri skala besar maupun industri rumah tangga. Agar-agar juga dipakai dalam industri makanan sebagai thickener dan stabilizer ; pada industri farmasi dan bidang mikrobiologi untuk kultur bakteri ; bidang industri kecantikan agar-agar juga dimanfaatkan dalam pembuatan cream, sabun, lotion. Begitu juga carrageenan dengan kualitas yang jauh lebih baik dari agar-agar, banyak dimanfaatkan dalam berbagai industri seperti juga algin dan agar-agar (Tim Selasar Ilmu 2010).

Dengan melihat besarnya potensi pemanfaatan rumput laut, terutama untuk ekspor, mengakibatkan usaha pengembangan budidaya rumput laut semakin meningkat. Pengembangan usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Lembata dimulai sejak tahun 1990-an, tetapi hanya bertahan beberapa tahun saja, karena produksinya sempat menurun sebagai akibat ketidakstabilan harga, dan kemudian dikembangkan kembali pada tahun 2000, ketika Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata memberikan bantuan bagi petani-nelayan berupa bibit dan sarana budidaya rumput laut (Panjaitan 2005).

Menurut Panjaitan (2005), pengembangan budidaya rumput laut di Kabupaten Lembata dilakukan di sepanjang pantai utara Kabupaten Lembata, yang mencakup perairan pantai Kecamatan Nubatukan, Lebatukan, Ile Ape sampai dengan Kecamatan Omesuri. Perairan tersebut sangat cocok untuk pengembangan budidaya rumput laut, karena memiliki teluk yang tenang dan perairan yang jernih serta kualitas perairan yang cocok untuk pertumbuhan rumput laut.

Rumput Laut yang dikembangkan di Kabupaten Lembata adalah jenis Eucheuma cottonii yang diekspor dalam bentuk bahan baku, berupa rumput laut kering, dengan kualitas yang sangat baik. Hal ini dicirikan dengan warna yang putih dan bebas dari campuran pasir dan kerikil.

Menurut Partosuwiryo dan Hermawan (2008), hama yang sering menyerang rumput laut dibedakan berdasarkan ukurannya, yaitu hama mikro micro grazer dan juga hama makro macro grazer. Hama mikro yang menyerang biasanya berukuran panjang kurang dari dua cm dan melekat pada thallus tanaman rumput laut, seperti larva bulu babi Tripneustes dan larva teripang Holoturia sp. Larva bulu babi akan menyebabkan tanaman rumput laut menjadi berwarna kuning; sementara larva teripang akan menetap pada thallus dan tumbuh membesar dan akan menjadi hama makro. Hama makro adalah hama yang berukuran lebih besar dari dua cm. Hama makro yang paling ganas dan dapat menghancurkan tanaman rumput laut adalah ikan baronang Siganus spp dan penyu hijau Chelonia midas. Hama lainnya yaitu bulu babi Diadema spp, teripang Holothuria sp, dan bintang laut Protoneostes.

(16)

Penyakit yang biasa menyerang tanaman rumput laut adalah ice-ice, whitespoot dan penyakit bakterial. Gejala penyakit ice-ice ditandai dengan timbulnya bintik / bercak-bercak pada sebagian thallus yang lama kelamaan kehilangan warna dan berangsur-angsur menjadi putih dan terputus.

Rumput laut dapat terserang penyakit ice-ice terutama disebabkan karena perubahan lingkungan seperti suhu, arus dan tingkat kecerahan dilokasi budidaya.

Penyakit lain yang menyerang adalah whitespoot dan penyakit bakterial. Gejala timbulnya penyakit whitespoot dilihat dari warna sebagian thallus yang coklat kekuning-kuningan menjadi putih kemudian menyebar keseluruh thallus dan pada akhirnya seluruh bagian tanaman membusuk dan terlepas/rontok dari tali pengikat bibit. Penyakit ini dapat ditanggulangi dengan cara menurunkan tanaman lebih dalam dari posisi semula untuk mengurangi penetrasi sinar matahari.

Penyakit whitespoot dan ice-ice biasanya menyerang pada bulan April sampai bulan Mei di daerah-daerah yang memiliki kecerahan perairan yang tinggi.

Sedangkan untuk penyakit bakterial pada tanaman rumput laut sangat sedikit terjadi.

Gejala dari penyakit ini adalah thallus berwarna hitam dan membusuk. Hal ini dipengaruhi oleh dekomposisi bakteri dari tanaman yang mati di perairan pantai.

Kelompok Kuda Laut Desa Pada merupakan salah satu kelompok budidaya binaan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Lembata yang bergerak dibidang budidaya rumput laut. Kelompok tersebut beroperasi dengan baik hingga saat ini serta memiliki fasilitas budidaya yang memadai dan produksi yang berlangsung secara kontinyu, sehingga penulis dapat melaksanakan PKL di Kelompok Kuda Laut, Desa Pada, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata.

1.2 Tujuan

Pelaksanaan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Mengikuti dan melakukan kegiatan budidaya rumput laut secara langsung di lokasi PKL;

2. Menambah pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan mengenai kegiatan budidaya rumput laut terutama tentang pengendalian hama dan penyakit yang menyerang rumput laut di lokasi PKL;

3. Mengetahui permasalahan dan solusi dalam kegiatan budidaya rumput laut di lokasi PKL;

4. Menerapkan ilmu yang didapat sewaktu kuliah dalam kegiatan budidaya rumput laut di lokasi PKL, sehingga lebih mengetahui dan dapat mengatasi permasalahan dalam budidaya rumput laut pada umumnya.

(17)

1.3 Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi permasalahan dalam kegiatan budidaya adalah serangan hama dan penyakit rumput laut di Kabupaten Lembata khususnya di kelompok Kuda Laut, yang dapat mempengaruhi produksi dan produktivitas rumput laut, sehingga dalam penulisan laporan ini penulis membatasi masalah pada pengendalian hama dan penyakit yang menyerang rumput laut di kelompok Kuda Laut Desa Pada, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata.

(18)

2.1 Waktu danTempat

Kegiatan Praktik Kerja Lapangan Budidaya Rumput Laut Eucheuma cottonii dilaksanakan dalam jangka waktu 60 hari, dimulai dari tanggal 09 April 2015 sampai dengan 09 Juni 2015. Praktek Kerja Lapangan ini mengambil lokasi di Kelompok Kuda Laut Desa Pada - Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata–

Provinsi Nusa Tenggara Timur (Lampiran 1).

2.2 Komoditas

Komoditas yang dipilih oleh penulis dalam kegiatan Praktik Kerja Lapangan ini adalah Rumput Laut Eucheuma cottonii (Gambar 1).

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 1 Rumput Laut Eucheuma cottonii

2.2.1 Taksonomi

Menurut Zatnika dan Anggadiredja (2002), taksonomi rumput laut Eucheuma cottonii adalah sebagai berikut :

Divisio : Rhodophyta Kelas : Rhodophyceae Bangsa : Gigartinales Suku : Solierisceae Marga : Eucheuma

Jenis : Eucheuma cottonii

(19)

2.2.2 Siklus Hidup dan Reproduksi

Menurut Zatnika dan Anggadiredja (2002), rumput laut ini dikenal dengan nama daerah agar-agar. Dalam dunia perdagangan, rumput laut ini dikenal dengan istilah spinosium yang berarti duri yang tajam. Rumput laut berkembangbiak dengan dua cara yaitu secara kawin dan tidak kawin. Seluruh bagian tanaman yang menyerupai akar, batang, dan daun semuanya disebut thallus.

Karena tidak mempunyai akar sebenarnya, rumput laut menempel pada substratnya dan seluruh bagian thallus mengambil makanan dari air disekitarnya dengan cara osmosis. Substrat dapat berupa lumpur, pasir, karang, kulit kerang, dan batu.

Jenis rumput laut yang bernilai ekonomis tinggi diantaranya adalah Eucheuma, Glacilaria, Gelidium, dan Hypnea. Dari keempat jenis ini, Eucheuma cottonii telah berhasil dibudidayakan dan sangat menguntungkan pembudidaya. Rumput laut jenis ini menghasilkan kappa-keraginan.

Jenis rumput laut Eucheuma cottonii, mulanya ditemukan di perairan Sabah (Malaysia) dan kepulauan Sulu (Filipina). Kemudian dikembangkan diberbagai negara sebagai tanaman budidaya. Sedangkan di Indonesia baru dikembangkan sebagai tanaman budidaya pada tahun 1968 di pulau Pari kepulauan Seribu (Sudrajat 2008).

2.2.3 Teknik Budidaya

Dalam melakukan usaha budidaya rumput laut, beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut :

a. Pemilihan lokasi budidaya.

Menurut Mulyono et al 2008, langkah pertama keberhasilan usaha budidaya rumput laut jenis Eucheuma cottonii adalah pemilihan lokasi budidaya yang tepat.

Pertumbuhan rumput laut ditentukan oleh kondisi perairan sehingga produksi rumput laut cendrung bervariasi dari lokasi budidaya yang berbeda.

b. Metode budidaya.

Menurut Mulyono et al 2008, berdasarkan posisi tanam rumput laut dan untuk meminimalisir serangan hama dan penyakit, metode budidaya dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu metode di dasar (bottom method), metode lepas dasar (off-bottom method), dan metode apung (floating method). Setiap metode mempunyai keuntungan dan kerugian. Metode penanaman dipilih berdasarkan keadaan perairan, tujuan budidaya, dan jenis rumput laut yang dibudidayakan.

1) Metode di dasar( bottom method )

Metode ini merupakan metode lama, yaitu penanaman dilakukan dengan mengikat bibit rumput laut pada batu-batu karang yang disusun berbaris di

(20)

dasar perairan. Bibit rumput laut dengan berat 100 gram yang sudah diikat disusun rapih hingga berjalur-jalur.

2) Metode lepas dasar (off-bottom method )

Metode ini dilakukan di atas dasar perairan yang berpasir atau pasir berlumpur dan terlindung dari hempasan gelombang yang besar. Hal ini penting untuk memudahkan pemasangan patok/ pancang. Biasanya lokasi dikelilingi oleh karang pemecah gelombang (barrier reef). Selain itu, sebaiknya memiliki kedalaman air sekitar 50 cm pada saat surut terendah dan 3 meter pada saat pasang tertinggi.

3) Metode apung (floating method)

Metode apung atau floating method ini dibagi lagi menjadi tiga metode yaitu metode rakit, metode longline, metode jalur/kombinasi.

a) Metode rakit.

Metode ini sering disebut metode rakit kotak, dibentuk dari empat buah bambu yang dirakit sehingga membentuk persegi panjang dengan ukuran tertentu sesuai dengan keinginan pembudidaya. Pada rakit tersebut dipasang tali pengikat rumput laut secara membujur dengan jarak 30 cm kemudian bibit rumput laut diikat pada tali tersebut.

b) Metode longline / rawai.

Metode rawai atau yang di kenal dengan istilah longline yang menggunakan tali panjang yang dibentangkan. Metode ini merupakan salah satu metode permukaan yang paling banyak diminati pembudidaya.

Selain lebih fleksibel dalam pemilihan lokasi, alat dan bahan yang digunakan dalam metode ini lebih tahan lama, relatif murah, dan mudah diperoleh.

c) Metode jalur (kombinasi).

Metode jalur merupakan kombinasi antara metode rakit dengan metode rawai/longline. Kerangka metode ini dibuat dari rakit (bambu) yang tersusun sejajar.

c. Pemeliharaan

Dalam melakukan usaha budidaya rumput laut, perlu mempertimbangan aspek hama dan penyakit karena serangan hama dan penyakit dapat mengakibatkan kegagalan usaha budidaya yang dilakukan.

1) Hama

Menurut Partosuwiryo dan Hermawan (2008), hama yang menyerang tanaman budidaya rumput laut dikelompokan menjadi dua macam berdasarkan ukurannya yaitu : hama mikro (micro garzer) dan hama makro (macro grazer).

(21)

a) Hama Mikro (micro garzer)

Hama mikro yang menyerang biasanya berukuran panjang kurang dari dua cm dan melekat pada thallus tanaman rumput laut, seperti larva bulu babi Tripneustes dan larva teripang Holoturia sp. Larva bulu babi akan menyebabkan tanaman rumput laut menjadi berwarna kuning sementara larva teripang akan menetap pada thallus dan tumbuh membesar dan kemudian berkembang menjadi hama makro.

b) Hama makro (macro grazer )

Hama makro adalah hama yang berukuran lebih besar dari dua sentimeter.

Hama makro yang paling ganas dan dapat menghancurkan tanaman rumput laut adalah ikan baronang Siganus spp dan penyu hijau Chelonia midas.

Tidak hanya kedua jenis hama tersebut, ada hama lain yang menyerang yaitu bulu babi Diadema spp, teripang Holothuria sp, dan bintang laut Protoneostes. Keberadaan hama makro pada lokasi budidaya rumput laut sudah dalam bentuk dewasa/besar.

2) Penyakit Rumput laut.

Menurut Partosuwiryo dan Hermawan (2008), penyakit merupakan suatu gangguan fungsi atau terjadinya perubahan anatomi yang abnormal. Penyakit rumput laut dapat disebabkan oleh bakterial, jamur, ice-ice, maupun whitespot.

d. Pemanenan

Panen rumput laut baik pada metode lepas dasar, rakit apung, rawai, maupun pada metode jalur dapat dilakukan sebagai berikut :

1) Rumput laut dibersihkan dari kotoran atau tanaman lain yang melekat sebelum dipanen,

2) Tali ris yang penuh dengan ikatan rumput laut dilepaskan dari bambu atau tali utama,

3) Gulungan tali ris yang berisi ikatan rumput laut diletakan didalam sampan atau wadah transportasi panen lainnya dan dibawah ke darat untuk dijemur.

(Sudradjat 2008) e. Penanganan pascapanen

Setelah dipanen rumput laut dikeringkan sebagai komoditi perikanan dengan menjemurnya dibawah sinar matahari secara langsung. Dengan cara seperti ini akan dihasilkan rumput laut yang bersih dengan warna kekuningan.

Mutu hasil produksi budidaya juga ditentukan oleh cara penanganan pascapanen yang baik. Menurut Aslan (1998), cara penanganan pascapanen rumput laut yang baik adalah sebagai berikut:

(22)

1) Rumput laut dicuci dengan cara mencelupkan keranjang yang berisi rumput laut kedalam air laut sambil digoyang-goyangkan atau digosok-gosok dengan tangan. Tujuannya untuk mengurangi kotoran yang menempel pada rumput laut;

2) Rumput laut yang sudah dicuci selanjutnya dijemur di bawah sinar matahari selama 2- 3 hari dengan memakai alas daun kelapa atau anyaman bambu.

Penggunaan alas ini bertujuan agar rumput laut terhindar dari kotoran.

Penjemuran langsung di atas pasir tanpa ada alas menyebabkan butiran pasir menempel pada rumput laut. Keadaan ini mengurangi mutu dan nilai jual rumput laut itu sendiri;

3) Dianjurkan untuk penjemuran rumput laut menggunakan para-para penjemuran yang dibuat dari bambu;

4) Rumput laut dikatakan sudah kering jika telah kelihatan mersik atau kaku dan butiran garam sudah menempel dipermukaan rumput laut;

5) Rumput laut yang sudah kering dikemas dalam karung dan dipadatkan.

Setelah itu bagian atas karung dijahit menggunakan tali dan disimpan dalam gudang atau dijual;

6) Perbandingan rumput laut basah dengan kering adalah 8: 1 (delapan kilogram rumput laut basah sama dengan satu kilogram rumput laut kering).

2.3 Metode Pelaksanaan PKL 2.3.1 Jenis data.

Jenis data yang digunakan dalam penulisan Laporan Praktik Kerja Lapangan ini adalah :

a. Data primer, merupakan data yang diperoleh langsung di lapangan atau langsung dari sumbernya. Data yang diperoleh merupakan hasil pengamatan langsung di lapangan dan wawancara penulis dengan ketua dan anggota Kelompok Kuda Laut, yang meliputi antara lain lokasi usaha, sarana dan prasarana, proses produksi, produksi, nilai hasil usaha dan lain-lain.

b. Data sekunder, data yang diperoleh dengan menggunakan data yang sudah diolah sebagai bahan masukan dan informasi yang dibutuhkan. Data yang diperoleh berupa data yang berasal dari papan informasi yang ada di kantor desa, yang meliputi antara lain jumlah penduduk, jumlah petani pembudidaya dan lain-lain.

2.3.2 Metode pengumpulan data

Metode yang dipakai dalam pengumpulan data pada Praktek Kerja Lapangan ini adalah :

a. Observasi.

Metode observasi melalui pengamatan langsung di lapangan terkait budidaya rumput laut secara umum di lokasi PKL.

(23)

b. Metode wawancara.

Penulis melakukan wawancara atau tanya jawab dengan ketua dan anggota kelompok untuk memperoleh gambaran mengenai usaha, produksi, pemasaran, hasil-hasil produksi dan permasalahan yang dihadapi.

c. Metode kepustakaan.

Metode ini dilakukan dengan mengumpulkan dan mempelajari data dari pustaka yang berhubungan dengan permasalahan yang akan di bahas dalam PKL ini.

(24)

3.1 Letak Geografis

Desa Pada adalah salah satu desa di Kecamatan Nubatukan, dengan jumlah penduduk 937 jiwa; laki-laki 453 jiwa dan permpuan 484 jiwa. Desa Pada merupakan desa yang mata pencahariaan penduduknya berupa nelayan, petani, penyadap getah lontar dan juga buruh bangunan. Luas desa Pada 875 ha yang terdiri dari empat dusun yaitu; Dusun Bota Semesan, Dusun Baololon, Dusun Uwotaun, dan Dusun Wule Taun.

Kelompok Kuda Laut berada di wilayah administratif Dusun Baololon Desa Pada, yang merupakan salah satu desa yang berada di wilayah administrasi pemerintahan Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata Propinsi Nusa Tenggara Timur. Jarak dari Kantor Desa Pada ke lokasi budidaya sekitar ± 1 km, jarak dari pemerintah Kecamatan ± 3 Km, sedangkan jarak ke pusat Pemerintah Kabupaten Lembata adalah sama dengan jarak ke kecamatan yaitu ± 3 km. Perjalanan ke pusat ibu kota kecamatan dan kabupaten ditempuh melalui jalan darat dengan lama perjalanan 10 – 15 menit menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat.

Adapun letak gografis lokasi budidaya Kelompok Kuda Laut adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatasan dengan perairan Teluk Lewoleba;

Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Pada;

Sebelah Timur berbatasan perairan Teluk lewoleba;

Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah pesisir Desa Waijarang.

Perairan di lokasi budidaya cukup bersih dengan ombak yang sedang dan arus yang cukup dengan dasar perairan lumpur berpasir serta pecahan karang. Selain dimanfaatkan sebagai lokasi budidaya rumput laut, lokasi ini juga dimafaatkan sebagai daerah penangkapan ikan oleh masyarakat atau nelayan tradisional. Untuk jelasnya, lokasi budidaya dapat dilihat pada lampiran 1.

3.3 Sejarah

Kelompok merupakan wadah bagi masyarakat luas dalam merencanakan kegiatan usahanya, disisi lain kelompok merupakan wadah belajar dan mengajar, wahana musyawarah, wahana tukar informasi dan pengalaman baik antara anggota kelompok maupun dengan pihak lain.

(25)

Kelompok Kuda Laut merupakan kelompok yang bergerak dibidang budidaya perikanan, khususnya budidaya rumput laut. Kelompok ini secara administrasi terletak di Desa Pada Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata. Anggota kelompok merupakan warga Desa Pada dengan latar belakang warga asli dan warga pengungsian dari daerah Kabupaten Lembata maupun luar Lembata seperti Adonara, Alor, jawa, Makasar dan Ambon, tetapi juga ada warga asli desa tersebut. Sekalipun mempunyai latar belakang yang berbeda-beda dan banyak suku. Masyarakat desa Pada hidup sangat rukun dan mengerjakan semua kegiatan dalam bentuk kelompok atau secara gotong-royong. Aspek ekonomi merupakan alasan awal terbentuknya kelompok ini.

Kelompok Kuda Laut terbentuk pada tahun 2007 dengan anggota berjumlah sepuluh orang dengan, ketua kelompok Bapak Aleks Witak. Jenis usaha yang dipilih adalah usaha budidaya dengan komoditas rumput laut jenis Eucheuma cottonii. Luas lahan budidaya kelompok kuda laut adalah ± 5 ha.

Awal memulai usaha, bibit rumput laut didapat dari bibir pantai yang dihempas ombak yang merupakan sisa dari budidaya rumput laut milik perorangan sebelumnya. Hasil produksi yang baik dan harga yang cukup menjanjikan membuat kelompok ini terus bertahan. Pada tahun 2009 hama dan penyakit yang menyerang rumput laut membuat kelompok ini sempat berhenti aktifitasnya. Semangat untuk memperbaiki kehidupan ekonomi angota kelompoknya membuat kelompok ini kembali beraktifitas untuk memelihara rumput laut pada tahun 2010.

Proses pembentukan kelompok memang terdapat kendala, namun bukan penghalang bagi kelompok Kuda Laut. Seiring dengan semakin berkembangnya kelompok, begitu pula dengan keberhasilan dalam mengembangkan komoditi rumput laut menyebabkan banyak petani yang bergabung menjadi anggota kelompok.

Dari berbagai jerih payah yang telah dilakukan, akhirnya Kelompok Kuda Laut mampu mendapatkan apresiasi baik dari masyarakat tani lainnya maupun dari pemerintah khususnya dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata. Hal ini terbukti pada tahun 2014 kelompok tersebut mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Dinas Kelautan dan Perikanan berupa sarana budidaya (Lampiran 2) dan sampai saat ini terus beraktifitas dalam pemeliharaan rumput laut.

Namun demikian, kelompok ini masih menemui satu kendala klasik yaitu masalah permodalan usaha dan pembangunan balai yang berfungsi sebagai tempat melakukan berbagai pertemuan dalam kelompok, karena selama ini hanya memanfaatkan rumah warga.

(26)

3.4 Organisasi dan Ketenagakerjaan

Adapun organisasi dan ketenagakerjaan Kelompok Kuda Laut adalah sebagai berikut :

Ketua : Alex Witak Wakil Ketua : Karolus Laga Sekretaris : Rosmini Bulu Bendahara : Hendrikus Ola Anggota :

1. Elias Payong 2. Donatus Geli 3. Matheus Matang 4. Martinus Lelangayang 5. Hironimus Laga 6. Nurhaini

Struktur organisasi kelompok Kuda Laut Desa Pada Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata dapat dilihat pada Gambar 2.

Sumber : Data kelompok Kuda Laut

Gambar 2 Bagan Struktur organisasi kelompok Kuda Laut.

KETUA ALEX WITAK

WAKILKETUA KAROLUS LAGA

SEKRETARIS ROSMINI BULU

BENDAHARA HENDRIKUS OLA

ANGGOTA 1. Elias Payong 2. Donatus Geli 3. Matheus Matang 4. Martinus Lelangayang 5. Hironimus Laga

6. Nurhaini

(27)

Sedangkan tenaga kerja dan tingkat pendidikan anggota Kelompok Kuda Laut dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1 Anggota kelompok berdasarkan tingkat pendidikan.

Sumber : Data Kelompok Kuda Laut 2015.

Nama Pendidikan

SD SMP SMA PT

Alex Witak - - -

Karolus Laga - - -

Hendrikus Ola - - -

Rosmini Bulu - - -

Elias Payong - - -

Donatus Geli - - -

Matheus Matang - - -

Martinus Lelangayang - - -

Hironimus Laga - - -

Nurhaini - - -

(28)

4.1 Kegiatan Pembibitan Rumput laut 4.1.1 Fasilitas utama

Fasilitas utama kegiatan pembibitan rumput laut sangat berperan penting dalam kelangsungan proses budidaya. Fasilitas utama dalam proses budidaya adalah sebagai berikut :

a. Lahan untuk budidaya;

b. Bibit rumput laut;

c. Tali ris;

d. Tali pengikat bibit;

e. Jangkar;

f. Pelampung;

g. Wadah budidaya/kandang jaring.

4.1.2 Fasilitas pendukung

Fasilitas pendukung juga berperan penting untuk mendukung fasilitas utama dalam memperlancar proses buddidaya. Adapun fasilitas pendukung kegiatan budidaya rumput laut di kelompok Kuda laut adalah sebagai berikut :

a. Sarana transportasi berupa “ban dalam” sebagai pengganti sampan b. Pisau dan parang

c. Gobah d. Timbangan e. Terpal

f. Tempat seleksi bibit g. Tempat pengikat bibit h. Alat pengukur kualitas air

i. Serok/seser untuk pengendalian hama.

4.2 Kegiatan Pembesaran Rumput laut 4.2.1 Fasilitas utama

Sama halnya dengan fasilitas yang digunakan pada kegiatan pembibitan, pada kegiatan pembesaran rumput laut fasilitas utama yang digunakan adalah sebagai berikut :

a. Lahan untuk budidaya b. Bibit rumput laut c. Tali ris

d. Tali pengikat bibit e. Tali kaplingan

(29)

f. Jangkar

g. Jerigen sebagai pelampung h. Wadah budidaya/kandang jaring i. Para-para penjemuran.

4.2.2 Fasilitas pendukung

Tidak hanya fasilitas utama saja yang dibutuhkan dalam kegiatan ini tetapi juga dibutuhkan fasilitas pendukung untuk kelancaran proses pembesaran rumput laut. Fasilitas-fasilitas pendukung tersebut antara lain :

a. Sarana transportasi berupa “ban dalam” sebagai pengganti sampan;

b. Pisau dan parang;

c. Gobah;

d. Timbangan;

e. Terpal;

f. Para-para penjemuran;

g. Gudang;

h. Tempat seleksi bibit;

i. Tempat pengikat bibit;

j. Alat pengukur kualitas air;

k. Serok/seser untuk pengendalian hama.

(30)

5.1 Kegiatan Pembibitan Rumput Laut 5.1.1 Persiapan Lokasi Pembibitan

Langkah awal dalam kegiatan pembibitan adalah persiapan lokasi untuk pembibitan. Lokasi budidaya rumput laut kelompok Kuda Laut sangat strategis karena letaknya pada teluk dengan kecepatan arus berkisar antara 22-24 cm/detik.

Lokasi budidaya yang berada pada teluk ini menyebabkan semua kegiatan budidaya rumput laut terhindar dari kerusakan yang diakibatkan oleh ombak atau angin yang kencang. Disamping itu lokasi budidaya tersebut tidak berbenturan dengan kegiatan lainya seperti penangkapan ikan yang dapat menghambat kegiatan budidaya (Gambar 3).

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 3 Lokasi budidaya kelompok Kuda Laut

(31)

dalam kegiatan budidaya. Parameter ekologis suatu lokasi budidaya meliputi dasar perairan, arus, kedalaman, salinitas, kecerahan, pencemaran, pH, suhu, ketersediaan bibit, dan tenaga kerja.

Dari pengamatan yang dilakukan di lokasi budidaya kelompok Kuda Laut maka kisaran parameter kualitas air di lokasi tersebut sebagaiman ditunjukkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Kisaran Parameter kualitas air di lokasi kelompok kuda laut

Parameter Satuan Kisaran

Kecepatan arus cm/detik 22-24

Kecerahan Meter 3- 5

Suhu °C 24-27

Salinitas ppt. 27- 34

pH - 6,5- 8,5

DO Ppm 6,15 - 7,18

Sumber : Data Kelompok Kuda Laut

Berdasarkan data tabel 2 di atas, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

a. Kecepatan arus di lokasi budidaya kelompok Kuda Laut berkisar antara 22-24 cm / detik, sehingga dengan kecepatan arus ini dapat membawa makanan yang cukup bagi rumput laut dan juga dapat menghindarkan berkumpulnya kotoran pada thallus rumput laut.

b. Dari bentuk dasar perairan, lokasi ini memiliki dasar perairan yang berbentuk pecahan karang dan pasir halus. Kedalaman air di lokasi budidaya adalah ± 6 meter dan memiliki perairan yang sangat cerah yaitu 3- 5 meter.

c. Kisaran suhu 24-27 °C, pH 6,5- 8,5, salinitas 27- 34 ppt.

Parameter tersebut di atas sesuai dengan pendapat Mulyono et al (2008), bahwa penentu keberhasilan usaha budidaya rumput laut didasarkan pada beberapa parameter tersebut dibawah ini :

a. Arus

Rumput laut Eucheuma cottonii merupakan tanaman yang memperoleh makanan melalui aliran air yang melewatinya. Untuk itu kecepatan arus yang baik untuk budidaya rumput laut adalah 20–40 cm / detik.

b. Suhu air laut yang optimal untuk budidaya rumput laut Eucheuma cottonii adalah 23°-26°C.

c. pH air yang sesuai untuk budidaya rumput laut jenis Eucheuma cottonii adalah pH dengan kisaran 7,3 – 8,2.

18

(32)

Rumput laut Eucheuma cottonii adalah jenis rumput laut yang tidak tahan terhadap kisaran kadar garam yang tinggi (stenohaline). Kadar garam yang sesuai untuk budidaya rumput laut jenis ini adalah adalah 28–35 %0

a. Kecerahan

Lokasi budidaya rumput laut Eucheuma cottonii sebaiknya berada pada perairan yang jernih dengan tingkat kecerahan yang tinggi pula. Jarak pandang kedalaman dengan menggunakan alat sechidisk dapat mencapai 2- 5 meter.

b. Kedalaman perairan.

Kedalaman periaran sangat tergantung dari metode budidaya yang diterapkan.

Metode lepas dasar sebaiknya dilakukan pada kedalaman sekitar 30 – 60 cm pada waktu surut terendah. Sementara itu untuk metode rakit apung, rawai dan jalur sebaiknya pada perairan dengan kedalaman sekitar 2–15 m. Pemilihan kedalaman perairan yang tepat dilakukan untuk menghindari kekeringan dan meminimalkan pencapaian sinar matahari secara langsung.

c. Dasar perairan.

Dasar perairanyang berupa pecahan karang dan pasir kasar merupakan kondisi dasar perairan yang sesuai untuk budidaya rumput laut jenis Eucheuma cottonii.

Kondisi perairan tersebut juga mempengaruhi indikator adanya gerakan air yang baik.

5.1.2 Ketersediaan Bibit

Bibit rumput laut yang berkualitas sebaiknya tersedia di sekitar lokasi budidaya yang dipilih. Apabila di lokasi tersebut tidak tersedia bibit, sebaiknya didatangkan dari luar dengan memperhatikan kaidah-kaidah penanganan bibit, pengangkutan yang baik, serta memperhatikan syarat-syarat bibit yang baik.

Ketersediaan bibit di kelompok Kuda Laut ternyata menjadi salah satu kendala.

Untuk menjawab kekurangan ketersediaan bibit tersebut para pembudidaya mendatangkan bibit dari luar lokasi budidaya yaitu dari Desa Mahal II, Kecamatan Omesuri dengan tetap memperhatikan syarat-syarat bibit yang baik. Hal ini sejalan dengan pendapat Zatnika dan Anggadiredja (2002), bahwa syarat bibit yang baik adalah:

a. Umur bibit 25- 35 hari pemeliharaan;

b. Bibit yang digunakan merupakan thallus muda yag bercabang banyak, rimbun dan berujung runcing;

c. Bibit harus sehat dan tidak terdapat bercak, luka atau terkelupas akibat terserang penyakit atau terkena bahan cemaran;

d. Bibit rumput laut harus terlihat segar dan berwaran cerah;

19

(33)

f. Berat bibit diupayakan seragam sekitar 100 gram perikatan atau rumpun.

5.1.3 Penetuan Metode Budidaya dan Penanaman.

Selama proses budidaya yang dilakukan di lokasi PKL, metode longline digunakan sebagai metode untuk pembibitan/mempertahankan bibit dan pembesaran seperti ditunjukkan pada Gambar 4.

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 4 Penanaman dengan metode longline

Akan tetapi masih ditemukan banyak hama yang menyerang, baik itu hama makro maupun hama mikro. Dampak yang timbul akibat serangan hama ini adalah bibit rumput laut tidak dapat dipanen untuk dibudidayakan kembali karena thallus muda rumput laut terserang hama dan ini tidak sesuai dengan syarat bibit yang baik.

Menurut Zatnika dan Anggadiredja (2002), tidak hanya hama yang menyerang tetapi penyakit juga menjadi penyebab kegagalan budidaya rumput laut dengan metode ini, baik untuk penyediaan bibit maupun untuk pembesarannya. Hal ini disebabkan terjadi perubahan lingkungan yang drastis.

Untuk menghindari serangan hama dan penyakit, kelompok Kuda Laut menggantikan metode budidaya dari metode longline dengan metode kandang jaring.

Metode ini termasuk metode apung atau floating method, hanya saja metode ini 20

(34)

digunakan bila dilihat dari efisiensi penggunaan lahan, karena dalam satu kandang budidaya terdapat empat susun/trap tali yang berisi bibit rumput laut. Ukuran kandang jaring 460 cm x 300 cm x 150 cm. Metode kandang jaring ini seperti ditunjukkan pada Gambar 5.

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 5 Penanaman dengan metode kandang jaring

Bibit rumput laut yang akan dibudidayakan dengan metode ini diikat terlebih dahulu pada tali ris kemudian tali ris tersebut diikat pada wadah budidaya di pesisir pantai/darat sebelum wadah tersebut dibawa ke lokasi budidaya yang sudah ditentukan untuk melakukan proses pemeliharaan bibit.

5.1.4 Pemeliharaan Rumput Laut

Memelihara rumput laut berarti mengawasi secara kontinyu konstruksi budidaya dan tanamannya. Pemeliharaan dilakukan pada saat ombak besar maupun saat laut tenang. Rusak dan menurunnya daya tahan konstrukusi budidaya harus menjadi perhatian pembudidaya saat melakukan kontrol. Tidak hanya itu, pembudidaya juga harus menggoyangkan tali ris pengikat tanaman rumput laut agar kotoran dan lumpur yang menempel pada thallus yang menjadi penghambat pertumbuhan dapat jatuh/lepas sehingga tanaman selalu bersih dan berkembang biak dengan baik. Tindakan ini sejalan dengan pendapat Tim Penulis Penebar Swadaya (2004), bahwa kotoran yang melekat pada thallus rumput laut akan

22

(35)

laut menjadi menurun dan berakibat pada kerugian.

5.1.5 Hama dan Penyakit

Serangan hama dan penyakit bila dibiarkan dapat berakibat menurunnya produksi. Oleh karena itu perlu diketahui jenis hama dan penyakit yang menyerang rumput laut sehingga dapat diambil langkah-langkah penanggulangannya atau paling tidak dapat memperkecil kerugian.

a. Hama

Selama kegiatan PKL di lokasi kelompok Kuda Laut, hama yang menyerang tanaman rumput laut umumnya merupakan organisme laut yang memangsa tanaman rumput laut. Organisme ini hidup dengan rumput laut sebagai makanan utamanya atau sebagian masa hidupnya memakan rumput laut. Hama dapat menimbulkan kerusakan secara fisik pada tanaman budidaya, seperti tanaman terkelupas, patah atau habis dimakan sama sekali. Beberapa hama yang sering ditemui menyerang rumput laut antara lain ikan beronang Siganus spp, bulu babi Diadema spp, dan penyu hijau Chelonia midas.

1) Ikan baronang Siganus spp.

Ikan baronang merupakan hama perusak terbesar dalam budidaya rumput laut. Cara penanggulangan hama ini relatif sulit. Ikan beronang mempunyai sifat bergerombol dan merupakan hama yang paling serius serangannya. Ikan ini memakan seluruh thallus bagian luar. Akibatnya tanaman rumput laut hanya tertinggal kerangkanya saja. Rumput laut akan mati dalam dalam beberapa hari.

Serangan ikan baronang sifatnya musiman. Cara melindungi tanaman rumput laut dari serangan ikan baronang dapat dilakukan dengan mengatur waktu penanaman. Awal penanaman rumput laut sebaiknya diluar musim ikan baronang. Dengan cara tersebut diharapkan kerugian dapat diperkecil.

Penanaman rumput laut secara serentak atau bersamaan juga dapat mengurangi serangan hama ikan baronang.

2) Bulu babi Diadema spp.

Bulu babi merupakan hama yang merusak bagian tengah thallus. Serangan bulu babi dapat mengakibatkan bagian cabang-cabang utama thallus terlepas dari tanaman induk. Serangan bulu babi pengaruhnya relatif kecil dan tidak terasa, terutama pada areal budidaya yang cukup luas. Hama bulu babi tidak dapat menyerang rumput laut yang jauh dari dasar perairan. Oleh karena itu penamanan rumput laut dengan metode kandang jaring yang dilakukan oleh kelompok Kuda Laut selama kegiatan PKL dapat mencegah serangan hama ini.

3) Penyu hijau Chelonia midas.

23

(36)

ganas. Penyu hijau biasanya menyerang pada malam hari. Hama ini dapat memangsa habis tanaman budidaya pada areal yang tidak terlalu luas. Tanda- tanda tanaman rumput laut terserang penyu hijau adalah tanaman hanya tertinggal pada pengikat bibit saja dan tampak bekas-bekas seperti dipotong benda tajam atau pisau. Cara menanggulangi serangan penyu hijau terhadap tanaman rumput laut adalah dengan melindungi areal budidaya dengan memasang pagar dari jaring. Akan tetapi selama proses budidaya yang dilaksanakan di kelompok Kuda Laut, metode kandang jaring yang digunakan dapat mencegah serangan hama penyu hijau. Hama ini tidak menyerang tanaman rumput laut tetapi merusak jaring yang dipakai sebagai pengaman.

b. Penyakit.

Menurut Partosuwiryo dan Hermawan (2008), penyakit merupakan suatu gangguan fungsi atau terjadinya perubahan anatomi dari yang normal menjadi abnormal. Penyakit yang ditemukan selama kegiatan pembibitan rumput laut di lokasi budidaya rumput laut kelompok Kuda Laut adalah penyakit ice-ice, dan whitespot. Munculnya penyakit rumput laut ini ditandai dengan perubahan anatomi dan lambannya pertumbuhan, serta dipengaruhi oleh perubahan lingkungan yang drastis.

1) Penyakit ice-ice

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ice-ice tidak menyerang seluruh rumput laut yang dibudidayakan dengan metode kandang jaring. Penyakit ini biasanya menyerang setelah 15 hari penanaman. Tidak hanya perubahan lingkungan yang menjadi penyebab penyakit ini tetapi juga seleksi bibit yang kurang tepat juga menjadi penyebab penyakit ini, karena bibit yang ditanam ada yang sudah terserang penyakit dan tidak diseleksi dengan baik. Penyakit ini dapat dicegah dengan cara memotong ujung thallus yang terserang penyakit ice-ice agar tidak menyebar.

2) Penyakit whitespoot

Sesuai dengan hasil pengamatan di lokasi PKL, gejala timbulnya penyakit whitespoot selama kegitan pembibitan terlihat dari warna sebagian thallus yang coklat kekuning-kuningan menjadi putih kemudian menyebar ke seluruh thallus dan pada akhirnya seluruh bagian tanaman membusuk dan terlepas/rontok dari tali pengikat bibit. Penyakit ini diduga berkaitan dengan adanya perubahan kondisi yang cukup lama dan tidak sesuai untuk pertumbuhan rumput laut. Penanggulangan penyakit ini dilakukan dengan cara menurunkan posisi tanaman lebih dalam untuk mengurangi penetrasi cahaya sinar matahari dan juga memantau adanya perubahan lingkungan.

5.1.6 Pemanenan Rumput Laut

24

(37)

segala peralatan harus disiapkan terlebih dahulu agar memudahkan pembudidaya dalam melakukan kegiatan pemanenan tersebut. Persiapan yang harus dilakukan sebelum proses pemanenan rumput laut adalah :

a. Tenaga kerja;

b. Keranjang untuk tempat hasil panen/goba;

c. Perahu untuk mengangkut;

d. Pisau untuk memotong;

e. Timbangan.

Cara panen yang dilakukan adalah dengan cara petik atau panen sebagian (pruning). Cara panen ini dilakukan di laut dilokasi budidaya dengan melakukan seleksi terhadap bibit yang siap ditanam serta membiarkan thallus / cabang lain pada tanaman induk untuk kebutuhan bibit pada siklus pemeliharaan berikutnya. Cara ini dianggap efektif karena pembudidaya dapat mempertahankan bibit namun kelemahan cara panen ini adalah rumput laut yang disisakan pada tanaman induk mengalami pertumbuhan yang lambat.

3.5 Kegiatan Pembesaran Rumput Laut.

3.5.1 Persiapan Lokasi Pembesaran

Kegiatan pembibitan dan pembesaran rumput laut di kelompok Kuda Laut berada pada satu lokasi sehingga parameter seperti kondisi dasar perairan, kuat arus, kedalaman, salinitas, kecerahan, pencemaran, pH, suhu, dan persyaratan lokasi untuk budidaya dengan tujuan pembesaran pada umumnya adalah sama dengan kegiatan budidaya untuk pembibitan (Gambar 6).

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 6 Lokasi pembesaran rumput laut.

25

(38)

Ketersediaan bibit untuk kegiatan pembesaran di kelompok Kuda Laut tidak menjadi masalah karena kelompok tersebut mempunyai kebun bibit sendiri sehingga masalah ketersediaan bibit dapat ditanggulangi dan juga dapat menekan biaya investasi. Bibit yang akan ditanam untuk kegiatan pembesaran diseleksi terlebih dahulu seperti tampak pada gambar 7.

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 7 Seleksi bibit

Dalam melakukan kegiatan seleksi bibit, hal-hal yang harus mendapat perhatian adalah :

a. Banyak terdapat bakal calon tunas percabangan yang siap berkembang;

b. Bibit harus sehat dan tidak terdapat bercak, luka atau terkelupas akibat terserang penyakit atau terkena bahan cemaran;

c. Bibit rumput laut harus terlihat segar dan berwaran cerah;

d. Bibit harus seragam dan tidak boleh bercampur dengan jenis lain;

e. Segar atau tidak layu, bersih dari kotoran yang melekat;

f. Berat bibit diupayakan seragam sekitar 50 gram perikatan atau rumpun.

5.2.3 Pemilihan Metode Budidaya dan Penanaman

Menurut Mulyono et al (2008), berdasarkan posisi tanam rumput laut dan untuk meminimalisir serangan hama dan penyakit, terdapat tiga metode budidaya yang dapat digunakan, yaitu metode di dasar (bottom method), metode lepas dasar (off-bottom method), dan metode apung (floating method). Setiap metode mempunyai

26

(39)

tujuan budidaya, dan jenis rumput laut yang dibudidayakan.

Metode apung atau floating method ini dibagi lagi menjadi tiga metode yaitu metode rakit, metode longline, metode jalur/kombinasi. Dari hasil pengamatan di lapangan, maka kegiatan budidaya rumput laut di kelompok Kuda Laut menggunakan metode longline dalam bentuk kapling. Metode ini termasuk dalam metode apung / floating method dan banyak diminati oleh masyarakat karena alat dan bahan yang digunakan lebih tahan lama dan mudah untuk didapatkan, namun kekurangan dari metode ini adalah hama muda menyerang komoditas budidaya.

Design konstruksi metode longline dapat dilihat pada Gambar 8.

Umumnya tali yang digunakan adalah tali PE diameter 5-6 mm dengan panjang tali berkisar antara 50–100 meter. Setiap 25 meter diberi pelampung utama dan setiap 5 meter diberi pelampung bantu yang berfungsi untuk menggerakan tanaman setiap saat. Pelampung ini dari bahan stereofoam atau dari botol aqua.

Sumber : Modul Kuliah

Gambar 8 Design konstruksi longline

Pengikatan bibit rumput laut untuk budidaya dengan metode longline dilakukan di darat, dengan menyeleksi bibit terlebih dahulu sebelum diikat, seperti ditunjukkan pada Gambar 9.

27

(40)

Gambar 9 Kegiatan seleksi bibit

Bibit rumput laut yang diikat dengan berat 50 gram untuk setiap ikatan/rumpun.

Bibit yang didatangkan atau yang diambil dari kebun bibit biasanya berukuran lebih dari 50 gram. Oleh karenanya harus dipotong dengan alat pemotong berupa pisau untuk mencapai berat 50 gram. Pengikatan bibit dilakukan dengan cara simpul hidup yang mudah dilepas waktu pemanenan. (Gambar 10).

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 10 Teknik pengikatan bibit

Penanaman bibit rumput laut di lokasi dilakukan dengan cara membawa rumput laut yang sudah diikat ke lokasi kemudian diulurkan untuk diikat pada tali kaplingan.

(41)

ditemukan banyak hama yang menyerang, baik itu hama makro maupun hama mikro.

Tidak hanya serangan hama tetapi serangan penyakit juga menjadi salah satu kendala dalam proses budidaya. Hal ini disebabkan karena perubahan suhu lingkungan yang drastis.

Untuk menghindari serangan hama dan penyakit, kelompok Kuda Laut menggantikan metode budidaya dari metode longline dengan metode kandang jaring.

Metode ini termasuk metode apung atau floating method, hanya saja metode ini sedikit dimodifikasi dengan menggunakan kandang yang dikelilingi jaring. Metode ini juga praktis digunakan bila dilihat dari efisiensi lahan, karena dalam satu kandang budidaya dengan ukuran panjang kandang 460 cm x 300 cm x 150 cm terdapat empat susun/trap tali yang berisi bibit rumput laut, (Gambar 11).

Sumber : Design Fransiskus Boli Lerek

Gambar 11 Design konstruksi rakit kandang jaring

Bibit rumput laut yang akan dibudidayakan dengan metode ini diikat terlebih dahulu pada tali ris. Terdapat 32 taliris untuk 1 unit kandang jaring. Setelah bibit rumput laut diikat pada tali ris, selanjutnya tali ris tersebut diikat pada wadah budidaya berupa kandang di pesisir pantai sebelum wadah tersebut dibawa ke lokasi budidaya yang sudah ditentukan, (Gambar 12).

29

(42)

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 12. Pengikatan bibit pada metode kandang jarring

Agar usaha budidaya berhasil harus dilakukan perawatan selama masa pemeliharaan. Perawatan bukan hanya terhadap tanaman budidaya tetapi juga fasilitas budidaya yang digunakan. Oleh karenanya, peranan pembudidaya sangat diperlukan untuk memperkecil kemungkinan adanya kerusakan, khususnya kerusakan akibat pengaruh alam yang tak terduga.

4.2.4 Pemeliharaan Rumput Laut

Menurut Aslan (1998), penanaman rumput laut dilakukan dengan memanfaatkan sifat vegetatif. Pertumbuhan tanaman dapat diukur dengan pertambahan beratnya setiap hari (persentase pertumbuhan harian ; PPH ) yang dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Berat total - Berat awal

PPH = x 100 % Lama hari pemeliharaan

Untuk memantau pertumbuhan rumput laut yang dipelihara sebaiknya pembudidaya melakukan pengontrolan terhadap lingkungan perairan yang meliputi sifat hidrologis, sifat biologis, serta monitoring pertumbuhan tanaman. Monitoring pertumbuhan dilakukan dengan menimbangan berat tanaman contoh atau sampel yang diberi label, sekali dalam seminggu.

Monitoring hidrologis dilakukan dengan cara mengawasi area budidaya rumput laut secara terus menerus / kontinyu. Sedangkan untuk monitoring biologis dilakukan dengan melakukan pengawasan secara terus menerus/kontinyu terhadap pertumbuhan rumput laut. Selain semua kegiatan di atas, pemeliharan juga meliputi kegiatan penyulaman bibit yang lepas dari tali pengikat bibit atau dimakan hama.

4.2.5 Pengendalian Hama dan Penyakit Rumput Laut

Dalam melakukan usaha budidaya rumput laut, pengendalian hama dan penyakit perlu diperhatikan karena serangan hama dan penyakit akan sangat berpengaruh terhadap produksi dan produktifitas rumput laut yang dibudidayakan.

30

(43)

Menurut Partosuwiryo dan Hermawan (2008), hama yang menyerang tanaman budidaya rumput laut dikelompokkan menjadi dua macam berdasarkan ukurannya yaitu hama mikro micro garzer dan hama makro macro grazer .

Dalam proses perawatan/pemeliharaan rumput laut selama kegitan PKL banyak ditemukan berbagi macam jenis hama yang mengganggu dalam kegiatan budidaya. Beberapa jenis hama tersebut adalah larva teripang, yang merupakan salah satu jenis hama mikro. Sedangkan hama makro yang menyerang rumput laut di lokasi budidaya selama kegiatan PKL adalah ikan baronang, penyu hijau, ikan- ikan kecil, rumput laut penggangu dan teritip. Keberadaan hama makro pada lokasi budidaya rumput laut sudah dalam bentuk dewasa/besar.

1) Larva teripang Holothuria sp.

Pertumbuhan rumput laut menjadi terhambat karena ada hama berupa larva teripang yang menempel pada thallus. Hama tersebut akan berkembang menjadi hama makro dan memakan thallus rumput laut. Dalam pelaksanaan kegiatan PKL, hama teripang yang menyerang rumput laut di lokasi dikendalikan dengan cara membersihkan hama larva teripang dari thallus rumput laut agar hama tersebut tidak berkembang dan memakan rumput laut.

Karena ukuran larva ini sangat kecil, yaitu kurang dari dua cm maka larva ini akan jatuh dan tidak menempel lagi pada rumput laut apabila ada arus dan gelombang yang kuat.

2) Penyu hijau Chelonia mydas

Penyu mempunyai paruh bawah yang bergerigi dan tajam. Paruh tersebut terletak di bagian depan mulutnya. Paruh ini yang digunakan untuk memotong thallus rumput laut, (Gambar 13).

31

(44)

Gangguan dari penyu hijau tidak jarang ditemukan pada budidaya rumput laut. Hal ini sesuai dengan pendapat Zatnika dan Anggadiredja (2002), hama makro yang paling ganas dan dapat menghabiskan tanaman Eucheuma sp yaitu penyu hijau.

Hasil pengamatan dalam PKL ini memperlihatkan bahwa rumput laut yang dimakan oleh penyu hijau mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: thallus seperti terpotong pisau; thallus yang tersisa adalah bonggol atau thallus utama; thallus bekas paruh kadang menjadi lembek bahkan membusuk. Penyu hijau memakan langsung tanaman rumput laut pada percabangan thallus yang baru tumbuh/muda, sehingga yang tersisa hanya thallus atau bonggol utama yang paling tua dan keras, seperti tampak pada gambar 14 dibawah ini.

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 14 Rumput laut yang terserang penyu hijau

Hama penyu merupakan hama terbesar yang biasa menyerang selain ikan baronang, dan menyerang pada malam hari dalam waktu yang cepat. Penyu hijau melakukan penyerangan di daerah tepi atau dekat perairan yang dalam.

32

(45)

pada minggu kedua. Walaupun rumput laut tidak seluruhnya habis, dari kedelapan longline yang dipakai, lima longline yang diserang penyu hijau.

Akibat serangan dari biota ini yaitu banyak rumput laut yang habis dimakan dan tidak bisa dipanen.

Penyu hijau hanya makan pada bagian percabangan thallus saja karena penyu menyukai thallus yang muda, sehingga yang tersisa hanya thallus atau bonggol utama yang paling tua. Cabang thallus yang terpotong akibat gigitan penyu akan sulit untuk berkembang atau tumbuh cabang muda baru lagi. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan dari rumput laut menjadi lambat dan menimbulkan kerugian yang besar bagi para pembudidaya. Jenis hama ini dikendalikan dengan cara mengusir hama tersebut dari lokasi budidaya akan tetapi frekuensi serangan hama ini lebih banyak terjadi pada malam hari, sehingga menyulitkan para pembudidaya untuk mengusir hama tersebut.

3) Ikan baronang Siganus spp.

Biota yang mengganggu selain penyu adalah ikan baronang. Ikan spesies ini mempunyai kebiasaan makan bergerombol. Tanda serangan ikan baronang ditemukan sejak awal minggu. Hasil wawancara dengan pembudidaya, dan juga pengamatan langsung selama kegiatan PKL, hal ini disebabkan lokasi budidaya yang merupakan tempat penyebaran ikan baronang.

Ikan baronang memiliki tubuh yang membujur dan memipih lateral, dilindungi oleh sisik-sisik yang kecil, mulut kecil posisinya terminal.

Rahangnya dilengkapi dengan gigi-gigi kecil. Punggungnya dilengkapi sebuah duri yang tajam mengarah ke depan antara neural pertama dan biasanya tertanam dibawah kulit, (Gambar 15).

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 15 Hama Ikan Baronang.

33

(46)

muda. Tanda pada rumput laut yang termakan ikan baronang adalah terdapat bekas potongan kecil pada ujung thallus, tidak semua thallus termakan habis dan rumput laut tidak mengalami pembusukan seperti terlihat pada Gambar 16.

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 16 Rumput laut yang dimakan baronang

Biota ini menjadi salah satu pengganggu pada budidaya rumput laut karena sifat makannya yang bergerombol dan mencari tumbuhan hijau. Hal ini sesuai dengan pendapat Zatnika dan Anggadiredja (2002), bahwa hewan pengganggu berukuran lebih dari 2 cm merupakan hama makro dan hama yang sering mengganggu budidaya rumput laut adalah ikan baronang.

Ikan baronang mempunyai mulut yang kecil. Biota ini juga tidak memakan rumput laut sebagai makanan utama sehingga rumput laut yang dimakan hanya cabang thallus yang baru tumbuh atau yang muda saja. Berbeda dengan thallus yang dimakan penyu, ujung thallus yang termakan akan mudah tumbuh lagi. Kerugian yang ditimbulkan oleh serangan ikan baronang lebih ringan dibandingkan dengan penyu hijau.

4) Ikan-ikan kecil

Jumlah hama berupa ikan-ikan kecil sangat banyak ditemukan di lokasi budidaya kelompok Kuda Laut selama kegiatan PKL (Gambar 17). Ada sekitar lima jenis ikan kecil yang biasa menyerang dan serangannya terjadi pada hari ke 5 setelah penanaman.

34 4

Referencias

Documento similar

Respon yang Diperlazimkan: merupakan perilaku terajar yang paling sederhana, pada dasarnya adalah respon sebagai hasil pengalaman, disebabkan oleh suatu stimulus

Secara umum separator berfungsi untuk memisahkan fluida produksi menjadi dua atau tiga phasa.. Berdasarkan phasa pemisahan separator

Bahan induk dengan tektur halus membentuk tanah dengan bahan organik yang lebih tinggi dari pada bahan bahan induk bertekstur kasar, karena ketersediaan air lebih tinggi dan

Daftar isi berisi judul-judul yang terdapat pada bagian awal tesis atau disertasi mulai persetujuan pembimbing sampai daftar tabel (jika ada), daftar gambar (jika ada),

Agama islam yang dibawa oleh pedagang dari Persia dan Gujarat ke Indonesia. Agama Islam mudah tersebar karena agama Islam dapat bersatu dengan kebudayaan

Berdasarkan hasil yang telah dijelaskan sebelumnya, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa F1 dan F3 merupakan gummy yang nilai kekerasannya mendekati pada

Bahan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) kering yang dikumpulkan dari tanaman hasil budidaya di daerah Ciapus Bogor..

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Ekstrak cengkeh dapat dibuat dalam bentuk patch bukal dengan sifat farmaseutik yang meliputi organoleptik dengan penampakan