BANDAR LAMPUNG
Oleh: Evi Retta Aritonang, Budi Koestoro, Arwin Surbakti
FKIPUnila, Jl. Prof. Sumantri BrodjonegoroNo. 1 BandarLampung e-mail : [email protected]
HP. 081273188366
Abstrak:Pengembangan Media Gambar Untuk Model Pembelajaran Examples non-Examples Dan Picture and Picture Terhadap Motivasi Pada Siswa Kelas XI IPA Di SMA PersadaBandar Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis 1) interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa pada materi Sistem Pencernaan, 2) perbedaan prestasi belajar biologi siswa yang dibelajarkandenganmodel pembelajaran Examples non-Examples dan Picture and
Picture, 3) perbedaan prestasi belajar biologi siswa pada materi sistem pencernaan yang
mempunyai motivasi belajar rendah yang dibelajarkan dengan model pembelajaran
Examples non-Examples dan Picture and Picture, Penelitian dilakukan di SMA Persada
Bandar Lampung kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2. Teknik pengambilan sampel dengan
Cluster Random Sampling.Simpulan dari penelitian ini adalah 1) ada interaksi antara model pembelajaran (sig 0,017<0,05), motivasi belajar (sig 0,000<0,05), serta interaksi model dan motivasi (sig 0,014<0,05), 2) rata-rata prestasi belajar siswa biologi siswa yang menggunakan model Examples non-Examples lebih tinggi dibandingkan dengan
Picture and Picture(86,32>83,64).
Kata kunci: examples non examples,media gambar,picture and picture,
Abstract: Development Of Image MediaForExamples non-Examples Learning
Model And Picture and Picture On The Motivation Learning Of Science Student In Grade XI At SMA Persada Senior High School Bandar Lampung. Study aimed to
analyze 1) the interaction between the learning model and motivation on student learning achievement in digestive system materials, 2) differences in biology learning achievement of students that was learned using Examples non-Examples learning model and Picture and Picture, 3) differences in biology learning achievement of students in digestive system materials that have a low learning motivation that was learned using
Examples non-Examples and Picture and Picture.The study was conduceted in Persada
Senior High School, Bandar Lampung in class XI IPA 1 and XI IPA 2. Sampling technique used cluster random sampling.The conclusions of this study were 1) there was no interaction between learning model (sig 0.017>0.05), learning motivation (sg 0.000<0.05), and interaction models and motivation (sig 0.014<0.05), 2) The average o f biology learning achievement of students who used model Examples non-Examples
were higher than those who used Picture and Picture.
PENDAHULUAN
Pendidikan mempunyai arti penting dalam kehidupan. Pendidikan merupakan sebuah sarana yang efektif dalam mendukung perkembangan serta peningkatan sumber daya manusia menuju ke arah yang lebih positif. Kemajuan suatu bangsa bergantung kepada sumber daya manusia yang berkualitas, dimana hal itu sangat ditentukan dengan adanya pendidikan. Seperti yang telah tertulis dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal I, yang menyebutkan bahwa pendidikan meupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.
Negara dikatakan telah maju dalam bidang teknologi atau pun bidang yang lain tidak terlepas dari bidang pendidikan. Salah satu proses yang penting dalam pendidikan adalah proses pembelajaran. Pada proses pembelajaran tersebut terjadi proses transfer ilmu antara pendidik dan peserta didik serta peserta didik dan peserta didik. Oleh karena itulah diera global ini, pendidikan dituntut agar dapat menumbuhkan berbagai kompetensi peserta didik. Sekolah sebagai institusi pendidikan dan miniatur masyarakat perlu mengembangkan pembelajaran sesuai tuntutan kebutuhan era global. Salah
satu upaya yang dapat dilakukan oleh sekolah adalah melalui perbaikan pembelajaran.
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan dengan sengaja, teratur dan terencana untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan anak sehingga dapat menciptakan perubahan perilaku anak baik cara berfikir maupun cara bersikap dalam berinteraksi dengan orang lain, perubahan tersebut diharapkan sesuai dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Cara mencapai tujuan pendidikan adalah dengan memberikan pengalaman pendidikan non formal dan informal disamping pendidikan formal yang mereka peroleh dari kurikulum sekolah.
Mata pelajaran biologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari tentang makhluk hidup, mulai dari makhluk hidup tingkat rendah hingga makhluk hidup tingkat tinggi. Biologi tidak hanya terdiri atas kumpulan pengetahuan atau berbagai macam fakta yang dihafal, melainkan pembelajaran biologi membutuhkan kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran dalam memahami gejala-gejala alam (Yusuf, 2006:16). Pembelajaran biologi dapat dilakukan baik dari pengalaman langsung dengan mengamati langsung objek yang sebenarnya ataupun objek tiruan melalui inderanya.
Pembelajaran biologi lebih menekankan pada pendekatan keterampilan proses, sehingga siswa menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep, teori, dan sikap ilmiah yang dapat berpengaruh positif terhadap kualitas maupun produk pendidikan. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian
pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi, memahami alam sekitar secara ilmiah, dan untuk memahami konsep serta proses sains (Depdiknas, 2003: 6).
Kondisi sarana dan prasarana di SMA Persada Bandar Lampung dapat dikategorikan sudah cukup lengkap. Contohnya, buku-buku pelajaran siswa untuk membantu kelancaran proses pembelajaran dan charta sudah tersedia di perpustakaan sekolah. Buku-buku koleksi yang dimiliki sekolah adalah buku-buku yang sudah sesuai dengan kurikulum pendidikan saat ini dan jumlahnya sudah cukup sebanding dengan jumlah siswanya. Namun dalam proses pembelajaran charta serta bahan pendukung lainnya yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran mungkin belum digunakan secara optimum, selama ini proses pembelajaran pendidik menggunakan metode ceramah saja tanpa menggunakan model pembelajaran sebagai penunjang dalam proses pembelajaran biologi. Hal inilah yang menyebabkan materi ini sesuatu yang dianggap sulit bagi sebagian besar peserta didik dan tentu saja menyebabkan hasil belajar mereka pada materi sistem pencernaan masih belum sesuai harapan.
Melihat kenyataan ini, maka sangat diperlukan penggunaan model pembelajaran dalam proses pembelajaran biologi agar dapat mempermudah dalam proses pembelajaran siswa dalam materi pokok sistem pencernaan, sehingga hasil belajar siswa pun akan meningkat. Maka berdasarkan kondisi tersebut, dibutuhkan alternatif model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan hasil belajar
siswa kelas XI IPA di SMA Persada Bandar Lampung. Diduga model pembelajaran yang dapat membantu adalah model pembelajaran Examples non-Examples dan Picture and Picture. Hal ini didukung dengan hasil penelitian Rina Rodiah (2010:1) pada siswa kelas VIII SMP, hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Examples non-Examples
dan Picture and Picture dapat
meningkatkan keaktifan siswa dan hasil belajar siswa dari segi aspek kognitif dan afektif.
Pemanfaatan model pembelajaran dalam proses pembelajaran memegang peranan penting, karena selain memberikan variasi pembelajaran (tidak hanya mendengarkan dan melihat pendidik menjelaskan), tetapi juga dapat membantu siswa dalam memahami materi yang sedang dipelajari dan dikajinya dengan mudah dan nyata. Proses pembelajaran yang disertai penggunaan model pembelajaran merupakan alternatif pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan siswa sehingga dapat mengoptimalkan kemampuan, penalaran, dan keterampilannya gunu meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran biologi. Model pembelajaran diharapkan dapat mencakup aspek penglihatan (visual), pendengaran (auditif), dan gerak (motorik), karena selain bertujuan memudahkan siswa dalam belajar juga mampu menanamkan konsep.
Oleh karena itu,kreativitas seorang guru dalam mengajar biologi menjadi faktor penting agar biologi menjadi mata pelajaran yang menyenangkan dan menarik didalam kelas. Kreativitas bukanlah suatu bakat, tetapi bisa dipelajari dan harus dilatih (Ahmad Rohani, 2004:6). Telah disadari bahwa mutu pendidikan sangat tergantung
pada kualitas guru dan kualitas pembelajarannya. Pada pembelajaran biologi juga ditemukan keragaman masalah sebagai berikut: 1) siswa jarang mengajukan pertanyaan, walaupun guru sering meminta agar siswa bertanya jika ada hal±hal yang belum pahan, 2) kurangnya kemampuan komu-nikasi siswa dalam pembelajaran biologi sangat rendah, 3) kurangnya kemampuan koneksi siswa dalam menguasai materi dan menghubungkan antara materi satu dengan materi yang lain, 4) rendahnya keberanian siswa dalam menjawab pertanyaan.
Untuk mengantisipasi masalah tersebut agar tidak berkelanjutan, maka para guru dapat menetapkan berbagai model pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Penyajian berbagai macam model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran biologi ialah agar siswa memiliki pengetahuan yang luas tentang pembelajaran biologi dan memiliki keterampilan untuk menerapkannya. Salah satu model pembelajaran yang akan diterapkanya itu pembelajaran biologi dengan kombinasi model
Examples non-Examples dan Picture
and Picture dengan memperhatikan
motivasi belajar siswa. Motivasi belajar dikategorikan menjadi dua kelompok yaitu peserta didik dengan motivasi tinggi dan peserta didik dengan motivasi rendah.
Teori belajar konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang sudah dipelajari. Siswa menemukan sendiri dan mentrasformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai. Filsafat konstruktivisme menjadi landasan
strategi pembelajaran yang dikenal dengan student-centered learning.
Pembelajaran ini mengutamakan keaktifan siswa sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan memberi arahan (scaffholding). Asumsi konstruktivisme (Schunk, 2012:324) adalah guru sebaiknya tidak mengajar dalam artian menyampaikan pelajaran dengan cara tradisional kepada sejumlah siswa, tetapi seharusnya membangun situasi-situasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dengan materi pelajaran melalui pengolahan materi-materi dan interaksi sosial. Menurut Jean Piaget (Riyanto,2009:9) proses belajar terdiri dari tiga tahapan yaitu: a) asimilasi, yaitu proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru kestruktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa, b) akomodasi, yaitu penyesuaian struktur kognitif kedalam situasi yang baru,c) equilibrasi,yaitu penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Perkembangan kognitif sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dengan lingkungan.
Implikasi penting dari teori Piaget bagi pendidikan adalah (1) pahami perkembangan kognitifnya, (2) jaga agar siswa tetap aktif, (3) ciptakan ketidaksesuaian dengan membiarkan siswa menyelesaikan soal dan mendapat jawaban yang salah, (4) memberikan interaksi sosial (Schunk, 2012 : 332-336).
Menurut Herpratiwi (2009:81) teori belajar memiliki empat prinsip umum yaitu 1) anak mengkonstruksi pengetahuan, 2) belajar terjadi pada konteks sosial, 3) belajar mempengaruhi perkembangan metal, dan 4) bahasa memegang peranan penting dalam perkembangan mental anak. Konteks
sosial akan mempengaruhi bagaimana seseorang berfikir, bersikap dan berprilaku.
Menurut Miftahul Huda (2013:234)
Examples non-Examples merupakan
model pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media untuk menyampaikan materi pembelajaran. Model pembelajaran ini bertujuan untuk mengajarkan siswa dalam belajar memahami dan menganalisis sebuah materi. Materi pada umumnya dipelajari melalui dia cara yaitu pengamatan dan definisi. Examples non-Examples adalah model yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi materi. Langkah-langkah pembelajaran model
Examples non-Examples menurut
Agus Suprijono (2011: 125) yaitu: 1. Guru mempersiapkan
gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran;
2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP.
3. Guru member petunjuk dan member kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisis gambar.
4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, prestasi diskusi dari analisis gambar tersebut dicatat pada kertas.
5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan prestasi diskusinya. 6. Mulai dari komentar/prestasi diskusi
siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
7. Kesimpulan.
Menurut Agus Suprijono (2011:125)
Picture and Picture adalah suatu model
pembelajaran yang menggunakan model dalam bentuk potongan-potongan gambar untuk kemudian dipasangkan serta diurutkan menjadi urutan yang
utuh dan logis. Pengurutan dan pemasangan gambar dapat dilakukan secara perorangan atau kelompok. Pemasangan dan pengurutan gambar yang dilakukan secara kelompok akan mampu meningkatkan interaksi sosial siswa. Dalam kelompok siswa akan membantu dan berdiskusi satu sama lain.
Menurut Imas Kurniasih dan Berlin sani (2015:44) adapun langkah-langkah model pembelajaran Picture and Picture adalah sebagai berikut:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapaihal yang paling utama pada proses ini adalah guru harus menyampaikan kompetensi dasar mata pelajaran yang dilakukan, sehingga siswa dapat memperkirakan sejauh mana materi yang harus mereka kuasai. Hal ini berkaitan dengan indikator ketercapaian KD, sehingga dimana KKM yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik.
2. Menyajikan materi sebagai pengantar. Pengantar pembelajaran ini akan menjadikan hal yang sangat menentukan, karena momentum ini akan menjadi titik tolah untuk memotivasi dan mendorong siswa dalam mengikuti pembelajaran yang ada.
3. Guru
menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi. Pada proses ini guru terlibat aktif dalam proses yang terjadi, cara ini juga bias dimodifikasi dengan gambar atau mengamati gambar dengan video atau demonstrasi yang kegiatan tertentu.
4. Guru menunjukkan atau memanggil siswa secara bergantian memasang atau mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis. Langkah
ini pun bias beragam cara dalam mempraktekkannya, bias dengan penunjukkan langsung, bias juga dengan menggunakan undian atau bergilir sesuai urutan bangku. Dan setelah itu, siswa diminta untuk mengurutkan gambar menjadi urutan yang logis.
5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut. Proses ini guru harus bias mengarahkan siswa untuk bias berfikir sistematis tentang gambar yang ada, mulai dari rumus, tinggi, jalan cerita gambar sesuai dengan tuntutan kompetensi yang telah ada. 6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru mulai menanmkan aktivitas belajar sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Proses ini lebih ditekankan pada maksud dan inti gambar yang telah diurutkan, dan mintalah siswa untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan, agar siswa mendapakan gambar yang jelas dari konsep gambar yang telah diurutkan.
7. Kesimpulan/rangkuman.Guru bersama siswa mengambil kesimpulan sebagai penguatan materi pelajaran. Hal ini bias dilakukan bersama-sama.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menjelaskan: (1) interaksi antara model pembelajaran dengan motivasi belajar terhadap prestasi belajar biologi konsep protista,(2) perbedaan prestasi belajar biologi siswa yang yang di belajarkan menggunakan pembelajaran Examples
non-Examples dan Picture and
Picture,(3) perbedaan prestasi belajar biologi pada materi isi stempen cernaan yang mempunyai motivasi belajar rendah yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran Examples non-Examples
dan Picture and Picture,(4) perbedaan
prestasi belajar biologi pada materi system pencernaan yang mempunyai motivasi belajar tinggi yang dibelajarkan menggunakan Examples non-Examples dan Picture and Picture.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen.Variabel independen adalah model pembelajaran,yaitu model pembelajaran Examples non-Examples
dan model pembelajaran Picture and
Picture.Variabel dependen adalah
prestasi belajar biologi pada materi system pencernaan.Variabel moderator dalam penelitian ini adalah motivasi belajar siswa.
Desain eksperimen seperti yang terdapat pada gambar 1.
Gambar1. Desain Rancangan Penelitian
Penelitian dilaksanakan di kelas XI IPASMA Persada Bandar lampung. Teknik pengambilan sampel adalah
Cluster Random Sampling.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tes danangket.Teknik tes digunakan untuk pengambilan data prestasi belajar peserta didik pada materi Sistem Pencernaan. Bentuk tes berupa soal uraian dengan jumlah soal 10 soal. Hasil uji validitas dengan korelasi Product Moment Pearson
Examples non Examples (A1) Picture and Picture (A2) Tinggi (B1) A1B1 A2B1 Rendah (B2) A1B2 A2B2 Kooperatif Motivasi Belajar
menunjukkan bahwa 8 soal valid dan 2 soal tidak valid sedangkan hasil uji reliabilitas dengan uji Alpha Cronbach
mendapatkan nilai koefisien reliabilitas 0,74 yang tergolong sangat tinggi. Teknik angket digunakan untuk mengumpulkan data tentang motivasi belajar peserta didik. Jumlah pernyataan dalam angket adalah pernyataan. Hasil uji validitas memberikan hasil 28 pernyataan valid dan 4 pernyataan tidak valid.Hasil uji reliabilitas memperoleh nilai koefisien reliabilitas 0,882 yang tergolong sangat tinggi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada uji hipotesis pertama,interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar peserta didik terhadap prestasi belajar peserta didik adalah jika nilai probabilitas (sig) <0,05 maka H0 ditolak atau terima H1. Berdasarkan hasil pengolahan data diatas diketahui bahwa nilai P-Value (sig) untuk model pembelajaran yaitu 0,017, motivasi belajar yaitu 0,000, serta interaksi antara model pembelajaran dengan motivasi belajar yaitu 0,014 keseluruhan nya bernilai lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian model pembelajaran, motivasi belajar dan interaksi antara model pembelajaran dengan motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.Hal ini berarti ada interaksi antara model pembelajaran dengan motivasi belajar terhadap prestasi belajar pada peserta didik kelas XI IPA di SMA Persada Bandar Lampung.
Keadaan interaksi antara model pembelajaran Examples non-Examples
dengan model pembelajaran Picture and Picture terhadap prestasi belajar biologi pada materi system pencernaan dapat dilihat pada gambar berikut. Pada gambar 2 terlihat bahwa profil plot menunjukkan adanya interaksi antara
model pembelajaran dengan motivasi belajar.
Gambar 2.Interaksi Model Pembelajaran dengan Motivasi Belajar
Pada uji hipotesis kedua,dengan
descriptive statistics hasilnya yaitu nilai rata-rata model pembelajaran
Examples non-Examples lebih tinggi
dibandingkan model pembelajaran
Picture and Picture yaitu86,32 >83,64. Dengan demikian H1diterima yang berarti prestasi belajar dengan menggunakan model pembelajaran
Examples non-Examples lebih tinggi
dibandingkan model pembelajaran
Picture and Picture.
Pada hipotesis ketiga,dilakukan menggunakan uji beda yaitu membandingkan koefisien Fhitung dengan Ftabel. Kriteria yang digunakan adalah H0 ditolak dan H1 diterima jika Fhitung lebih besar dari pada Ftabel. Proses input data bagi pengujian hipotesis ini menggunakan SPSS 16. Hasilnya adalah diketahui bahwa nilai thitung adalah 0,000 sedangkan pada daftar distribusi untuk df = 18 untuk uji dua pihak dengan taraf signifikansi .
didapat nilai ttabel= 1,526 sehingga nilai thitung lebih kecil dari pada ttabel (0,000< 1,526). Berdasarkan hasil pengolahan data diatas maka disimpulkan untuk menerima H0. Dengan demikian dapat
dinyatakan bahwa rata-rata prestasi belajar biologi siswa pada materi system pencernaan dengan motivasi rendah tidak berbeda antara kedua model pembelajaran,baik model pembelajaran
Examples non-Examples maupun model
pembelajaran picture and picture. Pada uji hipotesis keempat dilakukan dengan menggunakan uji beda yaitu membandingkan koefisien Fhitung dengan Ftabel. Kriteriayang digunakan adalahH0 ditolak dan H1 diterimajika Fhitung lebih besar dari pada Ftabel. Proses input data bagi pengujian hipotesis inii menggunakan SPSS 16. Hasilnya adalah diketahui bahwa nilai thitung adalah 3,525 sedangkan pada daftar distribusi untuk df = 18 untuk uji dua Pihak dengan taraf signifikansi .
didapat nilai ttabel= 1,520 sehingga nilai thitung lebih besar dari pada ttabe l(3,525>1,520).Berdasarkan hasil pengolahan data diatas maka disimpulkan untuk menolak H0. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa rata-rata prestasi belajar biologi siswa pada materi system pencernaan dengan motivasi tinggi berbeda antarakedua model pembelajaran.
Pembelajaran model pembelajaran
Examples non-Examples adalah salah
satu contoh model pembelajaran yang menggunakan media. Media dalam pembelajaran merupakan sumber yang digunakan dalam proses pembelajaran. Manfaat media ini adalah untuk guru membantu dalam proses mengajar, mendekati situasi dengan keadaan yang sesungguhnya. Hal ini juga didukung dari referensi Rahman (2008:11) bahwa tipe pembelajaran model pembelajaran Examples
non-Examples yang mengaktifkan siswa
dengan cara guru menempelkan contoh gambar-gambar yang sesuai dengan
tujuan pembelajaran dan gambar lain yang relevan dengan tujuan pembelajaran, kemudian siswa disuruh untuk menganalisisnya dan mendiskusikan prestasi analisisnya sehingga siswa dapat membuat konsep yang esensial.
Model pembelajaran Examples
non-Examples ternyata lebih memudahkan
bagi mereka untuk memperoleh prestasi belajar yang meningkat dibandingkan bagi siswa bermotivasitinggi yang menggunakan model pembelajaran
Picture and Picture. Hal ini didukung dari menurut referensi Suyatno (2009:73) yang menyatakan bahwa model pembelajaran Example
non-Examples menggunakan gambar dapat
melalui OHP, proyektor, ataupun yang paling sederhana adalah poster. Gambar yang kita gunakan haruslah jelas dan kelihatan dari jarak jauh, sehingga anak yang berada di belakang dapat juga melihat dengan jelas.
SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
Simpulan penelitianini yaitu: (1) Ada interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap hasil siswa pada pembelajaran biologi materi sistem pencernaan di SMA Persada Bandar Lampung kelas XI IPA. Hal ini terlihat dari hasil uji anava dua jalur yang mendapatkan hasil dari model pembelajaran yaitu 0,017, motivasi belajar yaitu 0,000 dan interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar yaitu 0,014 dimana ketiga nilai tersebut lebih kecil dibandingkan 0,05 yang berarti ada interaksi secara signifikan, (2) rata-rata prestasi belajar biologi siswa yang menggunakan model pembelajaran Examples non-Examples
lebih tinggi dibandingkan dengan model pembelajaran Picture and Picture. Hal ini nampak pada uji descriptive
statistics dimana dari perhitungan total rata-rata di atas maka model pembelajaran Examples non-Examples
memiliki nilai total lebih tinggi dibandingkan model pembelajaran
Picture and Picture yaitu 86,32 > 83,64. Dengan demikian H1 diterima yang berarti prestasi belajar dengan menggunakan model pembelajaran
Examples non-Examples lebih tinggi
dibandingkan model pembelajaran
Picture and Picture, (3) rata-rata
prestasi belajar biologi siswa dengan motivasi rendah berbeda antara kedua model pembelajaran, dimana jika dilihat dari hasil uji descriptive statistics untuk motivasi rendah pada model pembelajaran Examples non-Examples
yaitu 78,71 sama dengan model pembelajaran Picture and Picture yaitu 78,71, (4) rata-rata prestasi belajar biologi siswa dengan motivasi tinggi dengan model pembelajaran Examples non-Examples yaitu 93,93 lebih tinggi dibandingkan dengan model pembelajaran Picture and Picture
88,57.
Hasil penelitian ini memiliki implikasi dimana sebaiknya guru biologi di SMA hendaknya mempergunakan model pembelajaran Examples non Examples
dalam proses pembelajaran, dengan urutan pembelajaran sebagai berikut: (1) guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran, (2) guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/LCD, (3) guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisis gambar, (4) melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, prestasi diskusi dari analisis gambar tersebut dicatat pada kertas, (5) tiap kelompok diberi kesempatan membacakan prestasi diskusinya, (6) mulai dari komentar/prestasi diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi
sesuai tujuan yang ingin dicapai, (7) kesimpulan.
Berdasarkan simpulan penelitian dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut: (1) para pendidik perlu melakukan analisis kebutuhan siswa agar pemberian materi pembelajaran dengan model pembelajaranyang tepat dapat lebih sesuai serta menantang bagisiswa. Penerapan model pembelajaran yang tepat mampu mempertahankan focus siswa selama pembelajaran (2) menggunakan model pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik materi pembelajaran. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa model pembelajaran Examples non-Examples
lebih sesuai untuk materi protista dibandingkan Picture and Picture. Hal ini ditunjukkan dengan nilai total rata- rata Examples non-Examples yang lebih tinggi dibandingkan Picture and
Picture, (3) menggunakan model
pembelajaran Examples non-Examples
untuk siswa dengan motivasi rendah karena dapat meningkatkan motivasi siswa dan memberikan kesempatan berinteraksi dengan topic secara lebih baik,(4) menggunakan model pembelajaran Picture and Picture bagi peserta didik dengan motivasi tinggi, sehingga mampu memberikan tantangan lebih dan termotivasi untuk bekerja secara mandiri.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Suprijono. 2009. Cooperatif
Learning Teoridan Aplikasi.
Yogyakarta: Pustaka Belajar
Depdiknas. 2003. Undang- Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Jakarta: Sekretaris
Herpratiwi. 2009. Teori Belajar dan
Pembelajaran. Bandar Lampung:
Universitas Lampung.
Huda, Miftahul. 2013. Model-Model
Pengajaran dan Pembelajaran.
Yogyakarta: Pustaka Belajar Rahman. 2008. Model Mengajar dan
Bahan Pembelajaran. Bandung:
Alqaprint
Riyanto, Yatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran Sebagai Reformasi
Bagi Guru Implementasi
Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas. Jakarta: Kencana. Rohani A. 2004. Pengelola Pengajaran.
Jakarta: Rineka Cipta
Schunk, Dale.H. (terjemahan Eva Hamdiah dan Rahmat Fajar). 2012. Learning Theorie. Edisi Keenam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Surabaya
: Buana Pustaka
Kurniasih, Imas.2015. Model