• No se han encontrado resultados

Visualización de datos

3. COMUNICACIÓN

3.2. Visualización de datos

Studi Kasus:

Bangunan Café Batavia, Candra Naya, dan Kunstkring

Augustinus Madyana Putra, Soesilo Boedi leksono Misty Asmaradahani

Universitas Atma Jaya Yogyakarta Jl. Babarsari 44 Yogyakarta Email : [email protected]

Abstract

The identity of a city can be related to the old buildings that been erected there. Old buildings are the gem of a city, a milestone that accompany the development of that city throughout history. However, the old buildings become the victim of that development itself. The increasing functional demand made the old building a burden to the value and quality of the area surrounds it (pathological urban artifact), thus become a reason to demolish and replace them with the new building. A real effort is needed to change the pathological images into the propelling urban artifact. Design element cultivation strategy used in some old building’s renovation in Jakarta is worth to be observed or even used by other cities. This paper will study three buildings from Kota Tua, Glodok area, and Menteng area. Those buildings have been through its golden age, the age of decay, and finally the revitalization age today.

Keywords: old buildings, pathologycal urban artifact, propelling urban artifact, design elements

Abstrak

Kebertahanan identitas sebuah kota tidak dapat dilepaskan dari bertahannya bangunan lama yang pernah ada di kota tersebut. Bangunan lama ini merupakan artefak kota yang menandai waktu yang pernah dilalui kota tersebut. Namun demikian setelah kota tersebut mengalami perkembangan, kebertahanan bangunan lama ini mendapatkan tantangan baru yang berupa perubahan pesat tuntutan secara fungsional. Bangunan lama yang dipandang tidak memiliki kekuatan yang dapat mewarnai secara positif pada sebuah kawasan (pathologycal urban artifact) akan sangat mudah dihancurkan untuk digantikan dengan bangunan baru. Beberapa upaya nyata sangat diperlukan untuk mengubah persepsi bangunaan lama dari citra negatif menjadi citra yang lebih positif, bahkan mempunyai kekuatan meningkatkan kualitas sebuah kawasan (propelling urban artifact). Strategi pengolahan elemen desain yang diterapkan pada renovasi beberapa bangunan lama di Jakarta menjadi satu hal penting untuk dicermati dan dapat diterapkan di beberapa kasus lain. Studi kasus yang diangkat berupa 3 (tiga) bangunan di kawasan bersejarah yang berlainan, yakni kawasan Kota Tua, Kawasan Glodok, dan Kawasan Menteng. Bangunan-bangunan tersebut pernah mengalami kejayaan di masa lampau, masa ambang kehancuran, dan masa diraihnya kejayaan kembali di saat ini.

Kata kunci:bangunan lama, pathologycal urban artifact, propelling urban artifact, elemen desain

PeNdAhuluAN

Jakarta yang pernah berperan sebagai pusat pemerintahan penjajahan di masa lampau merekam artefak kota yang berupa bangunan-bangunan bersejarah. Ibukota pemerintahan kolonial Belanda pada mulanya berada di kawasan Sunda Kelapa di dalam Benteng Batavia atau Batavia Casteel.

Kemudian Gubernur Marshall Herman Willem Daendels membongkar dinding benteng, dan memperluas pembangunan di sekitar Batavia Casteel yang pada saat ini dikenal dengan Kawasan Kota Tua.

Namun demikian setelah kawasan Sunda Kelapa mengalami penurunan kualitas lingkungannya, pihak pemerintah kolonial memindahkan area administratif dan residensial ke kawasan baru yang disebut dengan New Batavia atau sekarang dikenal dengan kawasan Medan Merdeka dan Lapangan Banteng. Pemindahan pusat pemerintahan ini tidak menyurutkan peran Kota Tua, dan kawasan ini berubah menjadi pusat perniagaan dan jasa. Kawasan tersebut sekarang dikenal dengan Jalan Hayam Wuruk, Jalan Veteran, Jalan Ir. Juanda, dan Jalan Majapahit.

Perkembangan tuntutan fungsional Kota Jakarta yang terus mengalami peningkatan memberikan tekanan pada artefak kota yang ada di kawasan bersejarah. Banyak bangunan bersejarah yang akhirnya dihancurkan untuk digantikan dengan bangunan baru maupun untuk peningkatan kualitas infrastruktur kota.

Satu hal yang sangat menarik untuk dicermati adalah strategi revitalisasi yang diterapkan pada beberapa kasus yang terjadi di beberapa bangunan di kawasan bersejarah. Studi kasus yang dipilih adalah :

1. Batavia Cafe di Kawasan Kota Tua 2. Gedung Candra Naya di Kawasan Glodok 3. Gedung Kunstkring di Kawasan Menteng KAJiAN teori

Urban artifact adalah hasil karya manusia yang terbentuk secara kompleks, yang terakumulasi dari waktu ke waktu dalam

skala besar, baik melalui sejarah maupun bentuk dari wilayah itu sendiri dalam sebuah kota. Aldo Rossi telah merinci urban artifact sebagai blok kawasan, struktur jalan, dan bangunan. Dari ketiga urban artifact tersebut, bangunan merupakan satu elemen yang paling rentan mengalami perubahan.

Urban artifact dibedakan menjadi dua, yaitu propelling urban artifact dan pathologycal urban artifact. Propelling urban artifact adalah artefak kota yang mendorong pembelajaran dan peningkatan nilai kawasan di sekitarnya, sedangkan pathologycal urban artifact adalah artefak kota yang justru menurunkan nilai maupun kualitas kawasan di sekitarnya.

Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan agar bangunan bersejarah ini dapat lebih bertahan dan mempunyai dampak positif bagi kebertahanan identitas kawasan tersebut.

Pembahasan mengenai renovasi bangunan lama ini dirinci seturut dengan lima elemen desain yang berupa fungsi, ruang, geometri, pelingkup, dan tautan (White,1986).

tiNJAuAN KAWASAN Batavia (1887)

Kawasan Sunda Kelapa mengalami perubahan tatanan wilayah setelah kedatangan Daendels di tahun 1808. Pada saat itu Daendels memutuskan untuk memindahkan pusat administratif dan residensial . Kemudian pada tahun 1887 wilayah Batavia sudah menyebar hingga ke area Selatan dan menyebabkan terjadinya penambahan fungsi bangunan di jalur antara Batavia Utara (Kota Tua) dan Batavia Selatan (New Batavia).

Penelitian menggunakan tiga objek, antara lain Cafe Batavia di kawasan Kota Tua, Candra Naya di kawasan Glodok, dan Kunstkring di kawasan Menteng. Ketiga objek tersebut merupakan bangunan pada masa pemerintahan kolonial yang terletak di tiga tempat yang berbeda dengan masa pembangunan yang berbeda. Hal ini disebabkan karena perkembangan kota pada masa tersebut terjadi secara berurutan akibat adanya perpindahan area primer pemerintahan kolonial.

PROSIDING SCAN#8: “EDUCATION...PUTTING ECO-DNA IN OUR KIDS”

Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta, 19 Oktober 2017 ISBN: 978-602-8817-84-4 PROSIDING SCAN#8: “EDUCATION...PUTTING ECO-DNA IN OUR KIDS”

Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta, 19 Oktober 2017

gambar 1. Peta Batavia tahun 1887; Sumber:

dokumen penulis, 2017

1. Cafe Batavia (1830)

Bangunan ini pada awalnya berfungsi sebagai kantor administrasi dan gudang milik VOC pada tahun 1830. Pada tahun 1884, lantai dasar bangunan dijadikan kantor usaha grosir yaitu E. Dunlop & Co.

Kemudian pada tahun 1920 hingga 1930 mengalami perubahan fungsi menjadi kantor jasa “Kongsi Tiga – Kantor Kapal Hadji”.

Memasuki abad ke-20, seorang warga negara Perancis yang bernama Paul Hassan, mengubah bangunan tersebut menjadi sebuah galeri seni yang bernama Paulo Gallery. Dua tahun kemudian seorang berkewarganegaraan Australia yang bernama Graham James merestorasi bangunan ini menjadi restoran dan bar bernama Café Batavia5.

5Scott Merrillees, Jakarta : Postcards of a Capital 1900-1950 (Singapore : Archipelago Press, 2000), hlm. 28

6 Naniek Widayati, “Candra Naya Antara Kejayaan Masa Lalu dan Kenyataan Sekarang (Hasil Penelitian tahun

gambar 2. Café Batavia pada tahun 1970-an Sumber: www.cafebatavia.com diakses 15/09/2017

2. Candra Naya (1934)

Candra Naya dibangun pada tahun Kelinci Api yaitu 1807 oleh Khouw Tian Sek.

Bangunan yang didirikan pada abad ke-19 ini merupakan salah satu dari tiga bangunan berarsitektur serupa yang pernah ada di Jalan Gajah Mada, yaitu Jalan Gajah Mada 168 milik Khouw Tjeng Po yang merupakan gedung Kamar Dagang Tionghoa dan kini menjadi gedung SMA Negeri 2 Jakarta, Jalan Gajah Mada 204 milik Khouw Tjeng Kee yang pernah digunakan sebagai gedung Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok, dan Jalan Gajah Mada 188 milik Khouw Tjeng Tjoan yang kini dikenal sebagai gedung Candra Naya itu sendiri (Rumah Mayor). Saat ini bangunan yang tersisa hanyalah Candra Naya6.

Bangunan ini pernah digunakan sebagai Sin Ming Hui atau Perkumpulan Sinar Baru yang didirikan pada tahun 1946.

Pada tahun 1965 Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa menganjurkan pergantian nama - nama Tionghoa menjadi nama Indonesia, sehingga Sin Ming Hui berganti nama menjadi Candra Naya.

Pada tahun 1990-an bangunan Candra Naya dimiliki oleh pihak swasta.

Setelah melakukan pembongkaran, munculah gelombang protes yang menolak

1994 – 1998)” Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 31 No. 2, 2003, hlm. 89

1

2

3

gambar 1.

Peta Batavia tahun 1887;

Sumber: dokumen penulis, 2017

1. Cafe Batavia (1830)

Bangunan ini pada awalnya berfungsi sebagai kantor administrasi dan gudang milik VOC pada tahun 1830. Pada tahun 1884, lantai dasar bangunan dijadikan kantor usaha grosir yaitu E. Dunlop & Co. Kemudian pada tahun 1920 hingga 1930 mengalami perubahan fungsi menjadi kantor jasa “Kongsi Tiga – Kantor Kapal Hadji”.

Memasuki abad ke-20, seorang warga negara Perancis yang bernama Paul Hassan, mengubah bangunan tersebut menjadi sebuah galeri seni yang bernama Paulo Gallery. Dua tahun kemudian seorang berkewarganegaraan Australia yang bernama Graham James merestorasi bangunan ini menjadi restoran dan bar bernama Café Batavia1.

1 Scott Merrillees, Jakarta : Postcards of a Capital 1900-1950 (Singapore : Archipelago Press, 2000), hlm. 28

gambar 2.

Café Batavia pada tahun 1970-an Sumber: www.cafebatavia.com diakses 15/09/2017

2. Candra Naya (1934)

Candra Naya dibangun pada tahun Kelinci Api yaitu 1807 oleh Khouw Tian Sek.

Bangunan yang didirikan pada abad ke-19 ini merupakan salah satu dari tiga bangunan berarsitektur serupa yang pernah ada di Jalan Gajah Mada, yaitu Jalan Gajah Mada 168 milik Khouw Tjeng Po yang merupakan gedung Kamar Dagang Tionghoa dan kini menjadi gedung SMA Negeri 2 Jakarta, Jalan Gajah Mada 204 milik Khouw Tjeng Kee yang pernah digunakan sebagai gedung Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok, dan Jalan Gajah Mada 188 milik Khouw Tjeng Tjoan yang kini dikenal sebagai gedung Candra Naya itu sendiri (Rumah Mayor). Saat ini bangunan yang tersisa hanyalah Candra Naya2.

Bangunan ini pernah digunakan sebagai Sin Ming Hui atau Perkumpulan Sinar Baru yang didirikan pada tahun 1946. Pada tahun 1965 Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa menganjurkan pergantian nama - nama Tionghoa menjadi nama Indonesia, sehingga Sin Ming Hui berganti nama menjadi Candra Naya.

P a d a t a h u n 1 9 9 0 - a n b a n g u n a n Candra Naya dimiliki oleh pihak swasta.

S e t e l a h m e l a k u k a n p e m b o n g k a r a n , munculah gelombang protes yang menolak dihancurkannya bangunan bersejarah ini.

Tiga bangunan asli sudah dibongkar pada

2 Naniek Widayati, “Candra Naya Antara Kejayaan Masa Lalu dan Kenyataan Sekarang (Hasil Penelitian tahun 1994 – 1998)” Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 31 No. 2, 2003, hlm. 89

tahun 1995, dan saat ini tersisa beberapa blok bangunan yang asli dengan Apartemen Hotel yang mengitari bangunan utama Candra Naya.

gambar 3.

Candra Naya pada tahun 1994;

Sumber: Widayati, 2003

3. Kunstkring (1913)

Gedung ini dibangun pada tahun 1913 oleh arsitek Belanda yang bernama P.A.J.

Moojen. Gedung ini semula digunakan sebagai gedung Lingkaran Seni Hindia – Belanda (Nederlandsch-Indische Kunstkring).

Pemerintah Hindia Belanda menggunakan gedung ini sebagai tempat penyelenggaraan lukisan kelas dunia, antara lain karya dari Van Gogh, Marc Chagall, dan Pablo Picasso.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia di tahun 1942, gedung – gedung kesenian Belanda ditutup. Bangunan ini kemudian difungsikan sebagai Kantor Majelis Islam.

Setelah kemerdekaan RI, Direktorat Jenderal Imigrasi menjadikan Kunstkring sebagai Kantor Imigrasi Jakarta Pusat. Pada tahun 1998 – 1999 gedung peninggalan Belanda tersebut menjadi terbengkalai dan terjadilah penjarahan besar – besaran. Akhirnya pada tahun 2008 pemerintah DKI Jakarta mengambil alih dan bekerja sama dengan swasta. Pada tahun 2013, gedung berubah menjadi Resto Kunstkring Paleis yang dikelola oleh Anhar Setjadibrata. Saat ini koleksi – koleksi warisan keluarga besar Raja Gula Oei Tiong Ham menghiasi interior Kunstkring.

gambar 4.

Kunstkring;

Sumber: www.pinterest.com diakses 15/09/17

ANAliSiS dAN PeMBAhASAN 1. Café Batavia

Bangunan ini didirikan tepat di depan Stadhuisplein (Town Hall Square), gedung pusat administrasi VOC dan dilanjutkan pemerintah kolonial Belanda. Tingginya aktivitas pemerintahan dan perdagangan di lokasi ini menuntut adanya bangunan-b a n g u n a n f u n g s i p e r g u d a n g a n d a n administrasi antara tahun 1830 hingga 1930.

Ruang lantai satu dan dua berbentuk persegi sederhana tanpa sekat, sedangkan ruang tangga ada di sisi kanan bangunan dengan desain cukup lebar yang memungkinkan keleluasaan pergerakan dari lantai satu ke lantai dua.

Pelingkup bangunan yang dominan di sisi depan dan samping kiri kanan lantai dua adalah deretan jendela double. Bagian luar menggunakan jendela krepyak, sedangkan di sisi dalam menggunakan jendela kaca.

Lantai satu menggunakan dinding batu bata yang dilengkapi dengan teras. Teras terbentuk dengan memundurkan dinding eksterior lantai satu dari tepi bangunan. Sedangkan bentuk dasar Café Batavia berbentuk balok dilengkapi dengan limasan.

Seiring berjalannya waktu kawasan pemerintahan, perdagangan dan jasa yang dikuasai pemerintah Kolonial pada saat ini berubah menjadi kawasan wisata. Bangunan yang pada mulanya berfungsi sebagai gudang dan administrasi harus menyesuaikan dengan

89

PROSIDING SCAN#8: “EDUCATION...PUTTING ECO-DNA IN OUR KIDS”

Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta, 19 Oktober 2017 ISBN: 978-602-8817-84-4

tuntutan kawasan Kota Tua, setelah selama beberapa tahun bangunan ini tidak digunakan.

Upaya untuk meningkatkan pamor pada bangunan lama ini dengan cara memasukkan fungsi baru, yakni café. Strategi pengolahan elemen desain adalah perubahan ruang

teras di muka bangunan yang saat ini ditutup dengan kaca, ruang gudang di lantai satu dialih fungsi menjadi area makan, dapur, dan panggung musik. Ruang lapang di lantai dua diubah menjadi ruang diplay foto lama, ruang makan, dan bar.

gambar 5. Analisa bangunan Cafe Batavia Sumber: dokumen penulis, 2017

Pelingkup bangunan yang berupa kombinasi tembok, kayu dan kaca ditampilkan keasliannya untuk mendukung fungsi ini.

Struktur dan konstruksi bangunan tidak mengalami perubahan yang berarti.

gambar 6. Analisa bangunan Candra Naya Sumber: dokumen penulis, 2017

PROSIDING SCAN#8: “EDUCATION...PUTTING ECO-DNA IN OUR KIDS”

Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta, 19 Oktober 2017 muka bangunan yang saat ini ditutup

dengan kaca, ruang gudang di lantai satu dialih fungsi menjadi area makan, dapur,

dan panggung musik. Ruang lapang di lantai dua diubah menjadi ruang diplay foto lama, ruang makan, dan bar.

Gambar 5. Analisa bangunan Cafe Batavia Sumber: dokumen penulis, 2017

Pelingkup bangunan yang berupa kombinasi tembok, kayu dan kaca ditampilkan keasliannya untuk mendukung

fungsi ini. Struktur dan konstruksi bangunan tidak mengalami perubahan yang berarti.

Gambar 6. Analisa bangunan Candra Naya Sumber: dokumen penulis, 2017

PROSIDING SCAN#8: “EDUCATION...PUTTING ECO-DNA IN OUR KIDS”

Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta, 19 Oktober 2017 muka bangunan yang saat ini ditutup

dengan kaca, ruang gudang di lantai satu dialih fungsi menjadi area makan, dapur,

dan panggung musik. Ruang lapang di lantai dua diubah menjadi ruang diplay foto lama, ruang makan, dan bar.

Gambar 5. Analisa bangunan Cafe Batavia Sumber: dokumen penulis, 2017

Pelingkup bangunan yang berupa kombinasi tembok, kayu dan kaca ditampilkan keasliannya untuk mendukung

fungsi ini. Struktur dan konstruksi bangunan tidak mengalami perubahan yang berarti.

Gambar 6. Analisa bangunan Candra Naya Sumber: dokumen penulis, 2017

90

PROSIDING SCAN#8: “EDUCATION...PUTTING ECO-DNA IN OUR KIDS”

Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta, 19 Oktober 2017 ISBN: 978-602-8817-84-4

2. Candra Naya

Fungsi rumah tinggal pada rancangan

Documento similar