DEKOMPOSER TANAH
Aditya Rizky Ramadhan Arman Gaffar, Ismail Syakurrahman Alaydrus Program Studi Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Abstract
The fertile of a soil depends on the thing that called soil decomposer. The soil decomposer are the creatures that decompose the rotten things such as rotten foods, woods, leafs etc. Worms and bacteria are the primer soil decomposer. To measure the soil quality, we have to know that worms are just live in some condition. Worms can be found in acid, humid and a little wet condition. First, we choosed and decided some places where we wanted to analyze around our campus , at canopy sites and at open area sites. After that, we measured the first physical factors, light intensity. Then, we dug a hole in fifthy to fifthy centimeters and fifthy centimeters depth, then we were measured the second physical factors, soil temperature and humidity. Then, we flushed that holes with liquid soap to attract the worms to appear to surface. Whether in canopy nor in open area, we didn’t find any worms or the other soil decomposer. We conclude that the soil around our campus didn’t have the soil decomposers or maybe they hide in deeper soil as we found that the soil were dried.
Keywords : Decomposer, Soil, Worms, Physical, factors PENDAHULUAN
Kualitas suatu tanah sangat bergantung pada berbagai faktor. Salah satunya adalah faktor keberadaan dekomposer tanah sebagai organisme penyubur tanah. Dekomposer tanah dapat berupa cacing maupun mikroba-mikoba tanah atau pun bangsa jamur-jamuran. keberadaan mereka sangat mempengaruhi keadaan tanah, terutama dari segi kualitas tanah, karena mereka bekerja sebagai pengurai yang menguraikan zat-zat kompleks menjadi zat-zat sederhana yang nantinya akan mengisi komposisi tanah, sehingga tanah yang subur dapat tercipta.
Para dekomposer tersebut sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan.
Keberadaan dekomposer pun dapat menjadi indikator suatu keadaan lingkungan. Cacing hanya hidup pada kondisi tanah yang lembab dan sedikit masam. Jamur hanya hidup pada kondisi lembab dan tidak langsung terpapar matahari. Tentunya, keberadaan zat yang diperlukan untuk diuraikan pun juga memengaruhi. Sebagai contoh, kita hanya dapat menemukan adanya jamur pada kayu yang lapuk dan cacing pada tanah yang terdapat bangkai binatang atau pun tumbuhan.
Cacing tanah sendiri dapat dibagi menjadi beberapa tipe berdasarkan tempat hidupnya, yaitu tipe Epigeik, Endogeik dan Anesigeik. Cacing epigeik adalah cacing yang hidup pada bahan organik yang sedang membusuk pada permukaan
tanah. Aktif dipermukaan tanah, berwarna gelap, penyamaran efektif, tidak membuat lubang, kotoran tidak tampak jelas dan tidak mencerna tanah. Cacing endogeik adalah cacing yang jarang muncul ke permukan tanah. Beberapa cacing endogeik menghuni rhizosfir, daerah yang dekat dengan akar tanaman, tempat di mana cacing tersebut akan memakan tanah yang diperkaya dengan akar tanaman yang membusuk, bakteri dan jamur. Hidup di dalam tanah dekat permukaan, membuat lubang yang dalam dan kadang meluas. Kotoran berada di dalam lubang, tidak berwarna, tanpa penyamaran dan mencerna tanah. Cacing anesigeik adalah cacing yang biasanya lebih besar yang membangun lubang- lubang permanen dalam tanah dan muncul di permukaan tanah hanya untuk menarik seresah yang berupa daun-daunan atau bahan organik lain ke dalam lubangnya. Mencerna sebagian tanah, warna sedang pada bagian punggung, penyamaran rendah dan kotoran berada di permukaan tanah atau terselip di antara seresah. Cacing anesigeik aktif bergerak dari permkaan tanah ke bawah permukaan tanah, sehingga dapat mempengaruhi struktur dan konduktifitas hidrolik tanah (Wahyudi, 2010).
Untuk mengetahui ada atau tidaknya cacing tanah sebagai dekomposer yang cukup mudah ditemukan, maka perlu diadakan praktikum. Tujuannya adalah untuk mengetahui keadaan dekomposer tanah dan menganalisa 1 | Jurnal Dekomposer Tanah, No. 1, Vol.1
keberadaannya dengan mengukur berbagai faktor fisik yang dimaksud.
METODE Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan merupakan lokasi tempat melakukan praktek. Tempatnya terbagi atas dua ketentuan, yaitu berkanopi dan di area
terbuka. Praktikan kemudian dibagi menjadi beberapa tim untuk melakukan pengambilan data.
Alat yang digunakan antara lain soil tester, lux meter, soil termometer, botol bersama air akuades, tali yang dibentuk menjadi transek berukuran 50 x 50 cm, sekop atau pacul dan larutan sabun.
gambar 1. Denah lokasi pengambilan data Dekomposer Tanah
Cara Kerja
1. Menentukan Tempat Pengambilan Data.
Tempat yang diperlukan adalah tempat yang berada di atas tanah, berada di bawah kanopi atau tidak, dan yang mudah untuk dilakukan penggalian.
2. Mengalibrasi Alat.
Setiap alat harus dikalibrasi agar menghasilkan data yang sesuai. Soil tester dikalibrasi dengan mencuci ujung bawah alat dengan air bersih dan dikeringkan dengan tissue atau kapas. Lux meter dikalibrasi dengan cara dibawa ke tempat gelap atau rendah intensitas cahayanya hingga alat menunjukan angka 0 (nol).
Soil termometer dikalibrasi dengan cara dicuci dengan air bersih dan didiamkan
hingga raksa dalam termometer menurun ke 0 (nol).
3. Menggali Tanah dan Mengambil Data Fisik.
Tanah digali membentuk persegi dengan kedalaman 50 cm. Lalu, alat-alat seperti soil tester dan soil temperatur dioperasikan secara bergantian di tanah yang digali tadi, sambil Lux meter juga dioperasikan terhadap intensitas cahaya yang ada.
4. Memancing Dekomposer Tanah untuk Keluar ke Permukanan.Larutan sabun disiramkan di dalam lubang galian tadi.
Tujuan untuk memancing cacing tanah agar keluar menuju permukaan. Setelah itu, dihitung berapa jumlah cacing yang keluar.
2 | Jurnal Dekomposer Tanah, No. 1, Vol.1
Paramter Pengamatan
Pengamatan dilakukan berdasarkan jumlah cacing yang keluar saat dilakukan penyiraman larutan sabun. Parameter yang diamati adalah :
a Jumlah cacing yang keluar.
Tanah dikatakan baik apabila jumlah dekomposer yang keluar per 50 cm kedalaman cukup banyak, yaitu diatas 10 ekor cacing. Sebaliknya, tanah dikatakan tidak baik jika dekomposer yang keluar per 50 cm kedalaman hanya sedikit atau tidak ada sama sekali.
b Jenis cacing yang keluar.
Tipe cacing yang keluar menentukan jenis cacing yang hidup di wilayah tersebut dan dapat dianalisa makanan apakah yang diuraikan oleh cacing tersebut.
Rancangan percobaan
Rancangan percobaan dengan cara menuangkan larutan sabun pada lubang yang dibuat. Ditunggu selama 2 sampai 3 menit untuk mentukan cacing apakah yang akan keluar dari tanah.
Analisis data
Data dianalisa dengan melogikakan serta menyejajarkan data yang ada dengan data dari literatur-literatur terpercaya sehingga dapat diambil kesimpulan. Untuk data jumlah dan tipe cacing, menggunakan literatur dari internet.
HASIL PENGAMATAN DAN
PEMBAHASAN Data Hasil Faktor Fisik
Dari data yang didapatkan, terlihat perbedaan antara pengambilan data pada area berkanopi dengan yang tidak. Area berkanopi memiliki rata-rata suhu yang lebih rendah dari area yang tidak berkanopi. Selain suhu, intensitas cahaya juga lebih rendah dari rata-rata suhu yang ada di area tidak berkanopi. Namun, justru sebaliknya pada kelembaban dan pH tanah yang justru lebih tinggi dibandingkan dengan area tak berkanopi. Area berkanopi memiliki suhu rata-rata sebesar 28,3 ºC, sementara yang tidak berkanopi rata-rata sebesar 31,6 ºC. Intensitas Cahaya rata- rata di area berkanopi sebesar 5,298 KLx, sementara di area tak berkanopi sebesar 30,348 KLx. Area berkanopi memiliki kelembaban tanah rata-rata sebesar 1,88%, sementara di area tak berkanoi rata-rata sebesar 1,14%. Pada area berkanopi, pH tanah memiliki rata-rata sebesar 6,78 dan di area tak berkanopi sebesar 6,74.
Area Berkanopi
Kelompok Suhu (ºC) pH Kelembaban (%) Intensitas Cahaya
(KLx)
1 29 6,8 5 0,48
2 28 6,7 1 0,01
3 28,5 6,8 1,3 1,41
4 28 6,9 1,1 0,14
5 28 6,7 1 24,45
χ 28,3 6,78 1,88 5,298
Area Tidak Berkanopi
Kelompok Suhu (ºC) pH Kelembaban (%) Intensitas Cahaya
(KLx)
1 30 6,9 1,2 19,27
2 31 6,9 1 15,42
3 34 6,9 1,5 10,69
4 31,5 6,5 1 75,89
5 31,5 6,5 1 30,47
χ 31,6 6,74 1,14 30,348
Tabel 1. Tabel hasil pengambilan data faktor fisik
Dari data, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa keadaan fisik tanah di lingkungan Kampus adalah tidak terlalu panas,
cukup kering, memiliki pH yang mendekati netral dan lux cahaya yang jauh berbeda antara dibawah kanopi dengan yang di area terbuka. Artinya, 3 | Jurnal Dekomposer Tanah, No. 1, Vol.1
kondisi tersebut cukup nyaman kehidupan manusia.
Analisis Jumlah dan Bentuk Cacing yang didapat Kelompok
Jumlah dan tipe cacing hingga kedalamana 50 cm di area
berkanopi
Jumlah dan tipe cacing hingga kedalaman 50 cm di area tak
berkanopi
1 0 0
2 0 0
3 0 0
4 0 0
5 0 0
Tabel 2. Data hasil jumlah pengumpulan cacing yang ditemukan
Dari data diatas, ditemukan bahwa tidak satu pun cacing yang berhasil ditemukan. Jenis- jenis cacing tanah menyukai kondisi tanah yang lembab dan sejuk. Jika kelembaban tanah dalam bukaan berada di bawah batas, ia cenderung berpindah ke lapisan tanah yang lebih dalam, lebih lembab dan lebih sejuk. Arthropoda seperti serangga yang bertahan pada lingkungannya, bukan merupakan jenis-jenis yang lebih tahan pada suhu dan intensitas cahaya tinggi. Jenis-jenis yang sensitif biasanya akan menyingkir ke tempat yang lebih tertutup (Rahmawati, 2011).
Cacing tanah dapat hidup pada suhu antara 15 ºC hingga 31 ºC, kelembaban antara 12,5 % hingga 17,5 % dan pH antara 6 hingga 7,2 (Anonymous, 2010). Sesuai pada paragraf sebelumnya, maka bisa dipastikan cacing tanah yang tidak ditemukan bukan mengartikan bahwa kondisi tanah di kampus tidak subur atau tidak baik, karena ada kemungkinan bahwa cacing yang dicari berada di bawah kedalaman 50 cm. Atau pun bisa juga, tidak ditemukan cacing bertipe epigeik namun bisa jadi sebenaranya ada cacing jenis endogeik yang masih ke bawah menembus tanah yang lembab dan sejuk.
Cacing epigeik adalah cacing yang hidup antara kedalaman tanah 0 cm – 8 cm. Endogeik adalah tipe cacing yang hidup di kedalaman 45 cm lebih dan tipe Anesigeik adalah cacing yang hidupnya diantara keduanya namun sering muncul ke permukaan untuk mencari makanan atau bertelur. Ketiga jenis ini kemungkinannya hanya jenis epigeik yang tidak ditemukan, namun pada tipe endogeik atau anesigeik sebenarnya masih dapat ditemukan, hanya saja pada kedalaman yang lebih dalam lagi (Anonymous, 2010).
KESIMPULAN
Dari seluruh pengamatan yang dilakukan dan hasil pelogikaan, menemukan bahwa ada kemungkinan cacing yang dicari masih jauh di
dalam tanah karena kondisi tanah yang kurang lembab. Lingkungan sekitar kampus belum bisa dibilang tercemari karena perlu dilakukan pengamatan lebih lanjut agar dapat diketahui benar atau tidaknya dekomposer tanah yang dimaksud.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.indonesiaorganic.com/detail.php?
id=304&cat=116.diakses pada 27 Oktober 2015 Rahmawati, A. 2011. Genetically modified organism.Jakarta
Wijayanti, Dr. Fahma. Hidayat, K. Mardiansyah, M.Si. Modul praktikum ekologi dasar.
UIN Jakarta. Jakarta.
Wharta, Y. 2010. Praktikum Dasar Ilmu Tanah.
Universitas Brawijaya. Malang
4 | Jurnal Dekomposer Tanah, No. 1, Vol.1